Lee Hajin, Lee Minji. Adalah nama lengkap dari kedua anak kembar yang telah dibawa oleh aktris teater itu ke dalam mansion Lee.
Nama itu terucap seperti dua gema yang tiba-tiba memantul di dinding besar rumah bangsawan, membawa jejak masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Keduanya anak yang berumur satu tahun diatas Jisung itu tampak takjub dengan kemegahan yang tersaji di depan mata mereka. Untuk pertama kalinya mereka masuk ke dalam rumah bangsawan kelas atas.
Langkah kecil mereka tertahan, mata membulat, seolah lantai marmer dan langit-langit tinggi itu adalah dunia lain yang selama ini hanya hidup di dongeng.
Keduanya sama-sama tak menyangka, bahwa ayah mereka adalah seorang bangsawan. Tentu saja ada rasa bangga yang menyelimuti kedua anak kecil itu.
"Jadi... ini rumah ayah?" bisik Minji pelan, nyaris tak percaya.
Hajin tersenyum lebar, dadanya mengembang oleh rasa unggul yang baru saja lahir.
Leee Hajin kemudian menangkap sosok Jisung yang tengah berdiri tak jauh dari mereka lantas ia meminta adiknya Minji untuk sama-sama mendekatinya.
"Itu dia," ujar Hajin lirih, matanya menyipit penuh minat. "Anak itu."
Jisung disana menyadari kedatangan kedua orang itu, meski pada awalnya mereka tampak akrab namun saat ini setelah mengetahui bahwa kedua anak itu merupakan putra lain dari ayahnya sendiri Jisung tiba-tiba menjauhkan diri. Anak itu menjadi lebih murung dari biasanya.
Tatapan Jisung meredup. Senyumnya hilang seperti cahaya yang dipadamkan paksa.
Dia sedih, ia memiliki saudara dari Ibu yang berbeda. Dia juga cukup dewasa dan mengerti bahwa wanita yang telah datang ke rumahnya itu merupakan wanita simpanan ayahnya.
"Kenapa harus seperti ini..." gumam Jisung dalam hati, menunduk.
Hajin dan Minji sama-sama menatap jahil dan kedua anak itu berniat untuk mengerjai Jisung.
Ada kilat licik yang sama di mata mereka—seolah penderitaan orang lain adalah permainan.
"Jisung! aku tidak tahu ternyata kita adalah saudara bersikap baik-baiklah pada kami berdua, sekarang kami ini adalah kakakmu." Seru Hajin berucap dengan nada meremehkan.
Nada itu sengaja ditekan rendah, sarat ejekan yang menusuk.
Jisung tak memberikan respon apapun, dia tidak ingin menanggapi kedua anak yang memang tidak tahu diri itu. Jisung benci dan tak ingin mendekatkan diri lagi pada kedua anak tersebut.
Ia memilih diam—namun diamnya adalah perlawanan.
Pada akhirnya Jisung berlalu pergi ingin menjauhkan diri dari Hajin dan Minji— tapi kedua anak kembar itu yang merasa tidak ditanggapi malah menjadi kesal melihatnya. Niat Jahat mulai terselubung dalam diri mereka.
"Dia pikir bisa mengabaikan kita," desis Hajin.
Minji tersenyum kecil, mengangguk pelan.
Hajin mengode pada Minji dan anak perempuan itu yang mengerti akan isyarat yang diberi oleh kakaknya lantas dia langsung menghadang Jisung didepannya.
"Kau mau pergi kemana adik kecil?" Sergah Minji bersama dengan tampang mengejek. "Tidak ingin bermain bersama kami lagi?" Tanyanya lagi.
Nada suaranya manis, tapi niatnya busuk.
Jisung menyingkirkan tubuh kecil perempuan itu dari hadapannya. "Menyingkirlah! Kelas kita itu berbeda siapa kalian beraninya menyuruhku bergabung dengan orang rendahan seperti kalian?" geramnya.
Kata-kata itu keluar tajam—lebih tajam dari usia Jisung seharusnya.
Hajin dan Minji sama-sama terkejut. Jisung tiba-tiba menjadi orang yang berbeda dari yang pernah mereka temui sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
