19. Percakapan Antara Abang & Adek I

4.8K 506 7
                                        

Vote sebelum baca
Comment setelah baca

HAPPY READING!

Setelah melalui hari yang panjang dan melelahkan, sekarang Ibel sedang duduk anteng di samping kolam renang mansion Lakeswara. Mengamati air yang tenang yang permukaannya memantulkan rupa bulan yang tengah bersinar terang.

Sudah terhitung 30 menit dirinya berada di sana sendirian. Tak berminat ikut makan malam atau pun berdiam diri di dalam kamar. Yang ia butuhkan sekarang adalah udara segar untuk menjernihkan otak berharganya.

Jujur saja berbagai masalah yang ia alami dari awal berada di dunia novel sampai sekarang, membuatnya speechless. Bagaimana tidak, dulu saat ia masih menjadi Seyna, kehidupannya tidak pernah seribet ini.

Dulu ia hanya seorang remaja yang sibuk menggapai cita-citanya. Fokus pada buku-buku dan segala sesuatu yang bisa semakin mendekatkannya pada cita-cita yang sedari kecil ia impikan.

Menikmati masa muda? Mungkin hanya sebatas hang out beberapa kali dengan sahabatnya. Mengikuti ekstrakurikuler pun, ia memilih yang tak terlalu jauh dari membaca, membaca pelajaran tentunya. Nah, kalau seperti itu apa bisa dikatakan menikmati masa muda?

Tapi, sekalinya ia memutuskan untuk menikmati masa muda di dunia ini, eh sangat di luar ekspektasinya. Tidak ada tuh 24/7 nongki-nongki, tidak ada tuh sesekali dihukum karena bandel, tidak ada tuh senang-senang di tempat liburan, dan tidak ada tuh pikiran tanpa beban duniawi.

Hey, kalau seperti itu bukannya sama saja dengan ia yang dulu? Bedanya cuma, Seyna yang dulu sibuk belajar dan Seyna yang sebagai Ibel sibuk menyelesaikan masalah orang.

Huft!

"Rasanya pengen balik jadi bocil. Definisi terbenar menikmati masa muda ya pas jadi bocil. No masalah, no beban. Hidup damai. Lah sekarang? Please, males banget nyelesaiin masalah. Nggak bisa gitu dengan sekali menjentikkan jari, masalah gue selesai?" ucap Ibel setengah berteriak.

"Kalau semudah itu abang juga mau kali, Dek," celetuk Rafa yang perlahan duduk di sampingnya.

Ibel tersentak. "Eh, abang? Ngapain ke sini? Nggak makan malam?" tanya Ibel sambil menatap laki-laki itu.

Rafa mengernyit. "Dih, nanya makan apa nggak, tapi lo nya nggak mau makan."

Seketika Ibel menyengir lucu. Ya gimana ya, ketika orang banyak pikiran otomatis nafsu makan berkurang. Dan itulah kondisi yang sedang Ibel alami sekarang.

Rafa yang melihat tingkah sang adik hanya menggeleng-gelengkan kepala pelan.

Perubahan Ibel memang membawa dampak baik untuk hubungan keduanya. Dulu rasanya sulit sekali bisa seakrab ini dengan Ibel, tapi sekarang? Rasanya sehari tanpa menjahili Ibel ada yang kurang di hidup Rafa.

Tapi, ia tahu saat ini bukan saatnya ia menjahili Ibel.

"Kenapa nggak mau makan? Kalau males makan di dalam, biar abang minta bibi bawa makanannya ke sini," usulnya.

Ibel menggeleng. "Nanti aja, Bang," balasnya seraya kembali menoleh ke depan.

Merasa mood Ibel sedang tidak dalam kondisi baik, Rafa pun mencoba mengerti. Lalu keheningan hadir menemani mereka.

Yang tidak mereka sadari, di tengah keheningan itu ada 2 manusia yang sedang mengamati Rafa dan Ibel dari balkon lantai 2. Mereka tak lain adalah Ayah Adit dan Bunda Agatha. Ketidakhadiran Ibel di meja makan tadi tentu saja membuat keduanya khawatir.

Apakah sang anak ada masalah?

Apa Ibel dan Rafa sedang bertengkar?

Pikiran-pikiran negatif itu tak mungkin tak muncul di pikiran orang tua yang tengah khawatir seperti mereka.

Purple ThreadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang