"Kalo gue minta lo jangan pulang gimana?"
Nara sempat terdiam sesaat ketika matanya tak sengaja saling memaku tatap dengan Aksa yang duduk di sampingnya. Detakan dejavu yang pernah dia rasakan sebelumnya kembali hadir mengiring keheningan yang terjadi antara keduanya di sore menjelang malam ini.
Sampai ketika dia sadar akan detakannya yang semakin menjadi, Nara langsung membuang pandangannya ke depan berusaha menetralisir perasaan aneh yang menjalar di hatinya.
"Gue tau gue ngerepotin, tapi bisa gak, Ra, malem ini lo nginep?"
Nara kembali menatap Aksa, detakannya memang tidak berhenti, tapi dia berusaha mengendalikan agar tidak terlihat gugup di depan pria ini. "Kenapa lo mau gue nginep?" tanyanya kemudian.
"Jangan salah paham, gue cuma mau lo jagain Ara doang, kok. Gue baru inget malem ini gue harus kerja, gue gak tenang kalo ninggalin Ara dalam keadaan sakit gini, seenggaknya ada lo yang bisa gue percaya."
"Kan ada Bi Loli." Jawaban Nara sepertinya bukan jawaban yang diharapkan oleh pria itu, buktinya dia tersenyum masam dengan pandangan yang mendadak teralih ke sembarang arah.
"Lo gak mau, ya?" Nara cukup peka dengan perubahan mimik Aksa, dia tertawa hingga kemudian menepuk punggung pria itu.
"Gak usah galau, gue mau kok, gue bakal jagain Ara selama lo kerja."
"Gue gak galau."
"Tapi lo kaya ngambek gitu tadi."
"Gue gak ngambek."
"Yaudah, gue gak jadi nginep."
"Raa." Aksa menatap melas gadis di sampingnya. Apa yang terjadi pada Aksa?
"Bercanda."
"Makasih." Aksa tersenyum setelahnya.
Aksa menghembuskan nafas lega saat dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, tepat saat langit sudah semakin gelap, Aksa menujukan arah pandangnya ke atas, matanya menangkap bintang-bintang yang mulai terlihat bermunculan di langit sana.
Boleh Aksa jujur?
Entah di mulai dari mana, tapi Aksa benar-benar merasa tenang dengan posisi ini. Bukan posisi saat dia menatap bintang, tapi posisi di mana dia berada di samping Nara yang menemaninya menatap manik-manik langit itu sekarang.
Belum ada seminggu dia mengenal sosok Nara, tapi kehadiran gadis itu memberikan satu perasaan aneh yang sudah lama tidak pernah hadir dalam hidupnya.
Aksa tidak akan berterus terang tentang dia yang sudah mulai membuka hatinya tanpa sadar. Tapi adanya Nara, membuat Aksa berani membuka mata tentang perasaannya sendiri.
"Aksa."
Panggilan Nara secara otomatis menarik perhatian Aksa, membuatnya kembali memposisikan diri menatap gadis itu dengan raut tanya.
"Gak jadi."
Nara lagi-lagi memutus pandang terlebih dulu. Aksa sempat mengerutkan keningnya bingung, menyadari ada sesuatu yang hendak Nara katakan, membuatnya penasaran. "Mau ngomong apa, Ra?"
Nara menggeleng pelan dengan senyumnya. "Btw, lo berangkat jam berapa?" Aksa tau Nara mengalihkan pembicaraan, tapi dia tidak mau memaksa gadis itu untuk bercerita.
"Jam 8 gue berangkat."
"Lo kerja setiap hari? Apa gimana?"
"Cuma tiga kali dalam seminggu sih, tiap senin, rabu sama jum'at doang."
"Kerja apa sih? Kok malem?"
"Jujur gak nih?"
"Jujurlah."

KAMU SEDANG MEMBACA
[PAPA MUDA]
Genç Kurgu[NO PLAGIAT!] "Tante mau gak jadi mamanya, Ara? Papa Ara ganteng kok." "Eh? Ini anak siapa anjir? Tiba-tiba minta gue jadi emaknya?" ×× [[‼️Mengandung Kata-Kata Kasar‼️]] Start : 28 Juni 2022