Sesuai dengan apa yang sudah dijanjikannya pada minggu lalu, pada akhirnya Jaemin memenuhi undangan itu, datang ke sebuah pertunjukkan teater yang sedang digelar di berbagai kota. Dia tidak boleh melewatkan hal ini. Dengan tiket yang selalu terjual habis, setidaknya saat ini Jaemin mendapatkannya secara gratis dari wanita itu. Tak mungkin dia harus membuang tiketnya dengan cuma-cuma; akan jauh lebih baik jika dia menggunakannya dengan baik. Dan setidaknya, dia harus bersenang-senang terlebih dahulu sebelum esok hari ia harus kembali pergi meninggalkan kota kelahirannya, kembali pulang ke mansion suaminya—tempat yang selalu terasa terlalu sunyi untuk disebut rumah.
Sungguh tak disangka, Ibu dari anak-anak yang ia temui kemarin itu ternyata adalah seorang aktris terkenal. Bahkan tak sedikit Jaemin menemukan foto dari perempuan tersebut yang terpampang jelas pada poster-poster teater yang berjajar rapi di sepanjang jalan, seolah wajah itu selalu mengawasinya dari setiap sudut kota.
Jaemin menggenggam tiket itu erat-erat sebelum kembali memasukkannya ke dalam saku blazernya. Tarikan napas panjang lolos dari bibirnya, lalu ia menoleh dan mengajak Somi untuk segera turun dari mobil.
"Aku bahkan belum pernah melihat pertunjukannya," ucap Jaemin pelan sambil melangkah, "tapi orang-orang membicarakannya seolah ini sesuatu yang wajib ditonton."
Somi berjalan mengikutinya dari belakang, nada suaranya terdengar tenang namun penuh informasi.
"Dari informasi yang kudapat, wanita itu baru saja debut, tuan. Kemampuan aktingnya yang luar biasa membuat namanya cepat dikenal. Orang-orang mengaguminya. Dia menjadi idola kaum muda saat ini."
"Benarkah?" Jaemin ternganga kecil, alisnya terangkat. "Secepat itu?"
"Iya, tuan. Dunia hiburan memang kejam sekaligus murah hati pada orang-orang berbakat."
Langkah Jaemin terhenti sesaat ketika mereka tiba di depan gedung teater yang megah dan bercahaya. Bangunan itu berdiri anggun, dengan lampu-lampu yang menyala seperti bintang yang diturunkan ke bumi.
"Haruskah aku masuk ke dalam sekarang?" ucap Jaemin ragu, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk tamu yang berdatangan.
"Silakan, tuan," jawab Somi sopan. "Saya akan menunggu anda di sini."
Jaemin mengangguk.
"Baiklah, aku pergi."
Jaemin pun berlalu masuk ke dalam gedung itu dan duduk di tempat yang sudah disediakan untuknya. Ia berada di barisan tengah, posisi yang sempurna untuk menikmati keseluruhan panggung. Matanya menyapu ruangan dengan takjub—interior gedung itu terkesan megah, dengan riasan panggung yang disiapkan begitu mempesona, seolah setiap detail dirancang untuk memanjakan mata dan perasaan.
Tiket dari pertunjukan ini sangat mahal. Perlahan Jaemin menyadari bahwa tempat ini hanya dihadiri oleh para bangsawan dan kalangan atas saja. Sekarang Jaemin tahu, tontonan ini memang hanya ditujukan untuk kelas tertentu—kelas yang selama ini selalu melekat padanya, meski sering kali terasa asing.
Jaemin semakin penasaran. Apakah pertunjukan ini akan semengagumkan seperti yang dibayangkannya?
Tak lama setelah itu, lampu tiba-tiba meredup. Percakapan para penonton memudar, digantikan keheningan yang khidmat. Layar merah yang menutupi depan panggung dibuka secara perlahan, dan pertunjukan pun segera dimulai.
Namun apa yang terjadi?
Sepanjang ia menonton pertunjukkannya, sorot pandangan matanya justru tak bisa fokus sepenuhnya ke atas panggung. Aneh—dan bahkan menjengkelkan—karena Jaemin sama sekali tak bisa menikmati pertunjukan tersebut seperti yang orang lain lakukan.
Ia melihat perempuan itu berdiri di atas panggung, menampilkan kemampuan akting yang luar biasa, hidup, dan mengagumkan. Setiap dialog yang diucapkan perempuan itu mengguncang emosi penonton, membuat beberapa orang menitikkan air mata, sementara yang lain terpaku tanpa berkedip.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
