Seblak

76 23 1
                                        

Siang ini cuaca mendadak mendung membuat beberapa mahasiswa malas berangkat ke kampus, tak terkecuali Nay. Dia sudah bersiap sejak tadi namun belum juga berangkat. Sesekali keluar sebentar untuk memeriksa cuaca di luar kemudian kembali masuk ke kamar bermain handphone. Melihat itu, Ona lantas menghampiri sahabatnya.

Nay, temenin beli seblak yok!

"Na, udah dibilang jangan sering jajan di luar apalagi yang pedes gitu." Ona memanyunkan bibirnya sembari bersandar di pintu kamar Nay.

"Ahh lagi bm pengen seblak." Rengeknya membuat Nay menghela napas panjang. Sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali mengalah.

"Gue ada kelas abis ini, Lo mau gue anter? Tapi pulang sendiri ya." Ona mengangguk antusias. Dia hanya perlu tumpangan keluar gang. "Yaudah buruan siap-siap."

Ona bersemangat karena akhirnya bisa makan seblak. Nay sendiri merasa ada yang aneh, belakangan ini Ona lebih sering datang ke kamarnya. Dia juga jarang bersama Adis. Penasaran, Nay mencoba memeriksa kamar Adis, sekedar untuk memastikan keberadaan penghuninya. Benar saja, ternyata Adis tidak ada di sana. Belakangan ini Adis sepertinya sibuk praktek wajar kalau jarang pulang ke kos.

"Ngapain Lo disini? Adis udah pulang?" Nay hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Ona.

"Gue mastiin doang dia di kos apa engga. Siapa tau mau nitip makan." Ona hanya mengangguk pelan. "Dia masih praktek?"

"Kayaknya sih gitu." Hanya itu yang bisa Ona katakan karena dia juga tak tahu apapun tentang Adis.

"Yaudah ayok berangkat keburu telat." Ona mengangguk dengan penuh semangat. Dia bahkan menggandeng Nay ke parkiran.

Seperti apa yang dikatakan sebelumnya, Nay hanya mengantar Ona ke penjual seblak langganan karena dia ada kelas. Ona juga tak masalah terlebih saat tahu di sana ada Harsa. Bahkan Ona sampai mengabaikan Nay yang pamit berangkat kuliah. Menyadari itu, Nay hanya bisa menghela napas dan berlalu pergi. Setidaknya Ona tidak bosan sendirian menunggu pesanannya. Mengingat di sana ada Harsa.

"Eh Harsa, sendirian aja?" Tegur Ona disambut senyuman Harsa.

"Eh Ona, iya nih." Ona hanya berharap wajahnya tidak memerah karena senyuman Harsa. "Sini duduk." Harsa beranjak dan memberikan kursi plastik untuk Ona.

"Ahh ga usah, gue bisa berdiri kok." Tolak Ona dengan senyuman manis.

"Gapapa, lagian punya gue juga hampir jadi. Lo duduk aja biar ga capek nunggunya." Bagaimana Ona tidak jatuh hati kalau Harsa tidak se-gentle ini.

"Ahh okede, thankyou." Harsa hanya mengangguk pelan.

Mbak kayak biasa kan? seblak toping baso, level 11 kan?

"Iya mbak." Ona mengkonfirmasi pesanannya membuat Harsa melongo.

"Lo beli level 11?" Harsa tampak kaget mendengar pesanan Ona. Yang ditanya mengangguk penuh percaya diri. "Perut Lo aman kan?"

"Hahaha santai. Gue udah biasa beli level 11." Harsa mengangguk pelan.

"Beli susu buat jaga-jaga kalo kepedesan." Ona membeku beberapa saat sebelum mengangguk pelan. Harsa memang sebaik itu. "Punya gue udah jadi, duluan ya."

"Iya hati-hati." Ona melambaikan tangan sembari tersenyum manis.

Bohong kalau Ona tidak senang bisa berinteraksi dengan Harsa. Terlebih belakangan ini dia jarang sekali berpapasan dengan Harsa di kampus. Dia sampai tidak bisa mengendalikan diri, khawatir orang-orang menyadari dirinya sedang senyum-senyum sendiri. Ona memutuskan memainkan handphone-nya. Padahal dia hanya membuka galeri dan memeriksa hal random lain.

YOUTHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang