"Pokoknya lo harus dukung gue, teriak yang kenceng kalo perlu." Bastian memberi perintah pada Nara saat mereka sudah sampai di lapangan basket yang berada di kampus ini."Awas aja kalo kalah, jangan sampe lo malu-maluin gue!"
"Seorang Bastian gak bakal kalah, pokoknya kalo gue menang traktir gue seminggu."
"Kalo lo kalah, gak usah maen-maen lagi ke rumah gue."
"Dih, gak! Gak ada, apaan kaya gitu." Bastian protes mendengar taruhan Nara, bagaimana tidak, sejak kecil dan selama mereka hidup bertetangga, hampir setiap hari Bastian selalu datang ke rumah Nara hanya untuk sekedar nongkrong atau numpang makan. Bagi Bastian, rumah Nara adalah rumahnya. Jadi tidak bisa jika sampai dia tidak boleh lagi main ke rumah gadis itu.
"Makanya jangan kalah dong!"
"Iya, gue buktiin gue bakal menang."
"Bas!" teriakan seseorang dari sebrang lapangan memanggil Bastian untuk menghampiri mereka karena sebentar lagi pertandingan akan segera dimulai.
"Gue ke sana dulu, lo duduk anteng aja di sini, jangan sampe ilang." Setelah mengatakan itu, Bastian langsung berlari melewati lapangan dan ikut bergabung bersama tim basket yang akan tanding hari ini.
Memang tidak akan ada piala atau sekedar penghargaan untuk tim yang akan menang nanti, mengingat ini adalah demo eskul yang ingin para pemain basket tunjukan pada mahasiswa baru. Tapi semangat dari semua maba yang hadir benar-benar meramaikan suasana kampus.
Nara duduk di barisan paling depan, sengaja agar dia bisa melihat dengan jelas sahabatnya yang akan bermain.
Setelah beberapa menit menunggu, perintah dari wasit pun meminta kedua tim untuk segera memasuki lapangan dan saat itu pula sorakan mulai terdengar menyemangati tim yang mereka dukung masing-masing.
Dengan tim yang beranggotakan lima orang, Nara melihat Bastian yang tentu saja berada satu tim bersama dengan Aksa, ketua UKM Basket yang dia temui pagi tadi.
Saat ini, Nara bisa dengan jelas mendengar banyak dari para mahasiswa baru bahkan para senior memanggil-manggil nama Aksa daripada anggota yang lain. Oleh karena itu, sepertinya sekarang Nara sedikit paham alasan kenapa Aksa memintanya untuk menutup mulut tentang dirinya yang sudah memiliki anak. Tentu saja, reputasi Aksa di kampus tidak akan baik-baik saja jika semua penggemarnya mengetahui hal itu.
Suara peluit terdengar nyaring menandakan pertandingan baru saja dimulai.
Aksa berhasil menyentuh bola yang di lempar oleh wasit, itu artinya tim mereka yang akan memulai lebih dulu.
Semua anggota di lapangan berlarian memperebutkan bola. Sangat terlihat bagaimana Aksa mendominasi saat dia berhasil menggocek lawannya dan bermain lincah mengoper dan menggiring sampai hanya dalam waktu tiga menit pertama, Aksa berhasil memasukan bola ke dalam ring yang seketika itu langsung mendapat sorakan riuh para penonton.
Tidak terkecuali Nara yang juga ikut melompat girang melihat tim Bastian yang mendapat poin pertama.
"Bastiann! Ayo semangat lo pasti bisaa!!" Nara berteriak semangat karena tidak mau kalah dengan teriakan para penonton yang lain. Nara juga tidak peduli walaupun hanya dirinya saja yang menyebut nama Bastian sementara yang lain menyebut nama Aksa.
"Bastian! Bastian! Wwooooo!" Sepertinya teriakan Nara berhasil dinotice oleh Bastian, terbukti pria itu yang menatap ke arahnya dengan senyum dan acungan jempol.
Bastian sendiri tidak mau kalah terlihat keren. Kini gilirannya menunjukkan skill basket yang dia pelajari sejak masa sekolah dulu. Bastian mendapat operan bagus dari teman satu timnya lalu mendribrling bola dengan sangat lincah sampai mendekati ring lawan.

KAMU SEDANG MEMBACA
[PAPA MUDA]
Teen Fiction[NO PLAGIAT!] "Tante mau gak jadi mamanya, Ara? Papa Ara ganteng kok." "Eh? Ini anak siapa anjir? Tiba-tiba minta gue jadi emaknya?" ×× [[‼️Mengandung Kata-Kata Kasar‼️]] Start : 28 Juni 2022