Beautiful Target #24

1.5K 150 23
                                        

Jadi pencarian mereka selama ini tidak menghasilkan apa pun—setidaknya, itulah yang selama ini mereka yakini. Delapan tahun. Waktu yang tidak singkat, waktu yang menggerus kesabaran, harapan, dan keyakinan. Delapan tahun mereka menelusuri jejak-jejak samar, mengikuti bayangan yang terus bersembunyi di balik gelap, dan pada akhirnya, apa yang ia dapatkan justru tertuju pada orang yang tidak pernah, sedikit pun, dia duga.

Hana menghela napas pelan, napas yang terasa berat seperti membawa seluruh beban tahun-tahun yang terbuang. Kenapa dia tidak pernah menyadari hal ini dari sebelumnya? Kenapa kebenaran seolah sengaja menutup matanya, mempermainkan pikirannya, dan bersembunyi tepat di depan hidungnya sendiri? Namun alasan di balik semua itu kini masih tetap menjadi misteri—sebuah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan, seolah memiliki kehendaknya sendiri.

"Aku melihatnya, Hana. Salah satu pelayan rumah ini datang dan mengetuk pintu rumah itu. Sudah kupastikan—dan dia datang tidak hanya sekali." Ten akhirnya mengungkapkan semua apa yang dilihatnya, suaranya terdengar tenang, namun di balik ketenangan itu tersimpan kegelisahan yang tidak diucapkan.

Hana masih mencerna semua ucapan dari orang suruhannya. Kata demi kata berputar di kepalanya, bertabrakan dengan dugaan-dugaan lama yang selama ini ia simpan rapat. Dia berpikir keras, tetapi justru merasa semakin kalut dan buntu—seolah ada dinding tak terlihat yang menghalangi pikirannya. Hana tidak tahu apa pun, dan ketidaktahuan itu terasa menyiksa. Lantas Hana kemudian mengangguk, menerima pernyataan dari lelaki itu, meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya.

"Setelah mendengar perkataanmu—aku menguntitnya. Mia beberapa kali pergi ke bank untuk mengambil sejumlah uang."

Hana kemudian menghadapkan tubuhnya ke hadapan Ten, sorot matanya mengeras, suaranya turun satu oktaf. "Dia pergi melarikan diri bersama pelayan yang dibawanya dari sini. Aku gagal membuatnya mengaku, dan sudah pasti wanita itu terlibat dalam masalah ini." Kalimat itu meluncur dingin, seperti vonis yang tak bisa ditarik kembali.

Ten melihat luka yang terukir di sudut dahi Hana, luka yang masih merah, masih segar, seolah menjadi saksi bisu dari kegagalan yang baru saja terjadi. Ia lalu menyampirkan beberapa anak rambut yang menghalanginya, gerakannya lembut, kontras dengan suasana yang tegang.

"Untuk yang ini aku minta kau harus merahasiakannya dari mereka," ucap Hana pelan namun tegas. "Jangan sampai Tuan Jeno tahu—apa yang kita temukan juga sebenarnya belum pasti, dan kita harus mencarinya lebih lanjut. Kita harus menemukan Mia. Hanya dia yang tahu jawabannya."

Ten mengangguk, paham bahwa permainan ini jauh lebih berbahaya dari yang terlihat.

"Kau yakin akan mencarinya? Kau mungkin akan terluka lagi," ucap Ten khawatir, tatapannya menelusuri wajah Hana seakan mencari kepastian.

Hana tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya menenangkan. "Tidak masalah! Aku akan lebih berhati-hati."

Ada satu hal yang Ten pendam, sebuah keraguan yang menggerogoti hatinya sejak lama. Ia merasa ragu untuk berkata pada temannya, namun akhirnya kata-kata itu lolos juga dari bibirnya. "Hana—kenapa kita tidak mencoba untuk mengembalikan ingatan Jaemin?" ucapnya tiba-tiba, memecah kesunyian.

Hana terkesiap di tempatnya.

"Apa?" Selanjutnya Hana menggeleng cepat, seperti ingin menolak kemungkinan itu sebelum sempat tumbuh.

"Tidak. Tn. Lee melarangnya," elaknya singkat.

Ten mendesah. Pada akhirnya, mau tidak mau, dia harus mengikuti saran Hana.

"Baiklah, terserah padamu."

Mark menatap Jeno dengan sorot yang tidak bisa Jeno baca. Namun entah kenapa, Jeno merasa seperti ada sebuah kabar buruk yang akan dia dengar, sesuatu yang akan mengubah segalanya.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang