18. Setitik Keraguan

4.5K 531 47
                                        

Vote sebelum baca
Comment setelah baca

HAPPY READING!

"Jauhin tangan lo dari Vio!"

Setelah mereka berhasil membelah kerumunan dan menyaksikan sendiri perbuatan jahat Nara, Rafa langsung maju menghentikan Nara yang mau menyakiti gadisnya. Ia tidak menyangka kepergiannya malah membuat keadaan Vio mengenaskan seperti ini.

Seandainya ia tahu ada Nara di sini, lebih baik tadi ia ajak Vio menemui Ibel.

"Rafa?" Melihat kedatangan Rafa, Nara langsung berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya. Dalam sekejap ia melupakan apa yang telah ia lakukan dan sepenuhnya fokus pada sang pujaan hati.

"Raf, aku udah nungguin kamu. Kenapa sih kamu ajak jalang itu keluar bukannya a--"

Plak!

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tamparan kuat dari Rafa membuatnya terdiam dengan kepala tertoleh ke samping.

"Lo yang jalang!" Setelah menampar dan mengumpati Nara, Rafa langsung jongkok untuk membantu Vio. Keadaan Vio saat ini memang sangat mengenaskan. Pipi yang memerah, sudut bibir sobek, hingga rontokan rambut karena jambakan Nara yang tidak main-main.

Kenapa? Kenapa setiap mereka bertemu Nara, gadisnya selalu berakhir seperti ini? Sungguh Rafa merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Vio seperti yang ia janjikan.

"Kita ke rumah sakit ya." Rafa menggendong Vio ala bridal style. Tidak mungkin ia membiarkan Vio jalan sendiri di keadaan yang seperti itu.

"Vio Vio Vio! Kenapa selalu Vio yang kamu peduliin? Apa kamu nggak pernah lihat aku, Raf? Aku cinta sama kamu! Dari lama aku selalu ngejar kamu, aku selalu merhatiin kamu, dan aku nggak pernah berhenti perjuangin kamu, tapi kenapa malah orang yang nggak pernah berjuang kayak dia yang kamu lirik?" teriak Nara mengungkapkan isi hatinya. Entah sudah ke berapa kali ia mengatakan hal itu ke Rafa.

Rafa menoleh ke arah Nara. Menatap matanya dalam sebelum beberapa detik kemudian memilih pergi meninggalkannya. Namun, baru beberapa langkah ia berhenti.

"Gue harap lo ingat, kalau apapun yang terjadi sama kita di masa lalu, sekali pun gue nggak pernah naruh rasa ke lo. Gue murni anggap lo teman, tapi sekarang lo sendiri yang maksa gue anggap lo musuh. Mulai sekarang jauhin Vio dan orang-orang di sekitar gue, kalau lo nekat, lo nggak akan nyangka apa yang bakalan gue lakuin ke lo, Ra," ucapnya tanpa berbalik.

Setelah itu Rafa benar-benar membawa Vio pergi dari sana. Untuk adiknya, ia yakin cepat atau lambat Ibel akan menyusulnya. Mengingat tadi adiknya datang bersama Nara, mungkin masih ada urusan yang harus mereka selesaikan.

Sejak tadi, setelah ia membantu Kila, Ibel tak pernah melepaskan perhatiannya dari Rafa, Nara, dan Vio. Terlebih Vio, keadaan gadis itu terbilang parah. The real pembully-an yang tidak takut konsekuensi. Dapat Ibel tebak isi pikiran Nara hanya 'yang penting Vio menderita'. Secetek itu tanpa memikirkan akibat dari yang ia lakukan.

Dan jujur saja ia kesal. Sangat kesal pada Nara yang bersikap seperti itu. Bahkan, saat ia melihat abangnya menampar Nara, otak dan hatinya sinkron untuk diam tak menghentikan. Berbeda sekali dengan biasanya yang menentang keras.

Karena yang ia tahu, 'Nara memang pantas mendapatkannya'.

Karena kejadian hari ini pun Ibel jadi memikirkan sesuatu yang lebih dalam dari sebelumnya.

Apa ia salah bersikeras untuk membantu Nara?

Karena terlalu fokus pada Nara, Ibel lupa jika yang menderita tidak hanya sang antagonis. Sang protagonis yang dulu ia sukai ketika membaca novel ini, juga tak luput dari penderitaan karena adanya sang antagonis.

Purple ThreadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang