Mereka akhirnya tiba di tempat tinggal Jaemin. Mobil berhenti perlahan di halaman luas yang dulu terasa begitu akrab, namun kini terasa asing di hati Jaemin. Ia turun bersama Jisung, disusul Jeno yang berdiri tak jauh di samping mereka.
Namun bukan hanya mereka bertiga yang datang. Jeno membawa Mark—asisten pribadinya yang telah lama bekerja setia di sisinya. Selain itu, Mia, pengasuh dari putra tunggalnya, turut ikut serta untuk memastikan Jisung tetap dalam pengawasan. Sedangkan Jung Hana—pelayan pribadi Na Jaemin—ditinggalkan di mansion Lee, diberi tanggung jawab menjaga seluruh rumah selama mereka tinggal di kediaman keluarga Na.
Pintu utama rumah itu terbuka perlahan, menampilkan seorang pelayan yang segera menyambut mereka. Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, mata pelayan itu langsung berkaca-kaca. Dadanya naik turun menahan haru—karena yang datang adalah Na Jaemin.
Tuan Muda mereka.
"Tuan!! Akhirnya Anda datang~." suara itu bergetar, sarat rindu yang selama ini dipendam.
Jaemin tersenyum di tempatnya, lalu tanpa ragu merentangkan kedua tangannya. Rupanya, ia pun memendam kerinduan yang sama dalam-dalam.
"Somi..." panggilnya lirih. "Lama sekali kita tidak bertemu."
Kata-kata itu bergetar saat tubuhnya tenggelam dalam pelukan wanita itu. Pelukan yang terasa seperti pulang—seperti menemukan kembali bagian hidup yang telah lama hilang.
"Bagaimana kabar Anda, Tuan?" Somi bertanya sambil berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. "Semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda."
Jaemin justru semakin mempererat pelukannya. Sebelum menikah, Somi adalah orang yang mengurusnya—pelayan pribadi sekaligus teman dekat sejak kecil. Dalam hidupnya yang kian terasa hampa, Somi adalah salah satu kenangan yang masih terasa hangat.
Bagaimana tidak merindukannya?
Sejak pernikahannya, Jaemin merasa seperti kehilangan kehidupannya sendiri. Ada seseorang yang mengambil alih segalanya—waktu, pilihan, bahkan kebahagiaannya. Dan Jaemin sadar, ada sesuatu yang telah direnggut darinya... mungkin selamanya.
"Lalu bagaimana denganmu di sini?" Jaemin melepaskan pelukan itu perlahan. "Apa kau baik-baik saja?"
Somi mengangguk pelan, senyumnya bercampur haru. "Saya baik, Tuan. Selain merindukanmu, saya juga mengurus kakek di sini."
Jaemin terdiam. Nama itu kembali mengusik hatinya.
"Kakek..." bisiknya. "Di mana dia? Kenapa kakek tidak menyambut kami?" tanyanya, nada suaranya berubah cemas.
"Kakek sedang beristirahat," jawab Somi lembut. "Kesehatan beliau akhir-akhir ini menurun."
Jaemin terkejut. Jantungnya seakan berhenti sesaat. Ia bahkan tidak tahu kakeknya sedang sakit. Pandangannya refleks beralih ke arah Jeno yang berdiri di sampingnya.
"Kau bahkan tidak mengatakan apa pun padaku," ucap Jaemin pelan, nada kecewanya jelas terdengar.
Jeno mengerutkan kening. "Aku juga tidak tahu kakekmu sakit. Tak ada kabar lain selain surat itu—tentang kerinduannya padamu."
Jaemin berdecak pelan, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah pergi lebih dulu, langkahnya tergesa menuju kamar kakeknya.
"Kakek!" serunya.
Ia membuka pintu kamar itu dengan cepat. Di sana terbaring seorang lelaki berusia renta, mengenakan jubah tidur, tubuhnya tampak rapuh di atas ranjang besar yang dulu selalu terasa menakutkan baginya.
Jisung ikut masuk, berlari kecil menyusul Jaemin yang sudah berada di sisi ranjang.
Tangan lembut Jaemin menggenggam tangan kasar lelaki yang telah membesarkannya sejak kecil—tangan yang penuh keriput, namun masih terasa hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fan-FictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
