Walau rasanya teramat sakit ketika tidak diingat oleh orang yang paling dicintai, namun setidaknya itu masih lebih baik daripada harus benar-benar kehilangannya. Tidak apa jika hanya Jeno yang mengingat seluruh kenangan indah itu sendirian—menyimpannya rapat di relung hati yang paling sunyi. Setidaknya, Jeno akan baik-baik saja selama Na Jaemin masih ada di sampingnya, bernapas di dunia yang sama. Namun, apa yang bakal terjadi jika saja saat itu dia benar-benar mati? Pertanyaan itu terus menghantui. Jeno tidak pernah tahu apakah dirinya masih sanggup menjalani hidup tanpanya, tanpa Jaemin yang menjadi poros seluruh dunianya.
Dan benar.
Nyatanya, segalanya berubah ketika Jaemin akhirnya kembali—dan ketika Jeno dipaksa memulai semuanya dari awal lagi. Saat Na Jaemin hanya menatapnya dengan mata asing, tanpa kehangatan, tanpa pengenalan, bahkan berbalik membencinya. Jaemin berubah menjadi sosok yang begitu dingin untuknya, seolah seluruh masa lalu mereka tak pernah benar-benar ada.
Tidak ada seorang pun yang tahu betapa frustrasinya Jeno kala Jaemin tiba-tiba menolak pernikahan ulang mereka. Yang ia terima hanyalah kebencian—tatapan tajam dan kata-kata yang menoreh lebih dalam daripada pisau. Seandainya saja saat itu Jeno bisa mengatakan bahwa mereka pernah hidup bersama, bahwa mereka pernah saling mencintai dengan cara yang begitu utuh, apakah Jaemin tidak akan memandangnya seperti itu lagi? Apakah Jaemin akan kembali mencintainya?
"Kakek, bagaimana bisa kau menikahkanku dengan seorang duda seperti dia? Aku tidak mau. Aku tidak bisa menerima perjodohan ini."
Jeno mendengarkan obrolan itu dari kejauhan. Sebuah pernyataan yang membuat dadanya terasa seperti diremas kuat, tepat saat ia datang melamar. Ia tidak pernah menyangka bahwa yang akan ia terima saat itu bukanlah harapan, melainkan penolakan yang begitu telak.
Penolakan itu membuat amarahnya meluap, hingga pada akhirnya Jeno berubah menjadi sosok yang lebih keras dan memaksa. Sebuah sikap yang justru menumbuhkan kebencian Jaemin menjadi berlipat-lipat, semakin jauh dari pelukannya.
Namun di balik semua itu, sebenarnya Jeno diliputi keraguan yang tak pernah terucap. Seiring dengan ingatan Jaemin yang hilang, apakah perasaannya juga ikut pudar? Atau jangan-jangan, sejak awal Jaemin memang tidak pernah menaruh rasa padanya? Segalanya menjadi kabur, meninggalkan Jeno terjebak dalam kebingungan yang panjang. Sejauh ini, Jeno tidak pernah benar-benar tahu apa-apa.
Tangisan Jaemin yang selalu ia lihat kala mereka masih hidup bersama terus menghantuinya. Isak yang tertahan, air mata yang diseka diam-diam—semuanya menjadi salah satu sumber keraguannya. Apa yang sebenarnya membuat Jaemin sedih saat mereka sudah tinggal bersama?
Jeno tidak pernah tahu alasannya. Jaemin tertutup, tak pernah mengungkapkan apa pun. Jaemin tidak pernah berterus terang padanya.
Pernah satu kali Jeno memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini mengganjal hatinya, saat mereka berada di dalam kamar.
"Apa yang membuatmu sedih, sayang? Apa ada yang menyakitimu di sini? Katakan! Aku akan menghukumnya," ucap Jeno sambil mengangkat wajah Jaemin agar menatapnya.
Jaemin menyusut sisa air matanya, lalu tersenyum tipis. "Tidak ada. Aku hanya berbahagia karena akhirnya aku bisa hidup bersama denganmu."
Jeno tidak pernah berpikir panjang. Ia selalu percaya bahwa Jaemin berkata jujur padanya, walau jauh di dalam hatinya, keraguan itu tetap bersemayam.
"Aku pun sama," balas Jeno lembut. "Bahagia karena pada akhirnya kaulah yang menjadi takdirku."
Jeno memeluknya erat.
"Na Jaemin—jika kau butuh apa pun dariku, katakan saja! Aku akan berusaha memberikan semuanya untukmu, sebisaku."
Pelukan itu semakin mengencang, seolah Jeno ingin meyakinkan Jaemin bahwa tidak ada satu pun hal yang perlu ditakuti. Selama Jaemin berada dalam perlindungannya, dunia tak berhak menyentuhnya dengan kejam.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
