Beautiful Target #25

1.6K 149 14
                                        

Mereka telah sampai di rumah. Jaemin berhasil dibawa pulang oleh Jeno, dan sejak detik itu lelaki tersebut menegaskan satu hal dalam hatinya—dia tidak akan pernah, tidak untuk selamanya, membiarkan Jaemin pergi darinya lagi. Tidak sekarang. Tidak nanti. Tidak akan pernah.

Ditinggalkan—kata itu telah lama menjelma menjadi trauma terbesar bagi Lee Jeno. Sebuah luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh, sebuah ketakutan yang selalu mengintainya hingga detik ini. Cukup sekali waktu itu ia ditinggalkan tanpa penjelasan, cukup sekali ia merasakan kehampaan yang mencabik dadanya. Sejauh ini Jeno telah melindungi apa yang menjadi miliknya, dan kali ini—dia bersumpah pada dirinya sendiri—dia tidak akan membiarkan hal menyedihkan itu terulang kembali.

Jaemin kini berada dalam genggamannya. Dalam pelukannya. Dalam jangkauan napasnya. Dan Jeno tidak akan pernah melepaskannya. Jaemin sudah menjadi miliknya—dan akan selalu seperti itu, terpatri dalam pikirannya tanpa celah untuk keraguan.

Jeno memeluk Jaemin erat-erat, seolah jika sedikit saja ia melonggarkan pelukannya, Jaemin akan menghilang. Tubuhnya masih bergetar hebat; rasa takut itu belum sepenuhnya surut, belum bisa diusir begitu saja. Sementara di dalam pelukannya, Jaemin terdiam—mencoba mencerna situasi yang terasa begitu berat. Dia tidak tahu, tidak pernah benar-benar tahu, seberapa besar rasa takut yang tengah menggerogoti Jeno saat ini.

Jaemin mendengarkan degup jantung Jeno yang berdetak kencang, terlalu cepat, seolah jantung itu berdetak hanya untuk memastikan Jaemin masih ada. Jaemin masih merasakan getaran tubuh Jeno yang memeluknya dengan kekuatan yang hampir menyakitkan. Jaemin bahkan tidak bisa memberontak, tidak bisa melepaskan diri. Sebegitu kuat Jeno mengikatnya dalam sebuah pelukan yang membuat Jaemin kebingungan—antara aman dan tercekik oleh perasaan yang tak ia pahami.

Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, Jaemin bertanya-tanya.

"Jeno... apa kau takut kehilanganku?" "Tapi kau sangat mencintai istrimu—lantas kenapa kau bersikap seperti ini padaku?"

Jaemin terus merenung. Ia tidak mengerti segala bentuk afeksi yang telah Jeno berikan kepadanya. Semua perhatian, perlindungan, dan kepemilikan itu terasa terlalu intens, terlalu dalam, dan terlalu membingungkan. Jeno selalu saja membuatnya terjebak dalam perasaan yang tidak memiliki nama.

Di balik semua itu—sebagian pikiran Jaemin tertuju pada Hyunjin, yang saat ini telah ditangkap dan dikurung di sebuah ruangan bawah tanah mansion.

Jaemin masih mengingat dengan jelas bagaimana amarah Jeno meledak saat itu. Bagaimana lelaki itu mencap Hyunjin sebagai seorang penjahat—seseorang yang telah berani membawa Jaemin pergi darinya.

"Apa tujuanmu membawa Jaemin pergi dariku?" suara lantang Jeno terdengar begitu penuh kemarahan, menggema di hadapan Hyunjin yang ambruk akibat tembakan.

Hyunjin menatap Jeno. Tatapannya kosong namun sarat makna—sebuah tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapa pun yang menyaksikan pertengkaran mereka saat itu.

"Membuatnya tinggal denganmu sama saja dengan melukainya lagi," balas Hyunjin tanpa gentar. "Kau harus melepaskannya."

Jawaban itu membuat Jeno melayangkan sebuah pukulan keras. Hyunjin tidak membalas. Lelaki itu pasrah menerima perlakuan Jeno yang terus-terusan menghajarnya, seolah rasa sakit fisik itu tidak lagi berarti apa-apa.

"Kau tahu apa tentang dia?" Jeno berteriak, suaranya serak oleh amarah. "Apa kau berusaha menjadi seorang ksatria untuknya?!"

Jaemin berusaha menghentikan Jeno, mencoba mencegahnya agar tidak terus menyakiti Hyunjin. Namun Renjun, yang berdiri di sampingnya, segera menahan Jaemin agar tidak ikut campur.

Sebaliknya, lelaki cantik itu membawa Jaemin masuk ke dalam mobil lebih dulu.

Renjun menemaninya di sana. Biarkan Mark dan Jeno yang mengurus lelaki itu.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang