Beautiful Target #19

1.4K 135 30
                                        

Mark mendapatkan luka yang cukup parah. Darah yang sempat mengalir deras kini telah mengering di beberapa bagian tubuhnya, meninggalkan noda kecokelatan yang tampak kontras dengan kulit pucat lelaki itu. Saat ini Mark terbaring lemah, tubuhnya nyaris tak bergerak, sementara Renjun duduk di sisi ranjang, sibuk memberikan perawatan seadanya namun penuh ketegangan.

Dalam waktu seminggu saja, Renjun telah mengobati beberapa orang di rumah ini—luka demi luka, jerit demi jerit—termasuk kekasihnya sendiri. Tangan Renjun bergetar bukan karena takut, melainkan kelelahan yang bercampur kesal. Semua itu terpahat jelas di wajahnya, dari rahang yang mengeras hingga sorot mata yang kehilangan kesabaran.

"Bisakah kau dengan lembut mengobati lukaku? Kasar sekali," keluh Mark lirih, menahan perih yang terus berdenyut tanpa ampun. Setiap sentuhan Renjun terasa seperti hukuman, bukan perawatan. Perlakuan dari kekasihnya sama sekali tak menunjukkan kelembutan. "Sepertinya aku salah sudah memilihmu."

Ucapan itu seolah menyulut api.

Mendengar keluhan Mark, Renjun justru menekan lukanya lebih keras, tanpa peringatan, membuat Mark kembali berteriak kesakitan. Suara jeritan itu menggema singkat di dalam ruangan, lalu menghilang bersama napas Mark yang terengah.

"Iya, maaf—maaf," rengek Mark buru-buru, suaranya nyaris menyerah, antara menahan sakit dan takut jika Renjun benar-benar tak akan berhenti.

Dalam benaknya, Mark bahkan merasa bahwa ia lebih mungkin mati di tangan kekasihnya sendiri dibandingkan di tangan kedua anak iblis itu—anak-anak yang wajahnya masih terbayang jelas di kepalanya, penuh kebencian dan amarah.

"Diamlah!" seru Renjun kesal, suaranya penuh tekanan, seakan emosi yang ia pendam selama ini akhirnya menemukan jalan keluar.

"Untung saja polisi sampai tepat waktu," ucap Renjun sambil melilitkan perban di kepala Mark. Gerakannya tegas, nyaris kasar, menyelesaikan pengobatan itu dengan sikap yang masih menyisakan amarah yang belum reda.

"Dasar polisi lemah, bagaimana kau bisa kalah oleh anak-anak?" Renjun terus mengomel tanpa jeda, kata-katanya menusuk dan berlapis sindiran, membuat Mark semakin kesal karena tak berhenti diocehi, meski tubuhnya masih terasa remuk.

"Aku tidak tahu anak perempuan itu akan memukulku," keluh Mark pelan, sedikit merajuk, mencoba membela diri meski suaranya hampir tak terdengar.

Renjun mendengus pelan. Tatapannya kosong sesaat, pikirannya tiba-tiba melayang pada mendiang istri Jeno—perempuan yang namanya selalu menggantung sebagai teka-teki, seperti bayangan yang tak pernah benar-benar pergi dari rumah ini.

"Di rumah ini benar-benar tidak ada yang tahu tentangnya sama sekali," kata Renjun berdecak, nada suaranya berubah, lebih dingin, "termasuk Jeno yang pernah menjadi suaminya."

Mark mendengarkan dalam diam, membiarkan Renjun melanjutkan.

"Kepribadiannya sangat tertutup," lanjut Renjun, suaranya lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Meski dulu dia sudah dekat denganku, aku tidak pernah benar-benar mengenalnya sepenuhnya—seperti ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan. Rahasia yang bahkan tak ingin ia bagi kepada siapa pun."

"Lalu dia mati dibunuh," Renjun menghela napas panjang, berat. "Perjalanan hidup yang begitu singkat, namun meninggalkan misteri bagi kita semua yang tidak tahu apa-apa."

"Seandainya dia tidak mati, Jeno mungkin tidak akan sampai segila ini, Mark."

"Iya," Mark membalas lirih, suaranya penuh penyesalan.

"Seandainya saja dia tidak mati," lanjut Mark, matanya menatap langit-langit kosong, "kita mungkin bisa melindunginya. Kehidupan mereka mungkin akan baik-baik saja sekarang."

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang