Vote sebelum baca
Comment setelah baca
HAPPY READING!
Selepas kepergian Ibel, suasana di antara Kila dan Nara mendadak canggung. Perdebatan yang selalu menemani perjalanan mereka seolah menguap hingga akhirnya mereka saling diam.
Nara yang memilih bermain ponsel dan Kila yang mengamati sekitarnya. Tak ayal juga sesekali Kila memandang ke jalan masuk/keluar untuk melihat apakah Ibel sudah datang atau belum.
Namun, lebih dari itu ada yang berhasil mengalihkan perhatian Kila, yaitu sosok Rafa dan Vio yang terlihat sedang menuju ke restoran ini. Seketika itu juga Kila memandang Nara horor. Bahaya kalau nih orang lihat mereka, batinnya panik.
Tapi ia juga tidak bisa mengajak Nara pergi tanpa menunggu Ibel, apalagi pesanan mereka sedang disiapkan.
Baiklah daripada terlalu banyak berfikir dan berakhir tidak mendapat solusi, ia akan melakukan apa yang ia bisa sekarang.
"Eum, Ra, gue penasaran deh kenapa lo bisa suka sama Rafa sampai sebegitunya?" Inilah yang bisa Kila lakukan, ia akan membuat Nara hanya fokus padanya, sehingga tidak ada waktu untuk dirinya menyadari kehadiran Rafa dan Vio di sini. Untunglah juga posisi Nara membelakangi mereka.
Awalnya Nara tidak minat menjawab, tapi mengingat untuk pertama kalinya ada yang bertanya padanya mengenai hal itu secara pribadi dan tanpa terasa niat menghakimi sedikit pun, membuat Nara memutuskan untuk menanggapinya.
"Karena Rafa satu-satunya orang yang bisa merubah hidup gue," jawab Nara sambil menatap intens Kila.
Kila tertegun sebentar saat menyadari ada kilat obsesi di mata Nara. Parah, ini mah bukan lagi kasus cinta-cintaan anak SMA.
Menelan salivanya susah payah, Kila pun akhirnya bisa mengendalikan diri. Ia jadi semakin penasaran mengenai topik ini, apalagi ada narasumber yang terlibat langsung di depan matanya, mana mungkin ia sia-siakan.
"Kenapa lo bisa mikir gitu padahal yang bisa merubah hidup lo adalah diri lo sendiri?"
Nara mengulum bibirnya sebelum kembali menanggapi. "Itu karena lo nggak tau apa-apa, lo nggak tau gimana hubungan gue sama Rafa sebelum ini, dan lo juga nggak tau bagaimana peran Rafa bisa lebih penting dari peran gue di hidup gue sendiri." Oke, emosi Nara terpancing, padahal Kila tidak berniat sama sekali.
Kila menghela nafas. "Gue emang nggak tau, tapi setelah mendengar perkataan lo barusan gue jadi pengen lebih tau tentang lo, Ra. Gue pengen coba memahami dari sudut pandang lo. Jadi, ayo temenan. Dan dengan Lo jadi temen gue, otomatis Ibel juga jadi temen lo. But, lo jangan pernah manfaatin Ibel untuk kepentingan lo sendiri. Jangan salah pilih jalan kalau lo nggak mau kehilangan semuanya."
Nara terdiam mendengar segala ucapan Kila, atau lebih tepatnya ia tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja perkataan Kila berhasil berdampak padanya, ditambah ajakan pertemanan yang terasa asing, tetapi begitu menghangatkan hatinya. Meskipun ia tahu semuanya berawal dari rasa penasaran semata.
Bertubrukan dengan rasa hangat itu, Nara juga merasa takut. Bagaimana jika mereka meninggalkannya setelah mengenalnya lebih jauh?
"Nggak, gue nggak mau temenan sama kalian." Nara memalingkan muka. Meski sering membohongi dirinya sendiri, Nara merasa kebohongan yang satu ini begitu menyakitkan. Padahal ia baru saja akan mendapat teman.
Namun, bila Nara merasa orang paling keras kepala di muka bumi hanyalah dirinya, maka ia salah. Sebab, ada juga sosok Kila yang sangat keras kepala bila menyangkut sesuatu yang menurutnya penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Thread
Fiksi Remaja[Only on Wattpad!] Bereinkarnasi ke tubuh tokoh fiksi? Sepertinya kesialan sekaligus anugerah telah dialami Seyna Amalia. Ia adalah seorang perempuan yang baru memasuki bangku perkuliahan setelah 3 tahun duduk dibangku SMA. Seyna yang saat itu sedan...
