Kabar yang sama sekali tidak ingin ia dengar justru datang menghantamnya tanpa ampun. Tepat ketika jaraknya hanya tinggal satu langkah lagi untuk menangkap orang pertama yang paling ia curigai—orang yang selama ini ia yakini berada di balik kasus kematian mendiang istrinya—sebuah kabar buruk menyeruak dan merobek seluruh rencana yang telah ia susun dengan begitu rapi.
Karina kabur.
Perempuan itu berhasil melarikan diri, menyingkir begitu saja, menghancurkan setiap jebakan dan strategi yang telah Jeno persiapkan selama bertahun-tahun. Harapan yang sempat tumbuh, yang sempat berdenyut pelan di dadanya, runtuh dalam sekejap mata. Seolah tak pernah ada. Seolah semua penantian dan pengorbanannya tak berarti apa-apa. Perjalanan untuk menangkap pelaku kejahatan itu memang tidak pernah mudah, dan sekali lagi, takdir memilih untuk menertawakannya.
Jeno tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kepalanya penuh oleh potongan-potongan kejadian yang tak pernah benar-benar menemukan titik terang. Setelah ia memilih menikah kembali, setelah ia membawa Jaemin masuk ke dalam hidup dan menjadikannya istrinya, musibah kembali menimpa. Kecelakaan yang menimpa Jisung terasa seperti pertanda buruk—sebuah pengulangan dari masa lalu. Seolah ada seseorang yang selalu mengamuk dalam bayangan, yang tidak pernah rela melihatnya membangun rumah tangga dengan damai.
Sejak awal, Jeno menargetkan Karina. Perempuan itu tak pernah berhenti mengusik ketenangan hidupnya, bahkan sejak pernikahan pertamanya. Dan Karina memiliki alasan yang kuat—alasan yang cukup untuk menumbuhkan kecurigaan yang mengakar dalam benaknya.
Ia sempat yakin bahwa Karina dan kedua anak itu adalah dalang di balik pelemparan batu yang mencelakai putranya. Namun keyakinan itu mulai retak ketika laporan saksi menyebutkan bahwa pelakunya adalah orang lain. Keraguan perlahan menyusup, menggerogoti kepastian yang selama ini ia pegang erat.
Mark, yang sejak tadi berada di ruangan itu dan setia menunggu Jeno keluar dari lamunannya, akhirnya bersuara.
"Kami sudah berhasil menemukan pelaku yang melempari Jisung dengan batu."
Jeno mengangkat wajahnya.
"Pelakunya seorang lelaki tua, penjual buah di pasar," lanjut Mark dengan nada datar. "Dia mengaku salah sasaran. Katanya, saat itu dia sedang kesal pada anaknya yang mencuri uang darinya. Karena emosinya tidak terkendali, dia malah mencelakai orang lain."
Mark berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Dia sudah meminta maaf. Tapi hukum tetap berlaku. Penangkapan tetap kami lakukan. Saat ini dia sudah berada di kantor polisi."
Setelah menjelaskan semuanya dengan detail, Mark melangkah mendekati Jeno. Nada suaranya berubah, lebih rendah, lebih penuh tekanan.
"Aku curiga dia berbohong, Jen. Saat aku menyelidikinya lebih dalam, ternyata semua utangnya ke rentenir sudah lunas. Tetangganya bahkan bilang, lelaki itu tidak memiliki anak. Kejahatan ini disengaja."
Mark mengusap wajahnya dengan kasar, jelas frustrasi.
"Dan tidak mungkin Karina yang menyuruhnya. Dia tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar seseorang."
Jeno mengangguk pelan. "Aku juga sudah menduganya sejak awal."
Namun pertanyaan lain segera muncul, menyesakkan dada.
"Kalau begitu, siapa orangnya?" tanya Mark. "Kenapa dia rela membayar mahal hanya untuk mencelakai putramu?"
Jeno menggeleng. Ia sendiri tak mengerti. Terlalu banyak orang yang tampaknya mengincar keluarganya, terlalu banyak ancaman yang datang tanpa alasan yang jelas. Ia lelah menebak-nebak.
"Atau mungkin..." suara Jeno terdengar lebih pelan, "...Karina juga bukan pelaku pembunuhan istriku, Mark."
Wajah Mark menegang. "Aku setuju. Tapi aku lebih curiga dia hanya tangan kanan seseorang, Jen."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
