Part.19 (Jalan-jalan)

621 83 1
                                    


Nara baru saja bangun dari tidurnya tepat pada pukul delapan pagi. Dia sengaja bangun sedikit siang karena hari ini adalah hari libur.

Nara menuruni tangga untuk mencari keberadaan eyangnya sambil sesekali menguap dan mengusak rambut. Tanpa menyadari keberadaan seseorang di bawah yang sejak tadi hanya berfokus pada ponselnya kini mulai memperhatikan Nara yang berjalan turun.

"Eyanggg." Nara memanggil Sang Eyang yang tidak tau ada di mana. Sampai saat dia hendak masuk ke dapur, lebih dulu Nara dikejutkan dengan kemunculuan gadis kecil dari dalam sana.

"Mamaaa." Nara sontak mengerutkan keningnya kebingungan. Bagaimana bisa Ara ada di rumahnya.

"Loh? Ara kok bisa di sini?" Nara dengan muka bantalnya yang polos bertanya pada gadis kecil itu. Namun bukannya menjawab, Ara malah tertawa melihat keadaan Nara sekarang.

"Mama lucu, rambutnya acak-acakan." Ara cekikikan dengan gerakan menutup mulutnya. Sontak saja Nara merapihkan rambutnya yang katanya berantakan itu. Menyisir dengan jari-jarinya agar terlihat lebih rapih.

"Mama baru bangun juga cantik kok." Dan kemudian Nara tersenyum mengacak pelan rambut Ara.

"Ara belum jawab mama, Ara kok bisa di sini?" Kini Nara berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.

"Kata papa, hari ini Mama sama Papa mau ngasih Ara kejutan." Nara lagi-lagi mengerutkan keningnya. Kejutan?

"Kejutan apa?"

Ara menggeleng pelan, lalu menunjuk ke arah belakang Nara sambil berseru pada seseorang yang tengah duduk di sofa. "Papa, mama nanya kejutannya apa?"

Mendengar Ara menyebut kata Papa, membuat Nara secara reflek menengok ke belakang, dan benar saja, ada Aksa di sana tengah duduk tersenyum memperhatikan mereka sedari tadi.

Nara dengan cepat kembali menghadap depan, menutup wajahnya malu karena Aksa melihatnya dalam keadaan bangun tidur seperti ini. Kenapa dia tidak sadar kalau ada pria itu juga di sana.

"Mama kenapa?" Ara terlihat bingung melihat tingkah Nara yang salah tingkah.

"Ara kenapa gak bilang kalo ada papa." Nara sedikit berbisik pada gadis kecil di depannya agar Aksa tidak mendengar. Sementara Ara menggaruk kepalanya karena tidak mengerti. Sampai suara langkah di belakang Nara membuat gadis itu malah semakin menutup wajahnya.

"Ngapain, Ra?" Nara mengintip dari sela jari, melihat Aksa yang yang tengah membungkukkan badan menatapnya, Nara langsung mengalih ke kanan untuk menghindari tatapan pria itu.

Aksa terkekeh pelan, menyadari gadis yang tengah berjongkok ini ternyata tengah menyembunyikan bare facenya. Nara pasti malu, padahal Aksa sudah melihatnya tadi saat gadis itu turun dari tangga.

"Naaraa?" Aksa memanggil Nara dengan nada seperti teman yang sedang memanggil temannya yang lain, dengan sengaja dia menarik kedua tangan Nara yang menutupi wajahnya, dan saat berhasil, gadis itu malah menunduk membenamkan wajahnya ke dalam lutut.

Aksa semakin tertawa, kemudian dia meneggakan tubuhnya sambil menarik kedua tangan Nara untuk berdiri. "Kenapa ditutup, sih?"

Nara menggelengkan kepalanya kuat, dia mencoba melepaskan tangannya yang Aksa genggam lalu kembali menutup wajahnya. Lagi, Aksa kembali tertawa melihat tingkah gadis muda di hadapannya yang malu-malu.

"Cantik tau, kenapa di tutup coba?" Aksa berusaha kembali meraih tangan Nara agar dia bisa melihat wajah gadis itu.

"Gak mauu, gue lagi jelek ihh."

"Cantik, Ra."

"Gak mauu, maluu."

"Sama Ara gak malu tuh."

[PAPA MUDA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang