23. STILL THE SAME

10 3 13
                                        

Sesuatu yang kita harapkan, jangan pernah henti untuk kita doakan.
~Akmal Sholehuddin

DD

Setelah melewati hal-hal yang mengakakkan mulut. Alda berjalan menuju tempat parkir, dengan membawa tas Giska, dan Rere yang membawa tas Andrina. Kedua gadis itu masih tidak masuk kedalam kelas, ntah ada apa dengan mereka? Mereka pasti menyesal karena melewati momen di mana Jode hampir kencing di celana akibat ingin menemui pak Yusuf, sesuai apa yang pak Yusuf katakan sebelumnya.

Sampai saat ini, Rere dan Alda tak henti-hentinya tertawa mengingat Jode yang menarik tangan Leo, agar mau menemaninya. Sungguh, hari ini begitu membuat pipi mereka sakit akibat banyak tertawa.

"Itu mereka, Re. Udah siap pulang," sahut Alda ketika melihat kedua gadis yang nyender pada mobil Alda.

Ketika sampai di hadapan Giska dan Andrina yang terlihat penat. Dengan tega, Rere melempar tas Andrina yang begitu berat pada tubuh pemiliknya. Namun, dengan sisa tenaga, Andrina masih tangkas untuk mengambil tas merah mudanya itu.

"Itu tas, isi buku apa batu, sih?! Berat banget!" dumel Rere dengan memijat lengannya menggunakan tangan satunya.

"Rere gak ikhlas?" tanya Andrina laun.

"Ikhlas," jawab Rere malas.

"Kalian dari mana aja? Kok baru nongol," sambung Alda dengan mengulurkan tas Giska.

"Nanti ceritanya di mobil aja, Al. Gue capek banget," keluh Giska dengan mengambil tas hitamnya lalu diangguki oleh Alda.

Keempat gadis itu masuk kedalam mobil mengkilap milik Alda, dan mobil melaju dengan kecepatan standar.

Di bagian parkiran lain, banyak pasang mata yang tidak suka melihat mobil merah itu keluar dari gerbang sekolah.

"Songong banget tuh anak!" cerca Bela dengan gemuruh.

"Tapi, mobilnya kece parah, Bel," timpal salah satu anggota gang nya.

"Santai girls!! Mereka masih jauh di bawah kita, gak usah buang-buang waktu ngurusin mereka," ungkap Angel dengan pandangan acuh.

"Tapi, lo tahu kan ka—"

"Nanti gue kasih tahu kalian semua kapan tanggal mainnya," ujar Angel dengan memotong ucapan Bela. "Yuk, nongkrong!" alihnya dan berjalan pada mobil miliknya, dengan langkah santai.

Bela hanya bisa menghembuskan nafas, dan ikut kemana ketua gang-nya membawa mereka. Ia tidak mau membantah ucapan Angel, karena dia sangat tahu konsekuensi yang harus dia tanggung jika dia masih terus berbicara.

Dua mobil warna kuning dan biru tua itu melesat keluar dari area parkiran sekolah. Mobil yang dihuni tujuh gadis cantik dan bermodis itu tidak kalah mewah dari mobil Alda atau bahkan berharga jauh lebih besar dari pada milik Alda.

Sedangkan didalam mobil Alda, Andrina tak henti-hentinya mengomel akibat rasa capek membersihkan perpustakaan yang luasnya tidak main-main.

Rere tertawa prik. Ia kira Giska dan Andrina ada urusan penting sehingga di panggil staf perpus. Ternyata hanya di suruh bersih-bersih. Dalam hati, Rere bersyukur karena saat MPLS, dia tidak sok akrab pada ibu Mila yang bertugas di perpus.

ANTARA DIRI DAN DURICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang