Beautiful Target #15

1.5K 150 12
                                        

Di ruang yang tampak hening itu, Jaemin menunjukkan rasa bersalahnya terhadap Jisung. Heningnya ruangan justru terasa menyesakkan. Dia bahkan tidak bisa menjaga anak itu dengan baik. Saat ini Jisung terluka, dan ia masih terbaring lemah di tempat tidurnya, napasnya pelan, tubuhnya kecil dan rapuh. Jaemin ingin sekali menangis, tapi air matanya seakan tertahan di dadanya.

Di sana ada Renjun yang baru saja mengobati Jisung, dan Jeno—dia hanya menemani Jaemin dalam diam. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Dia mengusap punggung Jaemin berusaha menenangkannya. Sentuhan itu lembut, namun Jaemin sangat tampak terpukul, seolah sentuhan itu tak cukup untuk menahan rasa bersalahnya.

Renjun menghampiri kedua orang tua Jisung.
"Tenanglah, Jaem," ucap Renjun lembut namun tegas.
"Jisung sudah kuobati. Dia sudah mendapatkan beberapa luka jahitan, dan untungnya lukanya tidak terlalu dalam."
Renjun menatap wajah pucat Jaemin.
"Sebentar lagi dia akan siuman. Dia hanya tertidur karena efek biusnya."

Renjun lalu mengarahkan kepalanya ke arah Jeno dan memberikan isyarat pada lelaki itu.
"Lihatlah apa yang terjadi sekarang," suaranya merendah, penuh kegelisahan.
"Kejadian ini disengaja. Ada seseorang yang berusaha melukai Jisung."
"Kau harus mencari tahu siapa pelakunya, Jen."

Nada Renjun terdengar cemas, seolah bayangan masa lalu kembali menghantui. Lelaki itu mungkin takut kejadian buruk akan kembali terjadi seperti dulu.

"Iya, aku tahu," jawab Jeno, rahangnya mengeras.
"Saat ini orang itu bahkan sudah menargetkan putraku."
"Tentu saja aku tidak akan diam."

Dari dulu Renjun sudah tahu, sejak pernikahan Jeno yang pertama, entah kenapa selalu saja ada gangguan yang datang dalam rumah tangga mereka. Ada tangan tak terlihat yang mencoba mengusik kebahagiaan itu, namun hingga kini mereka masih belum tahu siapa orangnya.

"Kau yakin tentang wanita itu?" Renjun bertanya, keraguannya jelas.
"Sebenarnya aku tidak yakin dengan asumsi yang kudengar dari Mark saat di rumah."

Jeno mengangguk untuk meyakinkan Renjun.
"Dari dulu dia sudah cinta buta padaku," ucapnya datar.
"Apalagi yang dia lakukan selain mengganggu rumah tanggaku?"

"Tapi bahaya jika kau sampai membawanya ke sini," Renjun membalas, suaranya meninggi sedikit.
"Lalu membiarkan dia secara terbuka melakukan kejahatannya dengan bebas. Kenapa?"

"Kau akan mengerti nanti," jawab Jeno singkat.
Ia menepuk bahu Renjun, isyarat agar kekasih Mark itu tidak bertanya apa pun lagi.
Renjun hanya bisa mendesah pelan, lalu memilih pulang dari mansion dengan perasaan tak tenang.

Jaemin yang sedari tadi menggenggam tangan Jisung sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan kedua orang itu. Dunianya menyempit, hanya berpusat pada wajah kecil di hadapannya. Dia hanya berharap, hanya berdoa, agar Jisung segera membuka kedua matanya.

Jeno kemudian berjalan mendekat dan menyentuh punggung Jaemin.
"Sudahlah," ucapnya pelan.
"Jisung baik-baik saja. Jangan khawatir."

Tiba-tiba Jaemin beranjak dari duduknya, lalu menghadap ke arah Jeno. Matanya merah, dadanya naik turun.

"Ini semua gara-gara kamu," suaranya bergetar.
"Karena ulah wanita itu, Jisung terluka."
"Apa kau tidak merasa menyesal, Jen?"

Amarah Jaemin pada akhirnya meledak, tumpah tanpa bisa ditahan.

"Anak-anak itu pasti yang telah melukai Jisung," lanjutnya dengan suara meninggi.
"Kau harus menghukumnya sekarang juga!"

Jeno berusaha tidak menanggapi amarah Jaemin. Dia masih bersikap tenang, terlalu tenang.
"Anak-anak itu tidak melakukan apa pun," jawabnya.
"Bukan mereka pelakunya."

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang