Mansion Lee sedang kedatangan banyak tamu hari ini dan sebagian besar para tamu yang datang adalah kaum bangsawan yang merupakan kolega dari suaminya, Na Jaemin dan Lee Jeno sebagai tuan rumah menyambut kedatangan mereka secara hangat.
Langit siang itu cerah, secerah senyum yang terpaksa dipertahankan Jaemin di wajahnya. Gaun yang dikenakannya berkilau lembut, seolah ikut menyambut setiap langkah para tamu yang melewati pintu utama mansion Lee. Jeno berdiri di sisinya—tegak, berwibawa, dan dingin—menjalankan peran sebagai tuan rumah yang sempurna.
"Pastikan semua tamu dilayani dengan baik," bisik Jeno pelan, nyaris tanpa menoleh.
Jaemin mengangguk. "Tentu," jawabnya lembut, meski dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak mampu ia beri nama.
Tamu-tamu kehormatan terus berdatangan termasuk keluarga besar dari suaminya yang saat ini sudah sampai di mansion Lee. Na Jaemin sebagai menantu segera memberikan salamnya pada kedua mertua beserta kakak iparnya.
Langkahnya mantap, meski jantungnya berdegup tak beraturan. Di hadapan keluarga besar Lee, Jaemin selalu merasa seperti tamu yang sedang diuji.
"Salam hormat untuk ayahanda dan Ibunda." Jaemin langsung membungkuk hormat penuh santun.
Nada suaranya lembut, terukur, seperti doa yang diucapkan dengan hati-hati.
Jaemin memandang ke arah Jaehyun dan Taeyeong yang menyusul tiba di hadapan mereka berdua. "Salam untukmu juga kakak ipar."
Ramah tamah ditunjukkan oleh kedua orang itu pada Jaemin dan segera membalas sapaannya. "Salam juga untukmu adikku bagaimana kabarmu ?" Taeyong menyapa Jaemin penuh kelembutan.
Nada Taeyong selalu menenangkan, seolah ia tahu Jaemin membutuhkan kehangatan itu.
Jaemin membalas dengan senyuman ramahnya. "Baik, bagaimana denganmu kak?"
"Sama baiknya." balasnya.
"Lihatlah! Kau semakin cantik saja nak." Eunhyuk merangkul Jaemin yang tersipu.
Pelukan itu hangat, namun membuat Jaemin sedikit canggung. Ia tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rasa kikuknya.
"Berhentilah menggodanya bu." Jeno menyeletuk di samping Jaemin.
Nada suaranya datar, nyaris dingin.
"Sejak dulu kau memang hebat dalam mimilih pasangan." goda eunhyuk pada putranya.
"Bu..."
Jeno tersinggung disana merasa tak suka dengan candaan ibunya. Rahangnya mengeras, matanya berkilat tak nyaman.
"Jangan dianggap terlalu serius ibumu hanya bercanda." kali ini Donghae yang membuka suaranya di depan Jeno sambil menepuk bahu putra bungsunya.
"Dimana cucuku sudah lama aku tak menggendongnya." Eunhyuk kembali menyahut sambil pandangannya memandang ke sekitar mencari Jisung.
"Dia bersama pengasuhnya." Jawab Jaemin.
Nada Jaemin terdengar ringan, meski di baliknya tersimpan kelelahan yang panjang.
Lantas Eunhyuk segera memisahkan diri dari mereka untuk menemui cucunya yang diikuti oleh Jaemin dan Taeyeong.
Langkah mereka menjauh, meninggalkan Jeno dan Jaehyun yang berdiri saling berhadapan.
Jaehyun kemudian mendekatkan diri ke arah Jeno.
"Aku melihat ada jarak antara kau dan Jaemin, apa hubungan kalian baik-baik saja?" Jaehyun mengutarakan rasa penasarannya pada adiknya.
"Apa maksudmu hyung? hubungan kami baik-baik saja."
Jeno menjawab dengan tenang tanpa rasa gugup, namun matanya bergerak gelisah.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
