Chapter 19

1 0 0
                                        

Blessing poem

Vaniaa:
Ada yang bisa ngehubungin Netha nggak?

Samuel:
Gue juga tadi ngirim pesan,centang satu

Aska:
Gue juga(。•́︿•̀。)
Padahal mau ngomong

Id:Leon_Neon
Kok kalian udah pada kenal sama newbie sih?gue aja belum

Vaniaa:
Lu sibuk sih sama eskul Pramuka 😤

Samuel:
Sayang banget Lo nggak bisa kenal Netha😏

Aska:
Cih!padahal gue juga mau ngomong gitu Sam😑

Vaniaa:
Dia nggak berangkat sekolah
.·'¯'(>▂<)'¯'·.
Gimana ni?kalo ada apa-apa dirumahnya gimana?

Id:Leon_Neon
Ngapa sih?paling dia nggak punya kuota atau hapenya bermasalah

Vaniaa:
Tapi dia nggak berangkat sekolah juga...
Gue takut (˘・_・˘)

Samuel:
Kerumahnya aja

Vaniaa:
Udah kok,tapi sepi nyenyet,makanya gue takut

Aska:
Ahhh...padahal gue mau ngomong sama Netha hiks!yaampun my Butterfly Netha
༎ຶ‿༎ຶ

Vaniaa:
( ͡°ᴥ ͡° ʋ)

•••

Klub Voli hari ini diistirahatkan sementara,jadi selesai bel pulang Sensei dan Asta-san langsung meluncur menggunakan motor ke rumah sakit yang sebelumnya Bram beritahu.

Tidak ada yang istimewa selama perjalanan,namun Sensei dapat merasakan raut wajah masam orang dibelakangnya yang menggonceng.

Sesampainya disana,Asta langsung berjalan cepat menuju ruang rawat inap,disana dia juga dapat melihat Bram dengan raut wajah kusam sambil menggenggam pelan jari anaknya.

"Netha pingsan atau bagaimana?"

"Ah?Astaga,ini karena obat biusnya masih bekerja,sepertinya sebentar lagi juga akan bangun"

"Apa yang kamu lakukan selama ini?aku sudah melihat semua laporannya yang kakak berikan,hanya menonton ketika melihat Netha dilukai?oh...atau kamu juga sebetulnya punya dedikasi juga?"

"Jangan salah paham,kamu pikir selama ini dengan apa saya memberikan uang setoran sekolah Netha?"

"Lalu dengan begitu kamu bisa mengelak?setidak peduli apa kamu hingga tidak menyadari rasa sakit?jujur saja bahwa kamu sebetulnya juga tidak peduli kan?sama seperti dirimu yang lalu-lalu,masih tidak berguna"

"Astaga-san,ini rumah sakit tahan dulu semua emosinya,apalagi Netha juga tengah istirahat kan?bicarakan saja diluar gedung"

"Huh!nasib buruk apa yang Netha buat hingga lahir dari kedua orangtuanya ini?"

Sensei menarik Asta kebelakang,lebih tepatnya ke kursi dan membiarkan rekan kerjanya duduk sambil mengatur emosinya yang bisa kapan saja meledak dan membuat ruangan ini menjadi kacau.

Pekerjaan menunggu memang melelahkan,namun untuk ketiga orang yang memiliki kekhawatiran tentu bisa dianggap menunggu adalah hal mudah.

Hingga waktu dimana Netha terbangun,diiringi ringisan kesakitan yang membuatnya merasa seperti dibanting berkali-kali oleh sesuatu yang menyengat dikepalanya.

Ketika Dokter memeriksanya,tidak ada kesalahan lain selain bahwa Netha menerima Trauma yang cukup besar,baik trauma dari tubuh dan psikologis mentalnya.

Asta memandang Bram yang mendengar semua arahan dokter dengan penuh perhatian,baginya kekhawatiran yang dirasakan oleh kakak iparnya itu sudah tidak berguna lagi melihat Netha yang saat ini terbaring dengan mata yang lebih memilih memandang langit-langit daripada harus mencari dimana ibunya bersembunyi.

  𝙏𝙃𝘼𝙍𝙀𝙔 ||𝙫𝙞𝙧𝙩𝙪𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙚𝙩𝙞𝙣𝙜||       Where stories live. Discover now