Beautiful Target #13

1.5K 155 16
                                        

Waktupun kian berlalu, seperti pasir yang jatuh perlahan tanpa pernah meminta izin. Tidak terasa sudah hampir satu pekan tamu-tamu itu tinggal di mansion Lee. Padahal sejak awal kedatangannya, tuan rumah sama sekali tidak pernah sekalipun mempersilahkan mereka untuk tinggal di tempat mereka. Namun waktu tetap berjalan, dan kehadiran yang tak diundang itu seolah sengaja dibiarkan berakar di rumah megah tersebut.

Sebagai seorang aktris, dengan pakaiannya yang sudah melekat dengan gaya modis, Karina bahkan sudah bisa melipatkan kedua tangannya di hadapan Jaemin. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dilemparkan ke situasi penuh ketegangan.

"Anda tidak berhak menyalahkan saya, Tuan Na," ucap Karina, suaranya dingin namun terkontrol, "anda sendiri yang membawa saya datang ke sini."

Jaemin mendecih di hadapannya. Ada bara kecil di matanya yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
"Dan anda sudah merencanakan ini semua terhadapku," katanya tajam, "kau ternyata memang aktris yang sangat berbakat."
Timpal Jaemin tanpa melepaskan gaya elegannya, seolah setiap kata adalah pisau yang sengaja diasah perlahan.

Karina mendengus seraya terkekeh pelan, tawanya tipis namun menyiratkan keberanian yang menantang.
"Jika saya harus mengatakan anda genius," katanya sambil memiringkan kepala, "seharusnya anda menyadarinya sedari dulu."
Ia mengakhiri kalimatnya dengan sebuah tawa kecil yang justru membuat Jaemin langsung mengepalkan kedua tangannya erat.

Jaemin tak ingin mengalah. Dia kembali mendelik ke arah Karina, beserta seringainya yang tercetak jelas di wajahnya.
"Aku akan pastikan kau tahu posisimu di rumah ini," katanya dingin, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih menusuk,
"Tapi Tuan Lee adalah orang yang pemilih, tangannya terlalu kotor untuk memungut secuil sampah tak berguna sepertimu. Jadi jangan berharap terlalu besar dan bisa menjadi nyonya di rumah ini—itu tidak akan pernah terjadi."

Seketika wajah Karina menggelap setelah mendengar Jaemin yang sengaja mengatainya. Sorot matanya berubah, namun ia berusaha tetap berdiri tegak.

Tapi di sana Karina tetap ingin melawan.
"Baiklah," katanya akhirnya, "pastikan bahwa perkataan anda itu benar, Tuan. Saya meragukannya."
Karina berlalu bersama dengan perasaan dongkol yang sudah menyelimuti hatinya, langkahnya cepat namun penuh tekad.

Jaemin di sana hanya bisa tertunduk lesu. Semua keberaniannya seolah luruh setelah Karina pergi, menyisakan kebisuan yang berat.

Di halaman depan, Jisung kembali dihadang oleh si anak kembar yang tidak tahu diri. Angin sore berembus pelan, namun suasana justru terasa panas. Jisung sudah mulai jenuh melihat tingkah rendahan dari anak-anak tersebut.

"Di sini saya tidak punya waktu untuk meladeni kalian," teriak Jisung, suaranya meninggi, "menyingkirlah dari hadapanku sekarang juga."
Ia benar-benar tak ingin berhubungan sama sekali dengan mereka.

Hajin maju selangkah ke depan, berdiri berhadapan langsung dengan Jisung.
"Bisakah kau bersikap baik pada kami?" ucapnya, dengan nada yang terdengar seolah memohon namun matanya menantang.

"Kalian yang pertama kali bersikap tidak baik padaku," balas Jisung cepat, "kenapa aku harus? Orang-orang yang tidak memiliki etika seperti kalian itu tidak seharusnya tinggal di mansion ini."

Hajin bersikap semakin menantang. Dadanya membusung.
"Kenapa?" katanya sinis, "kau takut posisimu tersingkirkan? Sudah pasti nanti Ayah yang memilih kami dibandingkan dirimu."
Balas Hajin tak terima, seolah sengaja menekan luka yang paling dalam.

Karena emosi Jisung yang sudah memuncak, anak itu lantas menyerang Hajin lebih dulu dan menghajarnya hingga Hajin tersungkur ke tanah.

"Beraninya kau memanggilnya ayah!" teriak Jisung tak terima, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan terlalu lama.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang