Sebenarnya Hana sudah terlalu lelah. Kelelahan itu bukan sekadar letih yang menempel di tubuh, melainkan kelelahan yang merambat ke jiwa, menekan dada, dan membuat napasnya terasa berat setiap kali ia harus berpura-pura. Dia ingin berhenti. Ingin menghentikan semuanya di titik ini. Namun langkahnya sudah terlanjur terlalu jauh. Dia sudah terlalu banyak berbohong padanya—pada orang-orang yang mempercayainya. Sudah terlalu banyak hal yang ia tutupi, terlalu banyak kebenaran yang ia sembunyikan rapat-rapat seolah tidak pernah ada.
Rasa bersalah itu kini tumbuh semakin besar, seperti bayangan panjang yang mengikuti setiap langkahnya. Bayangan yang tidak bisa ia singkirkan, bahkan saat ia mencoba memejamkan mata. Sungguh bukan ini yang Hana inginkan sejak awal. Tidak pernah. Namun situasilah yang memaksanya untuk terus bungkam, memaksanya untuk diam, untuk berpura-pura tidak tahu, seolah semuanya masih baik-baik saja.
Hana hanya sekadar berharap—dengan harapan yang rapuh dan nyaris patah—bahwa jalan yang sudah mereka lalui bersama ini, meski penuh luka dan rahasia, bisa menjadi jalan terbaik. Bahwa semuanya akan tetap terlindungi. Bahwa takdir yang kejam itu tidak harus terulang lagi. Tidak di rumah ini. Tidak pada keluarga ini.
"Semoga kebahagiaan kembali menyertai keluarga yang telah kembali bersama di dalam rumah ini, Tn Lee dan juga cintanya—tolong jangan pisahkan kembali meraka."
Doa itu meluncur lirih dari bibir Hana, seperti permohonan terakhir yang ia titipkan pada gelap. Setelah menyelesaikan doanya, Hana segera memadamkan lilin di hadapannya. Api kecil itu mati perlahan, meninggalkan asap tipis yang melayang di udara—seperti rahasia yang belum sempat terucap.
Dia tidak tahu bahwa Jaemin saat ini tengah menguntitnya. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa setiap kata dalam lantunan harapan itu telah terlanjur terdengar oleh telinga Jaemin, meresap, lalu menggoreskan luka baru di hatinya.
Sesuai dugaan, Jaemin tahu. Dia tahu bahwa Hana bukanlah sembarang orang. Perempuan itu mengetahui semuanya—bahkan hal-hal yang seharusnya tidak diketahui siapa pun. Termasuk kembalinya seseorang yang kini telah kembali menginjakkan kaki di dalam rumah ini—
Jaemin tidak dapat berkata-kata. Dunia di sekelilingnya terasa asing. Semua orang yang berada di dekatnya, yang selama ini ia anggap sebagai pelindung dan sandaran, ternyata bersekongkol untuk menggunakannya. Jaemin—dirinya sendiri—hanyalah alat. Sebuah bidak yang bisa dipindahkan kapan saja.
Walau Jaemin sudah tahu, dia berusaha untuk tidak peduli. Dia memaksa dirinya untuk tetap berdiri. Dia harus kuat sebelum akhirnya semua rahasia itu terbongkar. Karena dia tahu, ketika kebenaran itu benar-benar terungkap, dia akan dibuang. Dan Jaemin harus menyiapkan diri untuk hal itu.
Meski dia tahu bahwa hal-hal menyakitkan akan terus berdatangan seiring dengan pencariannya, Jaemin sudah memilih. Dia memilih untuk menanggung semuanya. Dia memilih untuk mengambil semua risiko itu, meski hatinya terus dipatahkan.
Tanpa suara, Jaemin terus mengikuti ke mana langkah perempuan itu pergi. Di sana Hana tampak seperti sedang mencari seseorang, dan Jaemin tidak melewatkan satu inci pun dari pergerakan perempuan itu. Setiap langkahnya diamati, setiap jeda diselidiki. Seiring langkahnya, hati kecil Jaemin terus bersuara, semakin lirih namun semakin menyakitkan.
Sejak awal aku masuk ke dalam rumah ini, kau adalah orang pertama yang mengulurkan tangan untukku Hana-ssi, kau adalah orang yang kupercaya, kau adalah satu-satunya orang yang membujukku untuk merasa nyaman tinggal dalam rumah ini, Kau setia menemaniku. Tapi pada nyatanya kau melakukan semua itu untuk tujuan tertentu.
Dan...
Di antara semua orang, kau dan Jeno adalah orang yang paling menyakitiku.
"dan semuanya sama saja, tidak ada yang benar-benar berada dipihakku."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Hayran KurguBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
