[Sudah Terbit + Masih Lengkap]
_______________________________________
"Dalam hitungan ketiga, kita lari."
"Sat -
"TIGA! LARI!"
"WOI KAMPRET! TUNGGUIN GUA!"
Tidak pernah terbayangkan jika kehidupan membosankan mereka tiba-tiba saja berubah menjadi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"To, ini kita mau kemana?" Jeongwoo nampak kebingungan karena Haruto terus membawa nya berlari menelusuri hutan seperti sudah tau jalan nya.
"Kubah," jawab Haruto cepat dan fokus melihat ke sekeliling.
"Hah! Lo tau jalan nya?"
"Gue tau,"
"Tau dari mana lo? Ngelindur yah?"
"Kagak yah njir, gue tau dari Mama sama Papa. Sebelum kita pergi dari toko, gue nyoba nelpon Papa dan ternyata di angkat." tutur Haruto menceritakan awal mula dia tau jalan menuju Kubah.
"Papa sama Mama udah ada di Kubah, mereka juga udah nyiapin tempat buat kita." sambung nya.
"Terus mereka gimana?" celetuk Jeongwoo memikirkan teman-teman nya. Tetapi Haruto diam saja dan terus berjalan.
"To, jawab gue!" sentak Jeongwoo pada saudara kembar nya itu.
"Gue ngga tau, tempat itu cuman cukup buat kita doang. Dan kita harus cepet kesana," jawab Haruto akhirnya.
"Gila lo, anjing!" umpat Jeongwoo secara refleks. "Turunin gue!"
"Ngga,"
"Gue bilang turunin gue!" Jeongwoo memukul dan menjambak Haruto agar menurun kan nya.
Dan akhirnya Haruto menurun kan adik kembar nya itu. "Kenapa sih? Kita harus cepet kesana sebelum Kubah itu di tutup,"