23. Can I not be myself?

4.6K 514 56
                                        

Vote sebelum baca
Comment setelah baca

HAPPY READING!

Brum!

Brum!

Brum!

Suara deruman motor maupun mobil saling sahut-menyahut di lantai terbawah The King's Workshop. Entah itu kendaraan yang datang atau pergi maupun yang sedang diperbaiki.

Kata 'bising' dan 'ramai' memang paling cocok untuk menggambarkan kondisi bengkel itu setiap harinya. Bengkel yang masuk dalam jajaran bengkel terkenal di ibukota, bahkan pelanggannya ada yang dari luar kota.

"Semua yang ada di depan lo baru aja datang. Tentang kualitas nggak perlu diragukan, gue 'kan pakarnya," ungkap Raka setelah membawa Ibel ke tempat barang-barang yang baru datang pagi ini.

Meski 'tidak paham', tapi dapat Ibel tebak dengan mata telanjang seberapa bagus semua barang di depannya. Bau uang tercium jelas di indra penciumannya.

"Ini bagus, tapi percuma nggak sih kalau dipasang di motor gue? Soalnya sekarang gue suka naik mobil," ujar Ibel cemberut. Ia tidak bohong, sebuah knalpot yang sekarang ia pegang menggugah ketertarikannya.

"Hm, kalau motornya nggak lo pakai ya percuma. Eh, nggak percuma juga sih! Lo lupa kalau sebulan sekali kita selalu ikut sunmori rutin bareng club-club motor ibukota?" Sepertinya Raka mempunyai jalan keluar.

Sunmori? Mendengar hal itu sungguh membuatnya bersemangat. Dulu ia hanya bisa melihat tanpa merasakan. But, sekarang? Agaknya ia diberi kesempatan untuk mengalaminya secara langsung.

"Bener juga! Yaudah gue beli ini, Ka. Nanti motornya biar dianterin orang rumah ke sini buat lo pasangin," putus Ibel tanpa berfikir 2 kali.

Ibel senang, Raka pun tambah senang. Ia panen uang bro.

"Cash or card? " tanyanya seraya membawa Ibel ke tempat kasir.

"Card, nih!" balasnya sambil mengulurkan ATM untuk membayar.

Setelah proses pembayaran yang singkat, akhirnya knalpot tadi resmi menjadi miliknya. Ketika Ibel mulai bertanya-tanya mengenai pelaksanaan sunmori selanjutnya, tiba-tiba kehadiran 4 orang laki-laki membuat ia dan Raka bersikap awas.

"Yo, my friend! " sapa Erlando sambil memulai tos ala teman akrab dengan Raka.

Raka pun tidak dapat menghindar, toh sebenarnya ia tidak memiliki masalah dengan mereka. Eum, kecuali Ael karena setelah Ael menerornya dengan berbagai pesan dan telpon, ia jadi malas berbicara dengannya.

"Ka, mana mesin pesanan gue? Tadi gue dikabari Bang Agra kalau tuh mesin udah datang." Tanpa basa-basi Justin langsung menanyakan apa yang menjadi tujuan utamanya datang ke The King's Workshop.

"Njir, lo emang paling gercep. Ada di tempat khusus pesanan. Gue panggilin Bang Agra dulu biar nganterin lo," ujar Raka siap memanggil Agra.

Tapi--

"Lo aja deh yang nganterin gue lihat mesinnya, ayok!" Justin bertindak cepat dengan menarik Raka paksa menjauh dari tempat mereka sekarang.

Dan kegiatannya diikuti Erlando juga Vega yang paham maksud Justin yang sebenarnya.

"Bye Queen, nanti kita bicara berdua ya," teriak Vega sambil melambaikan tangan.

"Nanti kalau mau kabur terus manjat pagar, inget kalau pakai rok!" sambung Erlando disusul tawa kecilnya mengingat kejadian hari itu.

Namun, belum terlalu jauh dari tempat sebelumnya, Raka memberikan perlawanan.

"Eh, gue nggak bisa ninggalin Ruby! Lo sama Bang Agra aja, Jus," tolak Raka. Namun, Justin tetap menariknya dibantu kedua sahabatnya. "Ruby aman, Ka, lo tenang aja," ujar Justin meyakinkan.

Purple ThreadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang