[Hiatus sementara]
[Belum di revisi, masih banyak typo]
~~~
"Cattie suka kakak!"
"trus?"
"Cattie mau kakak jadi suami Cattie!"
"lo tau suami itu apa?"
"emm... engga sih. Tapi Cattie tau suami itu kaya Daddy dan Papa."
"tapi gue bukan daddy atau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
o0o
Satu bulan berlalu, dan saat ini Catreena sudah siap dengan seragam sekolah nya. Karin tersenyum kala melihat keantusiasan putrinya masuk sekolah, gadis itu tak berhenti tersenyum sejak tadi.
"Adek happy banget nih.."
"Iya, Mommy. Cattie senang bisa masuk sekolah lagi!" Seru nya. Karin terkekeh, tangannya masih sibuk mengikat rambut Catreena.
"Selesai!" Ucap Karin ketika akhirnya ia selesai merapikan rambut putrinya.
"Mommy, Cattie sudah cantik atau belum?"
"Sudah, sayang. Putri Mommy akan selalu cantik."
"Kalau begitu, Kakak Tampan pasti akan suka Cattie kan, Mommy?"
Pertanyaan Catreena sontak membuat Karin terkejut. Kakak Tampan? Berarti Reylond putra dari klien nya Sarah kan? Apakah ia tak salah dengar? Namun, sekejap kemudian ia tertawa, membayangkan reaksi ke-enam laki-laki Delond kalau saja mereka mendengar perkataan Catreena barusan.
Catreena dan Karin turun bersama menuju ruang makan, disana sudah terdapat Leon dan ke-lima putranya.
"Selamat pagi Daddy, Abang!"
"Selamat pagi, Princess!"
"Look, who the beautiful girl with a uniform now," celetuk Alvero membuat Catreena tersipu.
"Hahaha, ready for school, baby?"
"Yes, Daddy!!"
Mereka tertawa melihat seberapa menggemaskan dan antusias nya gadis itu sekarang. Mereka melanjutkan sarapan yang sempat tertunda. Selesai sarapan, Catreena berangkat bersama dengan Airlangga menaiki mobil sport milik nya.
••••
Sesampainya di sekolah, Catreena ditemani dengan abang Airlangga nya berjalan menuju kelas Catreena, X IPA 2. Catreena memang tidak mengikuti MOS dikarenakan Karin dan juga Leon melarang.
Biasanya para kakak OSIS akan mengerjai atau menjahili adik-adik baru mereka, karena itu Karin takut terjadi sesuatu pada Catreena, meski mereka tau kalau Airlangga pasti akan memantau dan selalu menjaga gadis itu.
"Masuk dek, baik-baik sama teman ya. Nanti istirahat abang jemput, jangan pergi duluan, okey?"
"Okey." Catreena memasuki kelas disambut dengan tatapan penasaran teman sekelas nya. Tentu saja karena badan gadis itu yang mungil seperti anak SD kelas 6.
Catreena duduk di pojok kiri bagian depan kelas, karena seluruh bangku sudah terisi dan hanya sisa bangku itu saja yang belum terisi. Di sebelah nya terdapat gadis berambut sebahu yang juga sedari tadi menatap Catreena dengan intens.
"Halo!" Sapa nya. Catreena tersentak sedikit, dengan ragu ia menjawab, "Halo," cicitnya.
"Gausah takut, gue ga makan orang. Nama gue Raya, nama lo?"