Tidak hanya sekali ternyata, namun Jaemin kembali menerima surat aneh yang terus berdatangan kepadanya. Surat-surat itu datang tanpa suara, tanpa jejak, seolah muncul dari bayangan yang tak pernah tersentuh cahaya. Herannya, surat-surat tersebut sudah tersimpan rapi di atas nakas tempat tidurnya, tertata seolah memang sengaja diletakkan di sana. Jeno tidak pernah tahu dan hanya Jaemin yang kebetulan terus menemukan surat itu, sendirian, dalam diam, tanpa saksi.
Jaemin membukanya dan membaca kembali isi bacaan dari surat tersebut.
Aku sudah ada di sini dan aku akan merebut kembali apa yang sudah kau dapatkan.
Hati-hati dengan sekitarmu.
Deg.
Singkat—namun tajam, seperti pisau yang langsung menancap ke jantung. Tubuh Jaemin seketika terasa kaku, darahnya seolah berhenti mengalir. Seseorang dari masa lalu mungkin akan kembali, pikiran itu menyeruak tanpa bisa dicegah. Apakah benar dia kembali? Tapi seseorang yang telah mati tidak akan bangkit dan hidup kembali. Logika berusaha menenangkan, sementara firasat justru menjerit.
Dengan cepat tangannya kembali memasukkan kertas itu ke dalam amplop dan dengan segera Jaemin menyimpannya, seolah berharap ancaman itu ikut terkunci bersama kertas tipis tersebut.
Jaemin berusaha untuk tenang dan gerak-geriknya tidak menimbulkan kecurigaan pada siapa pun, karena hanya dia yang tahu tentang surat itu. Sebuah rahasia yang kini menjadi bebannya sendiri.
Dia ingat pada perkataan Hana saat menceritakan hari kematian sang mendiang. Pemakaman hanya dihadiri oleh segenap keluarga inti, tak ada kerabat atau rekan bisnis keluarga yang datang. Jeno melakukan pemakaman istrinya secara tertutup dan hanya dia yang bisa melihat mayat istrinya yang tersimpan dalam peti. Tidak tahu alasannya, tapi Jeno melarang semua orang untuk melihat jenazah istrinya.
Pernyataan itu menimbulkan kecurigaan pada Jaemin hingga membuatnya kembali penasaran. Kenapa Jeno sampai melarangnya?
Gotcha! Ada sesuatu yang tengah Jeno rahasiakan dari semua orang.
Jaemin merasa bahwa detak jantungnya berdetak lebih cepat, berpacu tak beraturan. Fakta-fakta itu saling berkesinambungan, saling terhubung seperti potongan teka-teki yang mulai membentuk gambaran utuh. Tentang dia—yang faktanya selalu dibohongi. Hal itu membuat Jaemin seketika mengepalkan tangannya kuat.
Semua orang sengaja mengelabuinya, tapi kenapa? Apa hal itu juga dilakukan atas perintah Jeno? Lalu apa alasannya?
Jaemin memejamkan matanya—
Dia memikirkan tentang perjodohan mereka, dan dia sadar pernikahan mereka dilakukan untuk tujuan tertentu, bukan sekadar ikatan dua hati.
Jeno sengaja membawanya masuk ke dalam rumah ini karena sebuah alasan. Dia yakin sekali, dan Jeno telah menyembunyikan sesuatu darinya. Bisa jadi Jaemin memiliki peran tersendiri dalam pengungkapan misteri yang terjadi di masa lalu. Tapi—Jaemin sama sekali tidak tahu apa-apa.
Atau dia hanya dijadikan umpan saja untuk memancing si penjahat yang masih belum diketahui? Kemungkinan besarnya memang seperti itu.
Jaemin merasa bahwa selama ini dia hanya diperlakukan seperti seseorang yang bodoh, yang tidak diperbolehkan untuk tahu dan mengerti apa pun.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia sangat pusing memikirkan semuanya?
Tubuh lemah Jaemin ambruk dan dia terduduk di atas tempat tidur dengan dadanya yang terasa kian tertusuk, seperti ada sesuatu yang menghimpit dari dalam.
Jawaban yang pahit dari atas segala pertanyaannya kini terjawab. Jaemin ingin sekali melarikan diri dan segera terbebas dari masalah ini.
Bagaimana jika tangisan Jeno selama ini juga ternyata sandiwara? Dia tahu bahwa istrinya masih hidup dan dia juga mencarinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
