Beautiful Target #5

2.2K 219 16
                                        

Hari ini Jaemin sibuk mengomel pada Jisung yang tak kunjung mau makan. Suaranya memenuhi koridor mansion, bercampur antara khawatir dan putus asa. Ia terus berlari mengejar anak itu hingga tanpa sadar langkah mereka telah keluar dari pintu utama mansion.

"Jisung-ah..." teriak Jaemin dari dalam sambil membawa mangkuk nasi, napasnya sedikit terengah. "Kau akan sakit kalau tidak menghabiskan makananmu. Dadda tidak sedang bercanda."

"Tidaaak, Dadda!" Jisung berteriak sambil tertawa kecil. "Jisung tidak lapar. Perut Jisung masih kenyang!"

Anak kecil itu justru semakin aktif berlari, kakinya yang pendek bergerak lincah menghindari kejaran Jaemin. Jaemin berhenti sejenak, menunduk, menarik napas panjang—lelah, bukan hanya secara fisik, tapi juga batin.

Akhirnya, dengan wajah pasrah, Jaemin menyerahkan mangkuk nasi itu pada Mia, pengasuh pribadi Jisung.

"Aku sudah tidak sanggup," katanya lirih sambil mengusap dahinya. "Tolong bujuk anak itu untuk menghabiskan makanannya. Aku benar-benar kehabisan cara."

Mia mengangguk patuh, senyum kecil terbit di wajahnya. "Baik, Tuan. Biar saya yang mengurusnya."

Ia segera mengambil alih dan berlari mengejar Lee Jisung yang masih tertawa ceria.

Saat kembali masuk ke dalam, langkah Jaemin terhenti. Ia berpapasan dengan Jeno yang tengah mengobrol serius dengan Mark. Suasana di antara mereka terasa tegang—bukan percakapan ringan seperti biasanya.

Pandangan Jaemin dan Jeno saling bertubrukan. Tatapan Jeno dingin, datar, seolah Jaemin adalah gangguan yang tak ia undang.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Jaemin, suaranya terdengar tenang, meski hatinya waspada.

Jeno memandangnya remeh. "Tidak seperti biasanya. Kau tampak sangat ingin tahu dengan urusanku," jawabnya dingin.

Jaemin mendelik kesal. Mark, yang menyaksikan semuanya, hanya bisa menggulirkan kedua bola matanya. Ia sudah terlalu sering melihat hubungan aneh ini—hubungan yang sangat jauh dari kata harmonis. Hampir setiap waktu, pasangan itu tak pernah bersikap layaknya suami istri.

"Pasanganmu bertanya dengan serius, Jen," Mark akhirnya bersuara. "Bagaimana bisa kau meresponsnya seperti itu?"

Jeno terdiam sejenak.

"Seperti yang sudah kubicarakan," lanjut Jeno akhirnya, nadanya lebih rendah, "wanita yang kulihat kemarin sangat mencurigakan. Ada perbudakan di kota ini. Dan ini menyangkut anak-anak di bawah umur. Kau harus menyelidikinya."

Jaemin terpancing. Kata-kata itu menarik perhatiannya sepenuhnya. Ia melangkah mendekat, berdiri tak jauh dari mereka.

Mark mengernyit ragu. "Apa yang membuatmu begitu yakin?"

"Hari pertama kami datang ke kota ini," jawab Jeno, "aku membeli koran dari seorang anak laki-laki yang berjualan di tempat mobil berhenti. Tanpa sengaja aku melihat wanita itu menghampiri anak itu. Aku yakin, dia orang yang sama."

"Wanita yang kau maksud..." Jaemin menyela pelan. "Apakah dia ibu dari anak perempuan yang menjual topi kemarin?"

Jeno mengangguk singkat.

"Tapi anak itu memanggilnya dengan sebutan Ibu," Mark menimpali.

"Iya," jawab Jeno. "Tapi menurutku dia bukan ibu kandungnya. Mungkin ibu asuh—atau seseorang yang memanfaatkan mereka."

"Aku yakin masih ada anak-anak lain seusia Jisung yang dipekerjakan olehnya," lanjut Jeno tegas. "Kau harus menghentikan ini, Mark. Bawa kasus ini ke pengadilan."

Mark mengangguk mantap. "Baik. Aku akan menyelidikinya. Kau baru saja memberiku kasus baru—sudah lama aku menganggur," katanya sambil menepuk bahu Jeno. "Terima kasih."

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang