20. KAKAK HANDSOME

6 2 11
                                        

Semoga yang terbaik menjadi pendaratan terakhir buat pelukan lo, Al.
~Sahreana Veloka(Rere)

DD


"Tampan!" ujar Alda saat tidak sengaja melihat bayangan seseorang berbadan tegap dari air. Bayangan orang itu beriringan dengan bayangan bulan. Dengan begitu, ia sedang mencari asal munculnya sang bayangan.

Alda berjalan mengikuti bayangan lelaki yang memandang pada langit. Tidak butuh waktu lama, kini dari kejauhan ia sudah melihat tubuh terbalut jaket itu berdiri tidak jauh dari air. "Sangat gagah!"

Terlihat lelaki itu memandang langit dengan guratan khawatir yang begitu jelas dari wajah tampannya.

Alda mendekatkan langkahnya.

"Dimana kamu, dik!" Helaan nafas berat keluar dari mulutnya.

Beberapa saat lalu....

"Kak, kakak cari adik gih," ucap ummi dengan perasaan khawatir.

"Tapi, mi. Nanti kalok ummah marah gimana? Ummah kan gak mau kita ngurusin adik dan papa lagi?" balas Akmal lembut.

"Mbak Kulsum sama kiyai Makruf kan ada di pondok, kak. Mbak Kulsum kesini palingan pas pagi doang. Mendingan kakak cari tahu dimana adik berada? Perasaan ummi gak tenang, kak."

Tanpa banyak membantah. Akmal segera bergerak cepat setelah menyalimi tangan sang ummi.

"Ibu yang tidak pernah kamu khawatirin kini sedang menghawatirkanmu, dik," lanjutnya setelah mengingat wajah khawatir sang ibu.

"Hai, tampan!" seru Alda kencang sehingga membuat Akmal terperanjat kaget dan mengelus dadanya.

"Astaghfirullah!"

Alda bengong dengan ucapan lelaki itu. Suara dan kata-kata itu tidak asing baginya. Dan setelah melihat jelas wajahnya, Alda mengingat siapa lelaki yang kini ia kagetkan. "Lo?!"

Akmal mengubah ekspresi wajah menjadi datar tanpa menoleh atau melirik sedikit pun kearah Alda.

"Eh, gue disini, loh," tunjuk Alda pada batang hidungnya. "Woi, kakak tampan!" serunya kembali karena Akmal tidak sedikitpun menganggapnya ada.

"Jangan kencengngin suara anda!"

"Wih, ngeri," gumam Alda dengan tertawa remeh. Karena, tidak dipandang dan tidak di lirik sama sekali, Alda sedikit berdecak. Dan mengganti posisinya pas di depan Akmal.

Akmal memenjamkan matanya, saat ia tidak sengaja melihat bentuk dada Alda yang terpapang begitu jelas.

"Kenapa merem, kak?" pekik Alda heran. "Emang gue kayak Kunti? Sampek merem takut gitu!"

"Anda bisa minggir. Jangan ganggu saya, ti!"

Alda mendekap dadanya dengan bibir monyong. "Tuh, kan. Gue bukan Kunti, kak. Jangan panggil gue Kunti."

Karena gadis cantik itu tidak menghindar dan terus mengoceh. Akmal sendiri yang berubah posisi dengan menatap pohon kelapa yang menjulang tinggi.

Lelaki itu tidak merespon seakan sungguh tidak menganggap Alda ada dan juga tidak mau menatapnya seakan dia memang mirip Kunti. "Ih, kakak kok cuek, sih. Gue kan cantik dan bukan Kunti."

ANTARA DIRI DAN DURICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang