Mansion Na tengah dilanda kegaduhan siang itu.
Udara yang biasanya tenang kini dipenuhi langkah tergesa, suara panggilan yang saling bersahutan, dan wajah-wajah panik yang mondar-mandir tanpa arah. Putra tunggal keluarga Lee—Lee Jisung—menghilang tanpa jejak.
Di antara begitu banyak orang yang tinggal dan bekerja di mansion megah itu, tak satu pun yang benar-benar tahu ke mana anak itu pergi.
Tak ada yang melihatnya keluar. Tak ada yang mendengar permintaan izin. Seolah Jisung lenyap begitu saja, ditelan siang yang terlalu sunyi.
Begitu pula dengan pengasuhnya.
"Mia, bagaimana bisa kau seteceroboh ini?" suara Jaemin meninggi, dingin namun sarat amarah. "Kenapa kau tidak becus menjaga Jisung?"
Amarah itu tumpah pada perempuan muda di hadapannya—namun Jaemin tahu, kemarahan itu tak akan mengembalikan Jisung. Fakta paling menyakitkan tetap sama: sudah hampir satu jam mereka mencari, dan anak itu belum ditemukan.
"A-ampun, tuan..." suara Mia bergetar, matanya berkaca-kaca. "Saya hanya meninggalkannya sebentar. Hanya sebentar... tapi saat saya kembali, tuan muda sudah tidak ada."
"Sebentar?" Jaemin tertawa getir. "Sebentar yang terlalu lama untuk anak sekecil dia."
"Kau yakin... kau benar-benar yakin dia pergi bersama anak perempuan itu lagi?" tanya Jaemin, suaranya kini lebih pelan, namun justru terasa lebih menekan.
Mia mengangguk ragu.
Sejak rumor penculikan anak berhembus di kota itu, kegelisahan Jaemin tumbuh tanpa kendali. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang pernah dibicarakan Jeno—dan tanpa sadar, Jaemin mulai menyematkan prasangka buruk pada perempuan yang bahkan belum pernah ia kenal. Ketakutan menutup logikanya.
Dan ada satu hal lain yang membuat dadanya semakin sesak.
Jeno belum tahu.
Jaemin menggigit bibirnya. Ia harus menemukan Jisung sebelum suaminya kembali dari ibu kota. Jika Jeno tahu—ia tak berani membayangkan kemarahan lelaki itu. Atau lebih buruk, tatapan dinginnya.
Dari arah gerbang, Somi berlari menghampiri dengan napas terengah.
"Tuan Na!" serunya nyaring.
Jaemin segera mendekat. "Bagaimana? Kau menemukan Jisung?"
Dengan wajah basah oleh keringat dan ekspresi putus asa, Somi menggeleng.
"Tidak, tuan. Aku sudah bertanya ke setiap sudut rumah penduduk, bahkan ke pasar. Tidak ada satu pun yang melihat anak dengan ciri-ciri seperti yang kusebutkan."
Jaemin memejamkan mata sejenak.
"Kenapa dia tidak mengatakan apa pun padaku... Jisung tidak mungkin diculik, bukan?" suaranya bergetar. "Apa yang harus kukatakan pada Jeno nanti? Dia pasti akan menyalahkanku. Dia pasti bilang aku lalai."
Pikirannya semakin kalut. Tanpa ragu lagi, Jaemin mengambil keputusan.
"Aku akan mencarinya sendiri."
"Tu-tuan!" Mia dan Somi berseru bersamaan.
"Biar kami ikut." Mia maju setapak. "Ini salahku. Aku tidak bisa membiarkan Anda pergi sendiri."
"Benar," timpal Somi. "Di luar tidak aman, tuan. Akhir-akhir ini kota dipenuhi kejahatan. Bukan hanya penculikan anak—pembunuhan bangsawan pun sedang marak."
Jaemin terdiam, lalu mengangguk tegas.
"Baik. Siapkan dua penjaga mansion. Kita pergi sekarang."
Tak ada waktu untuk ragu. Jika ia terlambat sedikit saja, ia takut tak akan pernah menemukan Jisung lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
