Sesampainya di mansion Na, Lee Jeno dan Na Jaemin kembali melanjutkan argumen mereka. Suasana rumah besar itu kembali dipenuhi suara yang saling bertubrukan. Jeno terus mengatakan larangannya terhadap Jaemin untuk tidak bergaul dengan perempuan itu, sementara Jaemin terus melawan Jeno dengan sikapnya yang tetap tenang—tenang yang justru semakin membuat Jeno frustrasi.
Dia tidak meninggikan nada bicaranya seperti yang dilakukan oleh suaminya barusan. Jaemin hanya mengutarakan pendapatnya, dengan suara datar namun sarat penekanan.
"Dia tak melakukan satu hal jahat apa pun padaku," ucapnya. "Lantas, atas dasar apa kau menuduhnya sebagai seorang wanita yang jahat?"
Jeno memijat pelipisnya pelan, seolah berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di kepalanya.
"Wanita itu sedang dicurigai oleh kepolisian setempat," katanya akhirnya. "Dia diduga menjadi seseorang yang memperkerjakan anak-anak di bawah umur. Rumor sudah beredar luas—anak-anak yang ditemui di jalanan bungkam, mereka memilih diam dan tak mau membuka suara tentang siapa madam mereka."
Jaemin terdiam, namun sorot matanya tetap menunjukkan penolakan.
"Mark masih sedang menyelidiki," lanjut Jeno, suaranya lebih rendah. "Dan dia belum menemukan bukti apa pun. Oleh karena itu, sebagai istriku, sebaiknya kau harus berhati-hati, Jaemin."
Jeno menatapnya lurus.
"Wanita itu bisa saja sedang memanfaatkanmu. Mengambil keuntungan darimu."
"Apa yang dia butuhkan dariku?" Jaemin tetap mengelak, suaranya nyaris tak berubah. "Aku bukan siapa-siapa selain istrimu."
Jeno menggertakkan giginya, rahangnya mengeras. Jaemin memang seorang pembangkang—dan dia sangat sulit untuk menurut. Terlalu sulit, memang, jika harus mengendalikan Jaemin yang keras kepala, yang selalu berdiri pada pikirannya sendiri.
"Jaemin," ucap Jeno berat, "bisakah kau ikuti saja kemauanku?"
"Tentu saja," sahut Jaemin cepat, pahit terselip di nada suaranya. "Sebagai istrimu, aku bisa apa—sejak dulu kau memang tidak pernah mau mendengar pendapatku."
Jaemin memilih untuk segera pergi keluar kamar. Namun sebelum benar-benar melangkah jauh, ia menghentikan dirinya sendiri, menoleh sedikit, dan mengucapkan kalimat terakhir yang terasa seperti pengakuan paling jujur.
"Padahal aku hanya ingin memiliki seorang teman. Itu saja."
Nada suaranya melemah.
"Aku bosan terus dikunci di sini."
Jeno menghela napas pelan setelah mendengar penuturan terakhir Jaemin sebelum anak itu pergi meninggalkannya. Pintu kamar tertutup, menyisakan keheningan yang berat. Ia kemudian duduk dan mengusap wajahnya kasar, seolah berusaha menghapus rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.
Secara sadar, Jeno tahu bahwa sejak awal pernikahan mereka, dia terus mengekang Jaemin—menahannya untuk tidak pernah pergi keluar dan berteman dengan siapa pun. Dia selalu melarangnya. Dalam pikirannya, melihat Jaemin kesepian dan berdiam di mansion masih terasa lebih baik dibandingkan harus melihat anak itu bergaul dengan orang-orang di luar sana.
Perlahan punggung tegapnya bersandar pada sandaran sofa. Matanya terpejam, dan ingatannya melayang kembali pada memori kenangan tentang mendiang pasangan terdahulunya.
Bibirnya mengulas senyuman tipis. Jeno selalu tampak tenang jika mengingat sosok yang ada dalam ingatannya saat ini—seseorang yang sangat dicintainya, sampai kapan pun.
Ingatan tentang dia selalu menjadi obat, membawa kedamaian dan ketenangan yang tak pernah gagal.
"Jen, berjanjilah padaku untuk mencintaiku sampai akhir."
"Tentu saja, cintaku. Takkan pernah ada seseorang yang bisa menggantikanmu untukku."
"Aku mencintaimu, suamiku."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
