"It's not the chaos that scares me — it's how calm it feels around the wrong person."
***
Langit sore masih cerah, cahaya matahari masuk lembut dari jendela ruang tamu Fahri. Udara hangat tapi tenang, bikin suasana rumah terasa santai.
Fahri menutup laptop ketika bel pintu rumahnya berbunyi.
Begitu dibuka, Milea berdiri dengan ekspresi lelah tapi tetap senyum.
"Lo sibuk?" tanyanya pelan.
Fahri sempet bengong, tapi akhirnya geleng. "Enggak. Tapi... lo kenapa ke sini lagi?"
Milea nyengir kecil, setengah kikuk. "Gak apa-apa, pengen ngopi aja. Rumah lo paling deket."
Alasan yang terlalu enteng buat nyamperin cowok yang bukan pacarnya. Tapi Fahri gak komentar. Dia cuma geser tubuhnya, ngasih jalan. "Masuk aja."
"Lo jangan bilang abis berantem lagi sama Nichole."
Milea nyengir kecut. "Gak berantem kok. Cuma... capek aja."
Milea langsung duduk di sofa kayak rumah sendiri. "Gue gak ganggu, kan?"
"Enggak. Tapi lo gak takut Nichole tau?" tanya Fahri, nada suaranya tenang tapi matanya serius.
Milea diam sebentar, terus nyengir lagi. "Dia lagi sibuk."
Fahri cuma bisa menghela napas, lalu jalan ke dapur buat nyeduh dua cangkir kopi. Saat dia balik, Milea udah rebahan di sofa, main HP, kelihatan terlalu santai buat seseorang yang baru baikan sama pacarnya dua hari lalu.
Beberapa menit hening. TV nyala tanpa volume. Cuma suara sendok ngaduk kopi dan langkah sepatu yang sesekali terdengar dari luar.
"Lo makin sering ke sini," kata Fahri akhirnya.
Milea melirik. "Mungkin gue nyaman aja."
"Lo punya pacar, Le."
"Gue tau," jawab Milea cepat, "tapi lo gak denger kan gue minta lo jadi selingkuhan?"
Fahri langsung melirik, tapi Milea cuma nyengir geli. "Becanda."
Fahri geleng pelan. "Lo emang bahaya."
Milea bangkit, mau naruh cangkir ke meja, tapi ujung karpet nyangkut di kakinya.
Refleks, Fahri berdiri mau bantu — tapi justru yang terjadi:
"Woi—"
BRUK!
Milea kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arah Fahri.
Tangan mereka berusaha saling menahan, tapi malah berakhir dengan posisi canggung — Milea di atas, wajah mereka cuma beberapa sentimeter.
Napas mereka saling bersentuhan.
Waktu kayak berhenti.
Milea bisa lihat jelas mata Fahri, tenang tapi gugup; Fahri bisa ngerasain jantungnya sendiri berdetak gila-gilaan.
"Lo... gapapa?" tanya Fahri akhirnya, suaranya pelan tapi berat.
"Hmm... iya, sorry," jawab Milea cepat, masih belum beranjak.
Beberapa detik kemudian baru dia sadar posisi mereka, buru-buru bangkit dan ngerapihin rambutnya.
Fahri ikut berdiri, nyengir kikuk. "Lain kali hati-hati, bahaya banget lo."
"Yah, lo juga sih nangkepnya gak bener," balas Milea pura-pura kesal, pipinya udah merah.
Suasana jadi aneh tapi hangat.
Mereka diam, cuma saling tatap sebentar sebelum Milea akhirnya bilang, "Gue pulang, deh."
Fahri gak nahan. Tapi sebelum Milea keluar, dia sempat menatap lagi, matanya lembut tapi rumit.
"Lo tau gak, Ri?" katanya pelan. "Lo tuh tempat paling tenang yang pernah gue datengin."
Begitu pintu tertutup, Fahri baru sadar: kadang "tenang" bisa lebih berbahaya daripada kekacauan.
Malamnya, kamar Fahri sunyi.
Cahaya dari lampu meja redup, cuma cukup buat nyorot buku dan laptop yang masih kebuka. Tapi fokusnya gak di situ — pikirannya masih muter ke satu hal: Milea.
Udah berapa kali dia ngeluarin napas berat, gak kehitung.
Tangannya otomatis ngusap muka.
"Ya Tuhan, kenapa juga tadi harus jatuh kayak gitu..." gumamnya pelan.
Dia nyoba alihin perhatian, buka YouTube, scroll, tapi gak bisa fokus.
Matanya balik lagi ke bayangan Milea — tatapan itu, jarak sedeket itu, dan jantungnya yang masih kebayang deg-deg-an sampai sekarang.
"Dia pacarnya Nichole, Ri. Jangan bego," katanya sendiri, keras-keras, seolah mau nyadar diri.
Tapi otaknya malah nyaut: Tapi kan dia gak ngapa-ngapain juga, cuma jatoh...
Fahri menatap langit-langit, frustasi.
"Udah, gila. Ini cuma salah paham. Cuma... momen aneh, iya, aneh aja."
Dia berdiri, ngambil jaket, terus keluar kamar.
Udara malam masih hangat, angin lembut nyenggol rambutnya waktu dia naik motor ke arah cafe dekat apartemen Tirta.
[Scene: Cafe – 22.30]
Tirta datang ke cafe sendirian dengan tergesa-gesa, karena waktu sudah malam. Ia tidak mau lama-lama nongkrong diluar
"Tumben malem-malem ngajak ketemu, " kata Tirta sambil duduk di kursi sebelah Fahri
"Pengen cerita aja," jawab Fahri pendek.
Beberapa detik hening sebelum Tirta ngomong lagi, "Tentang siapa?"
"Cewek," jawab Fahri cepat.
Tirta nyengir. "Oalah... udah ketebak. Siapa? Jangan bilang Milea?"
Fahri langsung noleh, ekspresinya kaget.
"Anjir, lo cenayang apa gimana."
"Feeling," jawab Tirta santai. "Dari cara lo ngomong aja udah beda."
Fahri diam lama. Tatapannya ke arah lampu kota.
Akhirnya dia buka suara pelan.
"Lo tau... belakangan ini Milea sering nongol di rumah gue? Awalnya gue kira cuma numpang lewat, katanya pengen cerita. Tapi ujung-ujungnya gak pernah bener-bener cerita, Ta. Cuma duduk, diem, terus tiba-tiba pergi."
Tirta ngangguk kecil, nyimak.
"Gue gak mikir aneh-aneh waktu itu, sumpah. Tapi makin lama... dia makin sering dateng. Kadang bawa makanan, kadang alasan 'lagi capek'. Gue ya nurut aja, kasian juga liat dia kelihatan stress."
Dia berhenti sebentar, ngeremas kaleng kopi di tangannya.
"Tapi tadi siang... gue gak tau kenapa, tiba-tiba dia jatoh. Gue reflek mau nolong, eh malah dia nimpa gue. Lo bayangin aja, jarak segitu deketnya, Ta."
Tirta mulai senyum, tapi gak nyela.
Fahri lanjut, agak gugup. "Dia langsung minta maaf, gue juga canggung. Tapi entah kenapa, dari situ... kepala gue gak bisa tenang. Setiap gue tutup mata, yang kebayang malah tatapan dia waktu itu."
Sunyi beberapa detik. Angin malam nyenggol rambut Fahri.
"Gue gak suka sama dia, Ta. Sumpah enggak," katanya akhirnya, suara lebih pelan. "Cuma... entah kenapa gue gak bisa gak mikirin kejadian tadi. Padahal ya... gak ada apa-apa juga."
Dia menatap Tirta serius, nada suaranya merendah.
"Tapi lo jangan bilang ke Nichole ya, please. Gue gak mau masalah ini jadi makin ribet."
Tirta menatapnya lama sebelum jawab pelan, "Tenang aja. Tapi lo hati-hati, Ri. Kadang sesuatu yang lo anggap 'gak apa-apa' justru yang pelan-pelan bikin lo jatuh."
Fahri gak jawab, cuma menatap kosong ke arah lampu kota yang berkelip.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia gak yakin — apa yang sebenarnya sedang ia lindungi: Nichole... atau dirinya sendiri.
Tirta senyum tipis, gak maksa. "Lo takut suka sama dia?"
"Bukan. Gue takut ngerusak sesuatu yang bukan punya gue."
Kalimat itu jatuh di antara mereka, berat tapi jujur.
Mereka duduk lama tanpa ngomong lagi.
Cuma suara angin, kaleng kosong, dan lampu kota yang masih nyala terang.
Fahri nyandarin kepala ke kursi, matanya menerawang.
"Lucu ya, kadang yang bikin lo paling tenang justru yang paling harus lo jauhin."
Tirta melirik sekilas. "Itu kalimat orang denial, bro."
Fahri ketawa kecil, tapi getir. "Mungkin emang gue denial. Tapi selama gue masih sadar batasnya, itu cukup, kan?"
Tirta mengangkat alis. "Selama lo gak nyebrang. Tapi hati-hati, Ri... kadang bisa aja jalan duluan tanpa izin."
Fahri terdiam.
Entah kenapa kalimat itu ngena banget.
Terima kasih sudah mau membaca, semoga sukaa.
Enjoy!<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
عاطفيةAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
