Menangis dalam diam kini telah menjelma menjadi rutinitas yang dilakukan Jaemin setiap hari—sebuah kebiasaan sunyi yang bahkan dirinya sendiri tak pernah benar-benar siap menjalaninya. Air mata itu jatuh tanpa suara, tersembunyi di balik dinding tebal mansion yang megah, seolah dunia tak pernah diberi kesempatan untuk mengetahui betapa remuknya hatinya. Bahkan Jeno, lelaki yang secara sah menjadi pasangan hidupnya, tak pernah benar-benar menyadari—atau mungkin tak pernah ingin menyadari—kesedihan yang terus menggerogoti jiwa Jaemin. Lelaki itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, tampil dingin, acuh, dan cuek, seakan kepedulian bukan lagi bagian dari dirinya sejak awal pernikahan itu terjadi.
Walaupun sebenarnya Jaemin telah memperlihatkan kesengsaraannya dengan sangat jelas di hadapan mereka semua—mata yang sembab, tubuh yang semakin ringkih, senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya—namun orang-orang yang tinggal di rumah itu seolah memilih untuk menutup mata. Air mata Jaemin tak pernah dianggap sebagai luka, melainkan hanya bagian dari pemandangan harian yang membosankan.
Mereka yang melihat justru menjadikannya bahan tertawaan. Terlebih ketika menyaksikan hubungan canggung yang terjalin antara dirinya dan tuan mereka. Hidup Na Jaemin perlahan berubah menjadi tontonan, sebuah drama tanpa jeda yang selalu diputar ulang. Hubungan yang tak pernah terbangun dengan baik bersama suaminya itu menjadi bahan pembicaraan yang tak pernah menemukan ujung. Di setiap sudut mansion, bisikan-bisikan bergaung, menertawakan nasib seorang nyonya yang tak pernah benar-benar diinginkan. Dari sekian banyak orang di rumah megah itu, sungguh tak ada satu pun yang peduli padanya.
Dan Jaemin selalu merasa hidup sendirian di sana—sendirian di tengah keramaian, sendirian di rumah yang terlalu besar untuk sebuah hati yang rapuh.
Seperti saat ini, ketika Jaemin kembali meneteskan air matanya, tepat setelah Jeno mencapai puncak kepuasannya. Napas lelaki itu terdengar berat, geramnya menyatu dengan hangat tubuh Jaemin, sementara Jaemin sendiri yang berada dalam rengkuhannya justru merintih pelan. Tak ada desah kenikmatan, tak ada keinginan yang sama—hanya isakan tertahan yang kembali ia telan dalam diam.
Dengan wajah datar tanpa sedikit pun rasa bersalah, Jeno menatap sosok Jaemin yang terkapar lemah di bawahnya. Semalaman berlalu, dan yang tersisa hanyalah tubuh yang kelelahan serta hati yang semakin kosong.
Jeno menangkup dagu Jaemin dengan ibu jarinya, memaksanya mendongak.
"Tatap aku," ucapnya dingin. "Jaemin, kita harus melakukannya. Kita adalah pasangan yang sudah menikah. Aku sah melakukan ini padamu."
Tak ada jawaban. Jaemin terjebak dalam pikirannya sendiri. Hidupnya kini terasa seperti milik orang lain. Segala hal yang ia lakukan bukan lagi berasal dari keinginannya. Pernikahan politik ini adalah belenggu yang ia benci, dan menyerahkan hidupnya pada seseorang yang telah ia benci sejak pertemuan pertama adalah luka yang tak pernah sembuh.
"Bisakah kau mengubah sorot matamu?" lanjut Jeno dengan nada tak sabar. "Aku tak suka tatapanmu. Kau menatapku seolah aku sedang memperkosamu."
Ucapan itu menarik Jaemin kembali ke kesadarannya. Dengan tatapan keji yang tak pernah ia sembunyikan, Jaemin menepis tangan Jeno dari dagunya.
"Kenapa kau selalu melakukan ini, Jen?" suaranya lirih namun bergetar. "Kau bukan pemilik hatiku. Dan aku pun bukan milikmu."
Jaemin benar-benar membenci sikap Jeno—pemaksaan yang selalu dibungkus dengan dalih status. Tubuhnya digunakan tanpa persetujuan, tanpa empati. Selalu seperti ini, dan selalu berakhir dengan kehampaan.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Jaemin mendorong tubuh Jeno hingga tautan di antara mereka terlepas. Ia lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menarik napas panjang seolah baru saja selamat dari tenggelam.
"Lalu jika aku meminta izin," Jeno bertanya sinis, "apa kau akan memberikannya?"
Gerakan Jaemin terhenti. Tangannya yang tengah mengenakan atasan bergetar halus. Ia menoleh ke arah Jeno sambil kembali mengancingi bajunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
