Walaupun saat ini ia tengah kembali ke tempat di mana ia berasal—ke tanah yang menjadi saksi kelahirannya sendiri—Jaemin justru merasa semakin asing. Setiap langkah yang ia ayunkan terasa janggal, seolah tanah yang dipijaknya bukanlah miliknya. Ke mana pun ia pergi, perasaan itu selalu mengikutinya, menempel erat seperti bayangan yang menolak pergi.
Termasuk ke tempat di mana ia pernah tumbuh besar. Rumah ini, halaman ini, dinding-dinding yang dulu menyimpan tawa—semuanya terasa jauh. Jaemin bahkan nyaris lupa bagaimana rasanya tertawa lepas di tempat ini, bagaimana suaranya dulu bergema tanpa beban saat ia masih menjadi dirinya sendiri.
Lalu ke mana perasaan nyaman itu pergi? Jaemin tak mengerti. Kini, ia bahkan tak tahu lagi apa arti kata rumah. Bukankah rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk kembali? Tempat di mana hati bisa beristirahat? Namun semua itu tak pernah lagi ia rasakan.
Atau mungkin karena saat ini Jaemin merasa tak memiliki siapa-siapa untuk berlindung?
Di bawah atap ini, di tempat ia seharusnya berteduh, justru ada sesuatu yang selalu mencekiknya—tak terlihat, namun nyata.
Sesak.
Berat.
Membuat napasnya seolah tertahan oleh ikatan tak kasat mata. Dan yang paling menyakitkan—ia tak bisa pergi, tak mampu melarikan diri.
Jaemin tertahan di sana. Terperangkap seperti burung dalam sangkar—dan terpenjara di dalam rumahnya sendiri.
"Jaemin, apa yang tengah kau pikirkan di siang hari seperti ini?"
Jaemin menoleh ke arah sumber suara. Jeno berdiri beberapa langkah darinya, berjalan mendekat dengan langkah tenang.
"Aku sedang tidak memikirkan apa pun," jawab Jaemin singkat, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar balkon, menatap langit yang tampak luas namun terasa menyesakkan.
"Kau sudah di sini," lanjut Jeno, suaranya rendah, "tapi kau seperti tidak senang."
Tangan Jeno menyentuh bahu Jaemin, sentuhan ringan namun terasa berat di hatinya.
Dia selalu tahu apa yang sedang kurasakan, gumam Jaemin dalam hati.
Dan itu justru yang membuatku lelah.
"Apa lebih baik kita pulang saja?" tanya Jeno tiba-tiba.
Jaemin sedikit terkejut, namun hanya terdiam.
Kau pura-pura atau sungguh tidak tahu, Jen?
Di sini maupun di rumahmu, aku tak pernah merasa senang. Di mana pun aku berada, rasanya sama saja.
"Kesehatan kakek sudah membaik setelah melihatmu," lanjut Jeno. "Mungkin dia jatuh sakit karena terlalu merindukan cucu semata wayangnya."
Jaemin tersenyum pahit tanpa suara.
Dia sakit karena dosanya—karena telah berani menjualku pada keluarga bangsawan Lee.
"Syukurlah," akhirnya Jaemin berkata pelan. "Aku senang kakek kembali sehat."
"Oh ya," Jeno mengalihkan topik. "Kau tahu Jisung pergi ke mana?"
"Jisung?" Jaemin menoleh.
"Akhir-akhir ini dia sering bermain di luar. Ada satu anak perempuan di pinggir jalan yang menjual topi. Jisung sering menemaninya... bahkan ikut membantu menjual."
"Kau membiarkan anak kita bermain dengan orang seperti itu?" suara Jeno terdengar dingin.
"Apa itu salah?" tanya Jaemin, menatapnya lurus.
Jeno memasukkan tangannya ke saku celana.
"Kau membiarkan dia berteman dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan kelasnya."
"Jisung tidak boleh bergaul dengan orang-orang seperti mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanficBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
