Beautifil Target #11

1.6K 154 6
                                        

Jaemin baru saja diperiksa dan beruntungnya tidak ada masalah yang serius dengan kondisi tubuhnya hingga membuat Jeno bisa bernafas lega untungnya tadi dengan sigap Jeno bisa langsung menopang tubuh Jaemin sebelum laki-laki itu benar-benar jatuh.

Jeno masih berdiri di dekat ranjang, telapak tangannya gemetar meski napasnya perlahan kembali teratur. Ia menatap tubuh Jaemin yang terbaring pucat, selang infus menggantung seperti pengingat bahwa semuanya nyaris terlambat.

"Aku hampir kehilangannya..." gumam Jeno lirih, nyaris tak terdengar.

"Apa yang akan terjadi jika saja tadi perutnya terbentur lantai, mungkin akan ada masalah dengan kandungannya. Kau harus lebih memperhatikannya lagi Jen apalagi di usia kandungannya yang masih sangat muda." Renjun mengoceh dihadapan lelaki itu.

Nada Renjun terdengar tegas, campuran antara profesi dan kepedulian yang tak bisa ia sembunyikan.

"Kau pikir aku tidak takut?" Jeno membalas pelan, matanya tak lepas dari wajah Jaemin.

Renjun adalah teman karib Jeno, sebagai lulusan seorang Dokter saat ini dia menjadi Dokter pribadi untuk keluarga Lee.

"Jaemin masih belum memberi tahuku." ungkap Jeno mengeluh.

"Aku bahkan tidak tahu apa-apa, Ren," lanjutnya dengan suara serak. "Aku suaminya... tapi aku orang terakhir yang tahu."

"Mungkin dia berencana memberitahumu, tapi kejadian buruk malah terjadi. Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Renjun.

Jeno memijat pelipisnya pelan. "Aku lengah sampai tidak memperhatikan hal-hal kecil. Sudah berapa minggu usia kandungannya?"

Renjun pada akhirnya hanya mendesah pelan. "Baru masuk minggu ke empat. Kasihan Jaemin sampai kapan kau akan bersikap seperti ini terus?"

"Kau menyiksanya tanpa sadar," tambah Renjun lirih.

"Jangan mencoba untuk mengaturku Ren." sergah Jeno.

Nada itu dingin, namun Renjun tahu—itu hanyalah pertahanan.

Renjun menganggukkan kepalanya. "Iya dari dulu kau memang sangat keras kepala sekali. tapi— kau tidak akan membiarkan Jaemin bernasib sama seperti dia kan?"

Wajah tegas Jeno tiba-tiba menegang. "Tidak akan pernah, aku tidak akan kehilangan untuk kedua kalinya."

Kalimat itu keluar seperti sumpah yang ditahan terlalu lama.

"Oleh karena itu jangan membawa parasit ke dalam rumahmu, atau rumah tanggamu benar-benar akan hancur."

Cklek

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok seseorang yang masih merupakan teman karib dari Jeno, Mark.

Mark Lee berjalan ke arah mereka lalu tersenyum ke arah Renjun yang duduk di samping ranjang yang saat ini tengah Jaemin tiduri.

"Sayang."

Renjun lantas memeluk kekasihnya dengan hangat.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" sahutnya.

Mark mengusap rambut Renjun dengan gerakan pelan. "Lancar, masih ada beberapa kasus yang harus kutangani." jawabnya.

"Aku ingin mengobrol sebentar dengan Jeno." tambah Mark, kemudian Renjun melonggarkan pelukannya sampai ia akhirnya melepaskan diri dari Mark.

"Kalian, selalu saja main rahasia. Bisakah berbagi juga denganku. Mungkin aku juga bisa membantu" Renjun berkata penuh jengkel, seolah dia diabaikan.

Mark hanya memberi senyum kecil padanya lalu mengedipkan sebelah matanya pada Renjun.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang