Setelah semalam Ibel pulang sekitar jam 12, sekarang Ibel sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Jam masih menunjukkan pukul setengah 7, yang artinya ia masih bisa santai dalam bersiap-siap.
Dirasa penampilannya sudah rapi, Ibel pun bergegas ke lantai 1 untuk melaksanakan sarapan bersama keluarganya. Keluarga yang sudah bersamanya selama 3 hari. Singkat, tapi dalam waktu singkat sudah menorehkan memori yang menyenangkan.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Ibel ke sekolah dengan membawa sesuatu. Bukan, bukan barang atau pun hal buruk, melainkan rencana. Bukankah ia sudah bilang bila dirinya sudah menemukan tujuannya? Nah, hari ini adalah permulaannya.
Ia tidak tahu rencananya akan berjalan mulus atau tidak, tapi setidaknya ia sudah berusaha. Dan Ibel selalu mengajarkan pada dirinya untuk tidak menyesal akan sesuatu yang sudah ia putuskan. Maka dari itu apapun hasilnya nanti, Ibel tidak akan menyesalinya.
"Pagi Bunda, Ayah, Abang!" sapa Ibel pada keluarganya.
"Pagi, Dek," balas mereka serempak.
Ibel tersenyum kemudian langsung duduk di kursinya. Dan seperti biasa sang bunda menanyakan ia mau makan apa.
"Adek mau nasi goreng aja, Bun," jawab Ibel kemudian menyeruput susu putih yang tersedia di depannya.
"Makasih, Bunda."
Tak lama kemudian meja makan hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang menandakan mereka memulai memakan makanannya. Setelah beberapa saat, acara sarapan pun selesai.
Sebelum Ibel dan Rafa pamit berangkat, Ayah Adit lebih dulu bertanya kepada Ibel. "Kemarin kamu pulang jam berapa, Dek?"
"Jam 12, Yah. Dan adek pulang dengan selamat." Ibel tersenyum.
Terlihat raut lega di wajah keluarganya. Mereka benar-benar mengkhawatirkannya.
"Ya udah, berangkat gih," ucap Ayah Adit.
Kedua bersaudara itu pun berpamitan. Waktu semakin mepet dan mereka tidak mau terlambat. Karena keberuntungan Ibel kemarin belum tentu akan terjadi lagi hari ini.
"Kami berangkat."
Ibel dan Rafa bergegas menuju garasi untuk mengambil kendaraan masing-masing. "Bareng gue, Dek," ujar Rafa seraya menaiki motor sport hitamnya.
Namun, Ibel menggeleng. "Gue naik mobil sendiri aja, Bang. Lo duluan, nanti gue nyusul di belakang."
Tak bisa menolak meski mau, Rafa pun melajukan motornya lebih dulu. Kemudian disusul mobil sport putih yang kemarin Ibel pergunakan. Kalau dipikir-pikir Ibel belum sedewasa itu sampai diperbolehkan mengendarai kendaraan sendiri, tapi nyatanya di dunia novel ini dari umur 15 tahun sudah diperbolehkan mengendarai kendaraan.
Hm, di dalam novel semua bisa terjadi. Maka dari itu, Ibel sudah tidak terkejut. Yang perlu dilakukan sekarang hanyalah menikmatinya.
•••••
Sesampainya di parkiran Bimasakti, banyak pasang mata yang menatap ke arah kendaraan putra putri Lakeswara. Dua Most Wanted yang selalu saja menarik perhatian. Ketika Rafa melepas helm nya dan Ibel yang turun dari mobil, pekikan memuji para fans masuk dengan lancarnya ke pendengaran mereka.
Sedangkan kedua obyek pekikan tetap memasang wajah datar seperti biasanya. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju kelas, mereka tidak mempedulikan kerumunan sekitar yang tak ada hentinya memberikan pujian. Maklumlah duo kutub.
"Bang, hari ini gue ke kantin sendiri," ucap Ibel di perjalanan menuju kelas.
Rafa menoleh. "Kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Thread
Teen Fiction[Only on Wattpad!] Bereinkarnasi ke tubuh tokoh fiksi? Sepertinya kesialan sekaligus anugerah telah dialami Seyna Amalia. Ia adalah seorang perempuan yang baru memasuki bangku perkuliahan setelah 3 tahun duduk dibangku SMA. Seyna yang saat itu sedan...
