"kenapa kamu mengucapkan kata itu lagi?apa kamu mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan lagi?bukankah kakak bilang untuk mengabaikannya?"
"Tidak,tadi hanya..kata acak saja"
"Kata acakmu menyeramkan"
"Kak..aku tidak bisa tidur"
"Sudah berapa lama itu terjadi?"
"Sejak...lama"
"Eung,kakak paham"
Asta mendekat,membuka sepatunya terlebih dahulu dan menarik Netha pelan untuk membenarkan cara tidurnya yang aneh.
Dia sengaja pulang lebih pagi dari biasanya karena Netha,tidak tahu pulang-pulang akan mencium bau aneh dari kamar keponakannya yang membuatnya panik tanpa alasan yang nyata.
Sebetulnya dia juga tahu Netha tidak bisa tidur,raut wajahnya tidak sebaik dulu,mendengar kali ini dia mau bicara mau tak mau dia merasa senang dan akan mendengar semua...apa yang sebenarnya dia bayangkan.
"Ayo cerita,aku mendengarkan"
Netha menunduk,dia menceritakan semua hal yang dia pikirkan dan rasakan saat ini.
Sementara Asta mendengarnya dengan tanpa terlewat sedikit pun,sekali-kali tersenyum dan mengangguk,membiarkan Netha tahu bahwa dirinya mendengarkan semua tentangnya.
Asta berpikir,hal ini sudah seharusnya ditangani oleh psikiater,dia tidak tahu akan separah itu hingga keponakannya merasa tidak bisa membedakan mana yang nyata atau mimpi jika tengah tertidur.
Apalagi mimpinya selalu berhubungan dengan kejadian itu,seharusnya sejak awal dirinya tahu tidak akan ada bekas yang langsung menghilang,ditambah Netha masih remaja yang belum bisa mengatasi apapun.
"Netha..ayo pergi ke psikiater"
"Sekarang?"
"Eung,ini masih sore"
Netha mengangguk,membuka lemarinya dan pergi mandi untuk membersihkan diri bersiap pergi,sementara Asta menelepon seseorang yang dikenalnya diluar sana sambil menyiapkan makanan.
Selang beberapa menit Netha keluar,dia duduk didepan meja dan menunggu pamannya keluar dari kamar karena mungkin dia saat ini dia juga tengah mengganti pakaiannya.
"Netha kamu makan duluan,aku ada sedikit urusan disini"
Netha melihat pamannya yang mengobrak-abrik meja kerja,mencari kertas putih dengan ponsel yang menempel di telinganya pertanda dia tengah mendengarkan seseorang sehingga harus dicatat.
Melihat ini Netha putuskan untuk makan lebih awal, sekali-kali melirik pamannya yang mengangguk tanpa henti dan mendorong matanya jika terasa longgar.
Barulah ketika semuanya benar-benar siap,Netha duduk dibagian penumpang kedua motor milik Asta,mengencangkan jaket miliknya saat angin menerpa dengan terang-terangan tubuhnya yang meski sudah tertutupi sedikit oleh pamannya tetap saja belum ada kehangatan di seluruh tubuh.
Helm yang dia kenakan juga terasa sedikit longgar,terkadang akan miring dan membuat kepala bagian sampingnya terasa berat dan merasa aneh.
Dia sungguh harus merasa bersabar.
Dalam perjalanan yang cukup panjang,motor baru berhenti saat Netha ingin sekali turun dan pingsan,didepan sebuah rumah yang memiliki kesan aneh ketimbang rumah-rumah lainnya.
Pamannya menyuruhnya untuk menunggu sebentar,baru ketika seorang perempuan keluar dengan senyum manisnya Netha segera mendekat kesamping pamannya dan hanya memandangnya tanpa mau membalas senyuman.
YOU ARE READING
𝙏𝙃𝘼𝙍𝙀𝙔 ||𝙫𝙞𝙧𝙩𝙪𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙚𝙩𝙞𝙣𝙜||
Jugendliteratur"𝐓𝐇𝐀𝐑𝐄𝐘 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐮𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐢 𝐯𝐢𝐫𝐭𝐮𝐚𝐥𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐩𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐚𝐧 ". **** "𝙏𝙃𝘼𝙍𝙀𝙔:𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙠𝙙𝙞𝙧,𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙖...
