Gelap dan kosong, sama sekali tak ada cahaya yang masuk ke dalam—hanya nuansa warna hitam yang mengelilingi sekitar ruangan tempat keberadaannya saat ini, di sebuah ruangan kosong yang begitu tampak asing dan sekaligus terasa familiar, seolah pernah ia kenal namun tak mampu ia ingat.
Matanya terus berkeliling ke sekitarnya. Sejak kapan ia ada di sini? Kenapa Jaemin tak mengingatnya? Dia terkunci, dan tak ada pintu untuk jalan keluar. Jaemin terkurung, terjebak dalam ruang tanpa arah, dan tidak bisa melarikan diri ke mana pun.
Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun tidak beraturan, dia dipenuhi oleh rasa panik yang memuncak dan menekan. Kapan perasaan tak jelas ini datang? Jaemin tidak tahu kenapa, dan tidak tahu pula apa yang tengah terjadi pada dirinya sendiri.
Kemudian Jaemin memandang ke seluruh tubuhnya. Kemeja putih dan celana panjang yang tampak senada itu kini sudah membalut tubuhnya, bersama dengan sebuah pisau yang bersimbah darah, telah melumuri benda tajam itu dengan warna merah pekat. Tangan Jaemin seketika bergetar hebat, gemetar yang tak mampu ia kendalikan.
"Kenapa ini? Apa yang terjadi?" Semua pertanyaan tak jelas dan membingungkan kembali menyerang kepalanya bertubi-tubi. Jaemin tidak dapat mengingat situasi apa yang terjadi padanya sekarang, seakan ingatannya sengaja direnggut.
Jaemin melemparkan benda tajam itu ke lantai dan seketika berteriak kencang. Dia jelas tahu warna merah apa yang telah melumuri pisau itu. Darah.
Darah manusia. Apa dia telah melakukan suatu hal yang jahat? Tidak mungkin! Jaemin menutup telinganya dan semakin berteriak~
"JAEMIN!"
Mata pun terbuka, menampakkan suasana cerah berwarna putih di sekelilingnya. Jaemin terdiam bersamaan dengan napasnya yang cepat dan berderu, terasa sakit dan menyesakkan di dada.
"Jaem, kau baik-baik saja?" Suara suaminya terdengar jelas dan pelan di samping telinganya. Jaemin lalu mengatur napasnya, berusaha kembali tenang.
Dia kembali pada kenyataan. Hanya ilusi rupanya. Tapi bayangan itu terasa nyata, hingga setiap detail yang ia lihat tadi masih terus membayanginya. "Apa hanya mimpi? Kenapa terasa begitu nyata."
"Jen—"
Tangan Jaemin mengerat dalam genggaman Jeno, dan Jeno merasakan getaran tubuh Jaemin yang menyampaikan ketakutan padanya tanpa perlu kata-kata.
Jeno mempertahankan genggaman tangannya.
"Kenapa aku seperti telah melakukan suatu hal yang buruk di masa lalu?"
Jeno terdiam, lalu menghapus sisa keringat istrinya. "Mimpi buruk? Itu hanyalah bunga tidur, Jaem. Hari ini kau sudah tidur seharian penuh." Jeno mengecup kening Jaemin dengan lembut.
Jaemin seolah tidak percaya. "Seharian?" tanyanya lemah. Jeno mengangguk. "Renjun datang dan kembali merawatmu lagi, kau pingsan tadi."
"Untungnya bayi kita baik-baik saja."
Jeno memeluk Jaemin di tempat tidur mereka, erat dan menenangkan.
"Bagaimana dengan Jisung?" Pikiran Jaemin malah teralihkan pada anak kecil itu, rasa khawatirnya tak bisa ditepis.
"Mia masih menjaganya di sana, demamnya masih belum turun. Kenapa kalian malah sakit seperti ini." Untuk pertama kalinya Jaemin mendengar rengekan Jeno. Biasanya lelaki itu bersikap sebagai pria tangguh yang tidak suka mengeluh.
"Sekarang aku sudah baik-baik saja." Ucap Jaemin memastikan, meski hatinya belum sepenuhnya tenang.
Di sisi lain, Jaemin masih mengingat tentang Karina. Sejak kedatangan wanita itu, rumah menjadi kacau balau. Dia harus disingkirkan sesegera mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
