DH 29 - Batas Yang di Langgar

20 2 0
                                        

[Scene - Sore di Cafe]

Nichole duduk di meja pojok, tangan gemetar, napasnya agak berat. Matanya menatap Milea dengan campuran marah dan sedih.

"Mil... gue capek sama semua ini. Gue udah sabar, tapi gue nggak bisa terus diem. Lo... datang terus ke Tirta, curhat ke cowok lain... ini nggak wajar," suaranya bergetar sedikit, tapi tegas.

Milea mencondongkan badan, senyum tipisnya tajam. "Nichole... lo salah paham. Gue nggak ngapa-ngapain. Gue cuma butuh curhat... dan jujur, gue nyaman sama Tirta. Kenapa itu salah?"

Jantung Nichole berdegup kencang. "Nyaman... sama Tirta? Lo bener-bener gila!"

"Bukan berarti ketika gue sibuk dan kita lagi berantem, lo bisa cari kenyamanan di orang lain, Mil." Lanjutnya sambil menahan sesak di dada.

Tepat saat itu, Tirta datang, santai tapi langkahnya pasti. Ia duduk di samping Nichole, menatap Milea dengan pandangan tajam yang menahan amarah.

"Dengerin gue baik-baik, Mil," kata Tirta pelan tapi penuh ketegasan. "Lo harus ngerti batas. Dari dulu lo nyari pelarian ke cowok lain-dulu ke Fahri, sekarang ke gue. Lo pikir Nichole ngga tau semua itu?"

Milea menatap Tirta, matanya menantang. "Tapi gue gak ada apa-apa sama Fahri, Ta. Justru... gue nyaman sama lo. Salah?"

"Salah!" Jawab Tirta cepat.

Tirta menahan napas, matanya menatap tajam. Nada suaranya tetap tenang, tapi setiap kata tegas menusuk.

"Lo... sinting, Mil... Nichole ini pacar lo. Tapi lo malah kayak gini. Gue ngga tau gimana jalan pikiran lo," katanya.

Nichole menatap Milea dengan mata berkaca-kaca, hati campur aduk antara marah, sedih, dan lega. "Kita cukup sampai disini aja ya, Mil. Cari kebahagiaan lo di cowo lain."

Milea menatap keduanya bergantian, napasnya tersengal, matanya mulai memerah. "Lo pikir selama ini gue gimana, Nic? Tiap kali gue liat Tirta... gue ngerasa tenang. Gue ngerasa diperhatiin. Sesuatu yang udah lama gue nggak dapet dari lo," suaranya bergetar, tapi pandangannya tetap tajam.

Tirta menggeleng, suaranya dingin dan mantap. "Jangan bawa-bawa gue buat pembenaran lo. Gue nggak pernah nganggap lo lebih dari sekedar temen yang peduli. Tapi malah lo yang nyebrang batas, Mil."

Air mata mulai jatuh di pipi Nichole, tapi kali ini bukan karena kecewa-melainkan karena akhirnya dia bisa melihat semuanya dengan jelas. "Cukup, Mil. Gue nggak mau jadi bagian dari drama lo lagi."

Milea menunduk, bahunya bergetar pelan. "Tapi Tirta..."

Tirta memotong cepat, nadanya tegas. "Udah cukup. Lo sakit, Mil. Jangan pernah hubungin gue lagi. Gue nggak nyaman sama lo, dan satu hal yang perlu lo tau, gue udah punya cewek. Berhenti ngerusak hubungan orang lain. Secara ngga langsung lo udah ngerusak hubungan pertemanan kita semua. Gue, Nichole, dan Fahri."

Hening menguasai ruangan. Milea hanya bisa menatap kosong, sementara Nichole perlahan menarik napas panjang, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Tirta menatap punggung Nichole sesaat, lalu berbalik meninggalkan Milea yang kini terduduk lemas-tersisa hanya penyesalan dan keheningan yang menyesakkan.

Begitu sampai di apartemen, suasana masih berat. Tirta membuka pintu pelan, dan Nichole melangkah masuk tanpa banyak bicara. Raisa yang sedang menginap di kamar Tirta menahan napas saat mendengar suara mereka dari luar-ia tahu ada sesuatu yang serius sedang terjadi.

Tirta duduk di sofa, menunduk sesaat sebelum akhirnya bicara. Suaranya pelan, tapi penuh penyesalan.
"Gue minta maaf, Nic. Gue bener-bener nggak bermaksud bikin Milea nyaman sama gue. Gue cuma... ya, gue kira dia butuh temen buat cerita, bukan malah jadi begini."

Nichole menatapnya, mata masih sembab tapi suaranya tenang. "Gue ngerti, Ta. Gue tau lo nggak salah. Gue cuma... capek. Tapi setidaknya sekarang semuanya udah jelas. Bener kata lo, dia emang bahaya."

Belum sempat Tirta menimpali, terdengar suara ketukan di pintu. Tirta berdiri, membukanya-ternyata Fahri. Wajahnya kelihatan tegang.
"Gue denger lo abis ketemu Milea," katanya cepat. "Gue harus jelasin, Nic. Apa yang dibilang Tirta bener. Dulu gue cuma dengerin dia curhat, tapi nggak ada apa-apa antara gue sama Milea. Sumpah."

Nichole diam, mencoba membaca ketulusan di mata Fahri. Sementara Tirta hanya bersandar di dinding, memijat pelipisnya. Udara di ruangan terasa berat-antara lega, sesal, dan sisa amarah yang belum sepenuhnya hilang.

"Kenapa lo nggak ngomong ke gue sih, Ri? Bukannya kita temen ya?" Tanya nichole.

Fahri menunduk, napasnya berat. "Gue pengen ngomong, Nic... tapi waktu itu Milea ngancem gue buat jangan bilang ke lo. Gue takut lo malah salah paham atau mikir gue ngadu. Gue nggak bermaksud ngerusak hubungan lo."

Nichole menghela napas panjang, menatap Fahri dengan mata lelah. "Tapi lo liat sendiri sekarang hasilnya kan? Semua jadi ribet kayak gini karena lo milih diem."

Fahri terdiam, nggak bisa membantah. Tirta yang dari tadi bersandar akhirnya buka suara, nada suaranya datar tapi tajam.
"Udah, Nic. Nggak ada gunanya nyalahin siapa-siapa sekarang. Yang penting semuanya udah jelas. Gue cuma nggak mau ada drama lagi."

Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara AC yang berdengung pelan. Nichole menatap ke arah jendela, lalu berdiri. "Gue pulang dulu, Ta. Gue butuh waktu buat nenangin diri."

Tirta mengangguk pelan. "Gue anter, ya?"
"Nggak usah," jawab Nichole cepat, suaranya tenang tapi dingin. "Lo istirahat aja. Gue bisa sendiri."

Tirta nggak maksa. Ia cuma menatap punggung Nichole yang perlahan menjauh, membuka pintu dan menghilang di baliknya. Begitu pintu tertutup, Fahri menarik napas panjang.

"Lo yakin dia bakal baik-baik aja?" tanya Fahri pelan.
Tirta menatap kosong ke arah pintu. "Dia kuat. Tapi kali ini, gue rasa... semua orang di antara kita butuh waktu buat bener-bener tenang."

Dari dalam kamar, Raisa duduk di tepi ranjang. Ia menatap pintu yang tertutup rapat, mendengar setiap kata yang keluar. Tangannya menggenggam selimut erat, jantungnya berdebar keras. Ia tahu ini bukan tempatnya untuk ikut campur.









Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang