"Eh, Bas, menurut lo, kalo misal ada anak kecil yang minta lo buat jadi orang tuanya gimana?"
Bastian mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Nara, melipat tangan di dada dan menatap penuh curiga ke arah gadis di sebelahnya.
"Kenapa lo nanya gitu? Jangan bilang anaknya Aksa minta lo jadi emaknya?" Nara mengatupkan bibir mendengar tebakan Bastian yang tepat sekali seolah membaca pikirannya.
"Kalo lo diem gini berarti bener 'kan? Wah, gila."
"Gue harus gimana, Bas. Ara tadi sampe nangis-nangis minta gue jadi mamanya dia, terus gue bilang gak bisa 'kan, terus dia langsung masuk ke kamar, anehnya sekarang gue malah ngerasa bersalah."
"Ya, kalo ngerasa bersalah nikah sama Aksa sana."
"Ih, Bastian! Yakali!"
Nara merengut kesal hingga dia dengan sengaja memukul sedikit kencang lengan pria di sampingnya. "Ngeselin! Udah sana pulang, males ngeliat muka lo lagi!" Setelahnya Nara menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bastian yang menatapnya keheranan.
"Salah gue di mana?"
———
Hari ini adalah hari pertama untuk Nara akhirnya resmi menjadi seorang mahasiswi di kampus idamannya di Kota Bandung.Nara berjalan dengan ceria memasuki area kampus, meneliti setiap mahasiswa-mahasiswi lain yang juga terlihat berlalu lalang di berbagai sudut kampus.
"Gak nyangka banget, kayanya baru kemaren deh gue lulus SD."
"Ra? Lo masuk hari ini?" Sebuah pertanyaan muncul dari arah belakang, sontak saja Nara langsung memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang baru saja bertanya.
"Eh, elo, Sa, gue kira siapa. Iya nih, akhirnya gue bisa masuk kuliah." Aksa, iya orang pertama yang menyapa Nara pagi ini adalah Aksa. Pria ini sepertinya baru saja sampai.
"Emang bahu lo udah sembuh, Ra?"
"Udah, kok. Cuma ya kadang masih suka ngilu aja sih kalo kebanyakan gerak."
"Syukur deh, jangan lupa minum obatnya sampe bener-bener sembuh, ya."
Nara tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sa, perhatian banget, sih. Oh, iya btw, Ara gimana?"
"Gimana apanya?" Aksa mengerutkan kening.
"Anak lo gapapa 'kan?"
Aksa menatap Nara dengan tatapan yang Nara tidak mengerti. Pria itu terlihat memikirkan sesuatu di kepalanya, sampai Aksa menjawab. "Gue mau nanya sesuatu, Ra."
Kini giliran Nara yang mengerutkan keningnya menatap Aksa dengan sorot bertanya. "Nanya apa?"
Aksa sempat terdiam sejenak sampai dia melanjutkan pertanyaannya. "Kalo boleh tau, waktu kemaren Ara di rumah lo, ada kejadian apa aja?" Ah, Nara sudah menduga ini sebelumnya, tentu saja Aksa pasti akan menanyakan hal ini, dan Nara yakin, gadis kecil itu pasti tengah merajuk karena kejadian kemarin sampai akhirnya Aksa sendiri yang bertanya langsung padanya sekarang.
"Ara pasti ngambek ya, Sa?"
"Kok lo tau?"
"Sorry banget nih, tapi kayanya gue gak bisa jawab sekarang deh, Sa. Kelas gue bentar lagi mulai, lo tau sendiri gue masih maba, gue gak mau sampe telat masuk di hari pertama gue kuliah." Aksa menghembuskan nafasnya sedikit kecewa karena sesungguhnya dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi kemarin, sampai putrinya di rumah merajuk sampai tak mau makan.
"Oke deh, gapapa. Kita lanjut kalo kelas lo udah selesai aja gimana?"
"Boleh, nanti gue kabarin lagi, kalo gitu gue duluan ya, Sa." Nara pun pamit pergi, meninggalkan Aksa yang berdiri di tempatnya dengan rasa penasaran yang memenuhi isi kepalanya sejak semalam.

KAMU SEDANG MEMBACA
[PAPA MUDA]
Teen Fiction[NO PLAGIAT!] "Tante mau gak jadi mamanya, Ara? Papa Ara ganteng kok." "Eh? Ini anak siapa anjir? Tiba-tiba minta gue jadi emaknya?" ×× [[‼️Mengandung Kata-Kata Kasar‼️]] Start : 28 Juni 2022