Vote sebelum baca
Comment setelah baca
HAPPY READING!
"Bagus lo ingat apa kata gue, Bang," gumam Ibel setelah menonton habis drama cinta segitiga antara Rafa, Vio, dan Nara.
Sejak drama dimulai ia memang sudah memperhatikan sampai nasi gorengnya rela ia abaikan, semua demi memantau apa yang terjadi. Karena meski ia bilang ingin menjauh dari protagonis, ia tidak bisa abai andaikata ada hal buruk yang terjadi.
Well, dipikir-pikir sejak awal jiwanya masuk ke raga Ibel, saat inilah pertama kalinya ia melihat adegan novel tanpa ikut campur. Murni hanya sebagai penonton, meski 'pengaruh tak langsungnya' tetap ada di sekitar pemeran utama.
Ternyata dunia novel ini masih berjalan sesuai alur ciptaan penulis, hanya saja adegannya yang berubah. Untuk itu ia yakin perubahan yang terjadi karena campur tangannya sebelumnya.
Tapi itu permulaan yang bagus. Setidaknya salah satu tujuannya untuk membuat Nara tidak menerima kekerasan fisik dari sang abang bisa terwujud. Semoga saja apa yang sudah ia rencanakan ke depannya benar-benar bisa merubah alur buruk yang diterima para tokoh.
"Gue bingung sama kisah cinta mereka."
Ibel menoleh. Apa yang diucapkan teman barunya itu cukup untuk membuat Ibel mengalihkan fokus kepadanya.
"Seluruh Bimasakti tau kalau Nara suka sama Rafa, tapi seluruh Bimasakti juga tau kalau perhatian Rafa cuma untuk Vio, dan seluruh Bimasakti sangat tau yang berkemungkinan besar menemui happy ending adalah Rafa dan Vio. Gue pun yakin kalau Nara sadar akan hal itu, tapi kenapa dia tetep ngotot? Jujur gue kasihan sama dia, tapi di satu sisi gue nggak suka sama kelakuannya," ucap Kila menumpahkan segala pemikiran mengenai Rafa, Vio, dan Nara yang selama ini ia pendam.
Memang sampai sebelum dirinya bertemu Ibel, Kila selalu menyimpan rapat pendapatnya akan sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Kila yang tidak punya teman, tak memiliki tempat cerita. Mungkin mamanya yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah, tapi untuk hal random semacam ini ia tidak sampai bercerita pada mamanya.
Tapi sekarang ia memiliki Ibel, meski kedekatan mereka belum genap 24 jam, entah kenapa dalam sekejap Ibel bisa membuatnya percaya. Maka dari itu, ia sangat bersyukur.
Dan sampailah pada titik di mana ia ingin membagi pemikirannya. Di sini, sekarang juga.
"Kelakuannya yang suka bully Kak Vio?" tanya Ibel menanggapi.
Kila mengangguk. "Itu salah satunya. Maksud gue, kenapa harus dengan ngebully orang yang lebih diperhatiin orang yang lo suka? Faedahnya apa coba? Kalau Nara ngotot pengen berjuang, 'kan bisa secara sehat. Meski gue nggak menyarankan itu, you know lah gimana sikap Rafa ke Nara selama ini. Kalau gue jadi Nara, gue akan ngebuang secara paksa perasaan gue ke Rafa, karena logikanya ngapain juga lo mertahanin penyakit di hidup lo?"
Ibel tersenyum mendengar penuturan Kila yang sama dengan pikirannya. Itulah yang ia rasakan setiap kali membaca adegan nekat Nara di novel Kepingan Hati. Tak salah kalau di dunia asli maupun dunia novel banyak yang tidak menyukai sikap Nara.
"Tapi, gue juga gemes sama Vio yang diem aja pas ditindas. Bales kek atau apa, minimal protes kalau dia sebagai manusia nggak pantas diinjak-injak sama manusia lain. Sekarang ngetren-nya cewek strong bukan cewek aduh-aduh doang!"
Oke, Ibel tidak kuat menahan tawanya. Ituloh ekspresi Kila saat menyuarakan pendapatnya sangat lucu. Kadang menggebu-gebu, terus mencebikkan bibir lucu, habis itu melotot garang, dan jangan lupakan smirk sinisnya. Andai ia tidak berteman dengan Kila ia tidak akan bisa melihat semua hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Thread
Fiksi Remaja[Only on Wattpad!] Bereinkarnasi ke tubuh tokoh fiksi? Sepertinya kesialan sekaligus anugerah telah dialami Seyna Amalia. Ia adalah seorang perempuan yang baru memasuki bangku perkuliahan setelah 3 tahun duduk dibangku SMA. Seyna yang saat itu sedan...
