[Scene: Sekolah Reyhan – Ruang OSIS]
Reyhan menatap layar laptopnya, sibuk menyiapkan rencana kegiatan camping antar sekolah yang akan diselenggarakan satu minggu lagi. Kegiatan ini melibatkan murid-murid dari sekolahnya dan sekolah Tirta, jadi detailnya harus benar-benar matang.
"Olivia, pastikan proposalnya lengkap, ya. Sertakan anggaran, rundown kegiatan, dan daftar peserta dari kedua sekolah," perintah Reyhan kepada sekretarisnya, Olivia, yang dengan sigap mencatat semua arahan.
Olivia mengangguk, "Siap, Rey. Nanti gue kerjakan secepatnya."
Meski fokus pada pekerjaan, pikiran Reyhan sesekali melayang ke kejadian kemarin. Ia masih kesal sendiri memikirkan Fahri—sahabatnya sendiri—yang tiba-tiba muncul di rumah Raisa, dekat dengannya. Hatinya panas, tapi ia tak mau menunjukkannya.
Reyhan berjalan cepat melewati lorong, sibuk memikirkan proposal dan jadwal camping. Tiba-tiba, ia menabrak seseorang.
"Ah—!" Raisa terkejut, dan buku-bukunya terjatuh berhamburan di lantai.
"Reyhan!" panggil Raisa panik sambil membungkuk mengambil buku-bukunya.
Namun, Reyhan hanya menatap singkat, tanpa berkata apa-apa, kemudian menyingkir dan berjalan pergi dengan sikap dingin.
"Eh... kok gitu sih? Kenapa beda banget?" gumam Raisa sambil mengejar langkahnya, mengumpulkan buku-bukunya dengan terburu-buru.
Reyhan tetap diam, fokus pada tujuannya, tidak menoleh sedikit pun. Raisa akhirnya berhenti sejenak, menatap punggung Reyhan yang menjauh, perasaannya campur aduk: bingung, kesal, dan sedikit sedih.
Raisa duduk di bangku taman dekat gerbang sekolah, menunduk sambil memikirkan sikap Reyhan. Hatinya terasa galau. Ia ingin bercerita, tapi kepada siapa? Siapa yang bisa ia percaya untuk menyalurkan semua perasaan ini?
Tiba-tiba, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia teringat seseorang—seseorang yang selalu bisa menjadi tempat curhat, sahabat yang selalu mau mendengarkan tanpa menghakimi.
"Ya... Tirta," gumam Raisa pelan, menatap langit sore. "Mungkin dia satu-satunya yang bisa aku percaya."
Dengan tekad baru, Raisa menarik ponselnya dan mulai mengetik pesan, siap bercerita pada Tirta.
Selesai sekolah, Raisa buru-buru mencoba menghubungi Tirta. Ia mengetik pesan dan menunggu balasan, tapi hingga beberapa menit berlalu, layar ponselnya tetap kosong. Hati Raisa sedikit cemas, tapi tekadnya untuk curhat tetap kuat.
"Ah udahlah... gue ke sekolahnya aja," gumam Raisa pelan, lalu bergegas menuju sekolah Tirta. Ia menunggu di parkiran, duduk sambil menatap orang-orang yang lalu-lalang, sedikit gugup tapi tetap sabar.
Beberapa menit kemudian, Tirta keluar dari kelas, masih membawa tasnya dan tampak kelelahan. Tiba-tiba, pundaknya ditepuk seseorang.
"Hah... Raisa?!" Tirta kaget setengah melompat, tak percaya ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menatap Raisa dengan bingung.
"Kenapa lo di sini?" tanya Tirta, masih setengah terkejut.
Raisa menarik napas, menenangkan diri. "Gue udah hubungin lo tapi gak dibales. Gue... pengen curhat, Ta."
Tirta terdiam sejenak, menatap wajah Raisa yang terlihat serius. Ia membuka handphone nya dan ternyata benar ada 30 pesan masuk dan 20 missed call dari Raisa.
"Ini dia serius sebutuh ini sama gue?" Gumamnya.
"Kok lo diem sih? lo nggak mau ya nemenin gue?" Tanya Raisa dengan mata puppy eyesnya.
"Tapi lo nggak perlu dateng ke sekolah gue juga, Sa."
"Ya, maaf lagian lo nggak bales-bales chat gue sih." jawab Raisa lemas.
Setelah itu, ia tersenyum tipis dan berkata, "Oke, ikut gue kalau gitu."
Raisa pun mengikuti Tirta dan menaiki motornya, lalu mereka melaju pergi menjauh dari sekolah.
Anak-anak disekolah Tirta saling berbisik melihat kedekatan Tirta dengan seorang perempuan yang sangat asing, karena memang bukan anak dari sekolahnya.
"Itu cewe siapa? kok dia bisa bareng Tirta sih?"
"Loh itu kan Tirta, dia sama siapa ya? Bisa luluh juga tuh si es batu."
"Crush gueeee."
"GILA SIH TUH CEWE BISA-BISANYA PULANG BARENG TIRTA!"
Jangan lupa Vomment,
see u next chapter!:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomanceAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
