××××
____
Hidup di dalam kemegahan mansionnya Jeno—Jaemin tak pernah memiliki masalah sedikit pun. Mereka hidup tenang, nyaris terlalu tenang, juga damai—meskipun damai dalam pengertian yang dingin dan berjarak. Damai yang lahir bukan dari cinta, melainkan dari ketidakpedulian yang disepakati tanpa pernah diucapkan.
Lebih tepatnya, mereka terlalu bodo amat dan memilih menutup mata terhadap urusan satu sama lain. Ketidakpedulian itu menjadi tembok tinggi yang membuat konflik jarang tercipta. Tak ada pertengkaran, tak ada benturan emosi—karena tak ada perasaan yang benar-benar dilibatkan. Dan karena itulah, keduanya hidup tentram sampai saat ini, seperti dua penghuni rumah megah yang sekadar berbagi atap, bukan kehidupan.
Tak pernah terlihat sekalipun kedua insan itu bercengkrama akrab atau berbagi pendapat layaknya pasangan pada umumnya. Duduk berdampingan sambil bertukar cerita terasa seperti sesuatu yang terlalu mustahil untuk diwujudkan. Saling memecahkan masalah, atau sekadar menyarankan sebuah pendapat tentang satu hal sederhana pun terasa seperti melanggar aturan tak tertulis di antara mereka.
Mereka hanya fokus pada urusan masing-masing, berjalan di rel kehidupan yang sejajar namun tak pernah saling bersinggungan, tanpa ada niat sedikit pun untuk mencampuri dunia satu sama lain.
Di awal Jaemin memasuki mansion itu, Jeno hanya berkata—datar, tenang, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Hiduplah di sini dengan tenang. Aku tahu bahwa kita memang tidak nyaman dengan pernikahan politik ini—jadi aku tidak akan mengganggumu sama sekali. Hiduplah semaumu, aku tidak akan melarang apa pun."
Kata-kata itu terdengar seperti kebebasan, namun bagi Jaemin, kebebasan itu terasa hambar—tanpa makna.
"Termasuk memiliki seorang kekasih?"
Jaemin bertanya bukan tanpa alasan. Ia tak sudi menghabiskan sisa hidupnya bersama seseorang yang bahkan tak pernah singgah di hatinya. Pernikahan ini terlalu asing untuk disebut rumah.
Jeno mendelik ke arahnya, sorot matanya berubah tajam sesaat sebelum kembali meredup, lalu berkata dengan nada tetap terkendali.
"Hal itu—aku tak menginginkan rumor buruk datang pada keluargaku. Kau yang menyebabkan masalah, dan citra keluargaku yang akan mendapatkan dampaknya."
"Itu hanya akan menyakiti harga diri kebangsawananku. Kau harus hati-hati dalam bertindak, Jaemin-ah."
Tanpa memberi jeda, lelaki berparas tampan itu kembali melanjutkan kalimatnya, seakan kata-kata barusan belum cukup menusuk.
"Aku pun sama—tak akan mencari masalah ataupun melakukan satu hal yang mencemari nama baik keluarga kita. Jadi terimalah nasibmu itu, Jaemin. Karena bagaimanapun juga, meski kita tidak saling mencintai—kita sudah ditakdirkan hidup bersama hingga akhir nanti."
Wajah Jaemin langsung menekuk. Kata-kata itu jatuh seperti hujan es—dingin, keras, dan menyakitkan.
Jeno menyadarkannya sekali lagi, layaknya bom yang meledak tanpa aba-aba—bahwa ia memang tidak diberi kesempatan untuk mencintai orang lain.
Garis tangan seolah sudah tertulis di langit, dan semua rencana hidupnya tak pernah tercatat, apalagi disetujui, oleh jalan takdir yang kejam.
Nasibnya berkata bahwa hidupnya harus terikat bersama orang itu—seorang duda tak berperasaan yang bahkan masih terjebak di masa lalu, mencintai pasangan terdahulunya dengan cara yang menyedihkan.
Jaemin tak dapat membayangkan jalan seperti apa lagi yang menunggunya di depan sana.
Apakah hidupnya hanya diharuskan untuk menonton dan mengamati bagaimana suaminya terus meratapi kepergian mantan pasangannya, hari demi hari, tanpa pernah benar-benar melihat Jaemin sebagai manusia yang hidup di hadapannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
