Malam kelabu, gemercik hujan turun mengiringi. Hujan jatuh satu per satu seperti bisikan langit yang sedang berduka, membasahi bumi dengan irama pelan namun menghantam perasaan. Perasaan gundah menyelimuti, menggantung di udara, menyesakkan dada siapa pun yang terjaga. Suasana malam yang pas untuk menemani seorang Lee Jeno yang saat ini tengah mengingat masa lalunya—masa yang tak pernah benar-benar pergi dari benaknya.
Rindu—pada sosok dia yang selalu mengisi relung hatinya tanpa pernah bisa terganti, rindu yang diam-diam menggerogoti kewarasannya.
Andai saja—menjadi sebuah kata penuh harapan yang terus muncul dalam otaknya, berulang, berputar, tak pernah lelah menyiksanya. Andai saja waktu itu Jeno mengerti dan paham pada semua maksud isyarat yang dia sampaikan. Uluran tangannya yang tidak pernah ia gapai kini berubah menjadi bayangan pahit, menjadi sebuah penyesalan yang mendalam hingga membuat Jeno kehilangan akan sosoknya, sosok yang begitu dicintainya, sosok yang tak pernah sempat ia pahami sepenuhnya.
Air bening pada sorot mata sayu yang selalu memandangnya terus terbayang, menancap kuat di ingatannya, membuat detak jantungnya seakan berhenti berdetak, sesak dan terasa sakit, seolah setiap tarikan napas adalah hukuman.
Jeno terlalu bodoh saat itu sampai tidak pernah tahu bahwa ada suatu hal jahat yang selalu mengejar istrinya. Kebodohan yang kini berubah menjadi luka terbuka. Bagaimana Jeno bisa sebuta itu? Sedangkan istrinya berusaha sendirian untuk mendapatkan perlindungkan di sini, di tempat yang seharusnya menjadi rumah paling aman baginya.
Jeno pernah sekali melihatnya menangis namun dia tidak pernah menyangka bahwa dia tengah menangisi kematian yang akan segera menghampirinya, kematian yang datang tanpa ampun.
Saat itu istrinya berkata padanya.
"Sayang, jika satu saat nanti aku pergi jauh, tolong jaga jisung untukku. Aku minta maaf"
Dikira hanya sebuah candaan namun itu menjadi kata-kata terakhir yang dia dapatkan darinya. Perih dirasa karena sebagai seorang suami Jeno tidak bisa melindungi keluarga kecilnya. Dan membiarkan istrinya menderita sendirian di masa lalu tanpa ia ketahui, tanpa pernah ia sadari.
"Kenapa orang itu terus mengejarmu dan membuatmu mati? Pada akhirnya aku menjadi seorang idiot karena sama sekali tidak tahu apapun tentangmu."
"Aku yang tidak pernah bisa mengerti tentang dirimu, dan semua isyarat itu~
"...A-ya...kau terlalu sulit untuk kupahami."
"Apa yang harus kulakukan?"
Cklek
Pintu kamar terbuka dan Jaemin masuk ke dalamnya dengan tungkainya yang berjalan mendekat ke arah Jeno kemudian duduk di dekatnya. Langkahnya pelan, seolah tak ingin mengusik luka yang sedang terbuka.
Hening—hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka berdua, menyusup di sela napas, menjadi saksi bisu dari kesedihan yang tak terucap.
"Hujannya sangat deras." Jaemin bersuara membuka obrolan, suaranya ringan namun sarat makna.
"hmmm." Jeno menanggapinya dengan sebuah gumaman.
Jaemin memandang ke langit luar, sebuah kilatan muncul di antara gelapnya awan yang hitam. Bulan dan bintang seakan bersembunyi karena ketakutan. Kilatan itu saling beradu menghadirkan suara guntur yang menggelegar dengan berisik, memecah keheningan.
Dalam kedinginan ini, Jaemin merasakan kegelisahan yang mulai menyelimutinya. Cuaca seolah akan memberikan sebuah tanda kabar buruk padanya, sebuah firasat yang tak bisa ia tepis.
"Wanita itu sudah melarikan diri, kau tidak bisa menangkapnya lagi." Jaemin berkata dengan nada yang pelan dan santai, Jeno melirik ke arahnya.
"Orang-orangku masih memburunya, dia pasti akan tertangkap." Jawab Jeno tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
