34 (morotin ridho)

664 56 20
                                        

Ridho merasa sangat kesal dan lelah karena harus mentraktir semua sahabatnya. Uang jajan yang dia bawa, yang seharusnya cukup untuk seharian, kini sudah habis hanya karena Santo dan Fahri yang terus menambah makanan.

"Dho, nambah batagor ya!" teriak Fahri dengan senyum lebar.

"Kagak, oi! Uang jajan gua hari ini cuma 100 ribu, dan udah habis buat lu berdua!" jawab Ridho dengan kesal, matanya menyipit.

"Minta lagi sama bapak lu, lah!" jawab Santo, tanpa merasa bersalah.

"Bapak gua ke luar negeri!" jawab Ridho, makin kesal.

"Lu kayak zaman peradaban kuno aja, kan sekarang ada ATM, jadi bisa transfer!" Fahri menjelaskan seolah-olah Ridho nggak tahu.

"Bapak gua bilang sehari 100 ribu, oi!" Ridho semakin frustrasi.

"Yah, maaf kalau dihabiskan sama kita berdua," ujar Fahri sambil tersenyum santai.

"Pak ketu traktir!" teriak Fahri, sambil menunjuk Bisma.

"Lu malak mulu, Ri!" ucap Danel, sambil menatap Fahri.

"Perjanjian tadi sama pak ketu," jawab Fahri dengan percaya diri.

"Gua udah pesenin batagor buat lu, Ri," kata Bisma, mencoba meredakan suasana.

"Jangan teriak-teriak lagi, gua lagi pusing," keluh Bisma, menaruh wajahnya di atas meja.

Fahri bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Bisma yang sedang duduk dengan teman-teman lainnya.

"Gua kira lu nggak bisa pusing," Fahri bercanda, sambil duduk di samping Bisma.

"Daripada kayak lu yang tiba-tiba ngilang gitu aja selama dua bulan," jawab Bisma, dengan nada sarkastik.

"Saat itu gua masuk RSJ," jawab Fahri, sambil tersenyum.

Ujang yang sedang menumpahkan sambel terdiam sesaat, bahkan tempat sambelnya jatuh ke mangkok, sementara teman-teman sekelas Fahri yang ada di dekat situ menatapnya dengan tatapan iba.

"Eh, lu jadi orang gila gitu?" tanya Anita, dengan ekspresi khawatir.

"Iya, gua ketawa-ketawa sendiri malah," jawab Fahri, sambil mengangkat bahu.

"Karena apa lu?" tanya Ujang, penasaran.

"Banyak hal," jawab Fahri, dengan nada serius meskipun wajahnya santai.

"Lu kalau cerita suka telat, ngeselin sumpah," ucap Bisma, dengan wajah kesal.

"Pusing napa sih lu?" tanya Fahri, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

"Bapak gua kena PHK di tempat kerja, jadi selama seminggu ini gua masih cari jalan buat beasiswa di kampus," jawab Bisma dengan suara pelan, seolah-olah beban berat sedang menghimpitnya.

"Bapak lu ada pengalaman di bidang apa?" tanya Fahri, penasaran.

"Hah, maksud lu apaan?" tanya Bisma, bingung.

"Akhir pekan kalau nggak sibuk, ke rumah gua aja," jawab Fahri, memberikan tawaran tulus.

"Rizky tahu rumah gua kok," jawab Fahri, menyebut nama temannya yang memang tahu betul rumahnya.

"Gua cuma mau bantu lu doang, karena sering traktir gua," ujar Fahri, sambil menepuk pundak Bisma dengan penuh perhatian.

Fahri kemudian beranjak pergi dan menuju meja untuk memakan batagor yang sudah dipesankan oleh Bisma.

Jam istirahat masih berlangsung, dan Fahri mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ayahnya, Angelo. Suasana kantin yang sibuk dan riuh sejenak terhenti saat Fahri berbicara dengan serius di telepon.

Fahri (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang