Belum lama tinggal di mansion Jeno, Karina sudah menunjukkan sifat aslinya tanpa harus menutupi atau berakting lagi di hadapan Jaemin. Dia dengan bebas berlaku seenaknya di sana, seolah rumah itu memang sudah menjadi miliknya sejak awal. Sejak awal dia sudah berniat merebut posisi lelaki itu. Dia tidak ingin ditelantarkan lagi, dan kini dia sedang berusaha mendapatkan haknya di sini, dengan caranya sendiri.
Melihat Jaemin yang tengah lewat di depannya, Karina kembali meluncurkan aksinya. Tatapan matanya sengaja menajam, langkahnya diperlambat, seolah memang dia berniat membuat Jaemin tidak nyaman tinggal di mansion ini.
"Tn. Na, kau sepertinya masih belum menyerah," ucap Karina dengan nada mengejek.
"Dari pada anda terus sakit hati, kenapa tidak secepatnya anda pergi dan menyerahkan posisi anda pada saya?"
Jaemin lantas menoleh. Dia tak menyangka bahwa wanita itu bisa berkata setidak sopan itu padanya, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Apa kau sedang berkata pada dirimu sendiri?" Jaemin menimpali, suaranya tenang namun menusuk. Dia merasa tak mau kalah dari wanita tersebut.
"Kau hanyalah simpanan di sini," lanjut Jaemin, langkahnya mendekat satu langkah, "dan sampai kapan pun yang hanya bisa kau lakukan adalah mengemis."
Jaemin berkata dengan sikap tenangnya, tanpa menunjukkan emosinya sedikit pun.
Karina menegang, namun Jaemin belum selesai.
"Berhentilah bersikap bahwa kaulah yang paling istimewa," ucapnya dingin,
"karena pada faktanya, jika kau orang spesial di mata Jeno, dia sudah membawamu ke sini dari dulu tanpa perlu kau minta, cih."
Jaemin menunjukkan senyum sinis di sana. Jangan harap bahwa wanita itu bisa menang darinya.
Dan benar, Karina tidak berkutik. Wanita itu justru mengepalkan kedua tangannya sampai jari-jari bukunya memutih, napasnya memburu.
"Jeno memiliki kelasnya sendiri untuk seseorang yang bisa bersanding dengannya," lanjut Jaemin tanpa iba,
"dan kau tidak memilikinya. Jadi berhentilah bermimpi."
Jaemin terus menumpahkan kalimat-kalimat jahat pada perempuan itu, seolah semua amarahnya kini menemukan jalan keluar.
"Apa kau tidak pernah berpikir bahwa kau digunakan sebagai pemuas nafsunya saja?"
"Jeno tidak lebih menganggapmu sebagai seorang perempuan murahan, dasar rendah!"
Jaemin mengakhiri kalimatnya sebelum berlalu pergi—yang di mana kata-kata tersebut membuat Karina berteriak memaki-makinya dari belakang. Suaranya menggema di lorong mansion, hingga semua pelayan rumah yang sedang menjalankan tugasnya tiba-tiba tercengang dan semakin memandang rendah pada tamu yang tak pernah diundang itu.
Mark kembali bertemu dengan Jeno di ruang pribadinya. Ruangan itu dipenuhi asap rokok dan keheningan yang menyesakkan. Mark terus menunjukkan rasa kekhawatirannya di sana.
"Kita harus berhati-hati dalam bertindak, Jeno," ucap Mark serius.
"Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita itu di sini."
Jeno yang tengah menyebat rokoknya membuang sisa puntung rokok ke dalam asbak.
"Mark, kau itu detektif," katanya datar, "kenapa kau jadi yang paling khawatir?"
"Seharusnya dari gerak-geriknya saja kau harus tahu apa yang akan dilakukan wanita itu."
Mark lantas mengusap mukanya karena jengah.
"Detektif saja bisa kecolongan," sahutnya.
"Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang penjahat yang ahli, Jen."
Mark mendesah dan menjeda kalimatnya.
"Jen... kau tahu apa yang kudapatkan lagi informasi tentang Karina?"
Seketika Jeno menatap Mark dalam, sorot matanya mengeras.
"Rumor tentang wanita yang dulu sempat kau kencani itu," lanjut Mark hati-hati,
"ternyata memang benar. Dia adalah seorang pembunuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
