DH 23 - Dalam Diam yang Sama

14 2 0
                                        

"Sometimes, silence says everything that words can't."

***

[Scene: Rumah Milea – Sore Hari]

Langit sore menggantung muram. Hujan baru reda, menyisakan titik-titik air di jendela. Milea duduk di ruang tamu, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan chat Nichole — belum ada balasan sejak dua hari lalu.

Tangannya sempat mengetik "Maaf" berkali-kali, tapi selalu dihapus lagi. Ada sesuatu yang menahan, entah gengsi atau takut ditolak.

Tiba-tiba, suara motor berhenti di depan rumah. Milea spontan berdiri, jantungnya berdetak lebih cepat.

Beberapa detik kemudian, suara langkah mendekat. Pintu diketuk pelan.
"Milea..."

Suara itu membuat napasnya tercekat. Nichole berdiri di depan pintu, dengan hoodie hitam yang masih sedikit basah. Tatapannya letih, tapi matanya jujur — dan rindu.

Milea terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka pintu sepenuhnya. "Kok lo di sini?" suaranya lirih.

Nichole mengangkat bahu sedikit, tersenyum tipis. "Kalau gue gak ke sini, lo gak akan mau ketemu gue kan?"

Suasana hening beberapa detik. Hanya suara tetes air dari atap yang jatuh ke tanah.

Milea akhirnya mundur selangkah. "Masuk aja."

Nichole melangkah masuk, menatap sekeliling — ruangan yang sama, tapi sekarang terasa lebih dingin. Milea duduk lagi di sofa, sementara Nichole berdiri di depan, bingung mau mulai dari mana.

"Gue tau lo marah," ucap Nichole akhirnya, pelan.
Milea menatap lurus, nadanya datar. "Gue gak marah. Gue cuma... capek."

Nichole duduk di sampingnya, tapi menjaga jarak. "Gue juga capek, Le. Tapi bukan berarti gue berhenti peduli."

Milea menoleh perlahan, matanya mulai berkaca. "Kalau lo peduli, kenapa semua chat gue cuman dibaca doang?"

Nichole menunduk. "Karena gue takut... kalo gue jawab, kita malah ribut lagi."

Keheningan kembali mengisi ruangan. Ada banyak hal yang pengen diucapin, tapi dua-duanya gak tahu gimana cara mulai.

Akhirnya, Milea yang duluan buka suara, lirih. "Gue sempet nyesel udah ngomong kasar waktu itu. Gue cuma pengen lo ngerti, gue bukan cemburu... gue ngerasa lo gak butuh gue lagi."

Nichole menatapnya lama, lalu menunduk. "Lo salah. Gue butuh lo. Bahkan sekarang pun, gue masih nyari lo tiap hari."

Air mata Milea jatuh tanpa bisa ditahan. "Tapi lo sibuk terus, Nic. Gue ngerasa... makin jauh."

Nichole mengusap wajahnya, nadanya gemetar tapi tulus. "Gue sibuk, iya. Tapi bukan berarti gue berhenti mikirin lo. Gue cuma pengen lo sabar sedikit. Gue gak mau nyakitin lo, tapi malah bikin lo ngerasa sendirian."

Milea menarik napas dalam, menatap lantai. "Kadang... rasa sayang tuh gak cukup, ya?"

Nichole tersenyum getir. "Kadang enggak. Tapi kalau dua-duanya masih mau berjuang, itu udah lebih dari cukup."

Suasana sempat tenang beberapa detik, tapi di baliknya ada sesuatu yang menggantung di antara mereka.

Milea menggigit bibir bawahnya, ada rasa bersalah yang menyesak di dada. Ia teringat hari itu — saat tanpa sengaja datang ke Fahri cuma buat numpang cerita, tapi akhirnya gak bisa ngomong apa-apa. Hanya diam, tapi tatapan Fahri cukup buat bikin hatinya makin bingung.

Sementara di sisi lain, Nichole tahu. Ia gak bodoh. Ia sadar ada sesuatu yang Milea sembunyikan. Tapi kali ini, ia milih buat gak maksa. Bukan karena gak peduli — justru karena takut kalau ditanya, jawabannya bakal nyakitin dua-duanya.

Jadi mereka sama-sama diam.
Sama-sama pura-pura gak ada yang salah.
Padahal hati masing-masing tahu, masih ada hal yang belum selesai.

Keheningan lagi. Tapi kali ini bukan canggung — melainkan lembut. Milea menyandarkan kepala di bahu Nichole pelan, tanpa kata. Nichole gak bergerak, cuma menatap ke depan, lalu menghela napas panjang.

"Jangan pergi lagi, Nic."
"Gue gak akan pergi Le, gue selalu ada disini."


Epilog — Nichole

Udara malam menampar lembut kulitnya saat Nichole melangkah keluar dari rumah Milea. Jalanan sepi, hanya suara motor lewat sesekali dan daun kering yang terseret angin.

Tangannya masih terasa hangat—sisa genggaman Milea tadi sebelum mereka berpisah. Tapi di balik hangat itu, ada dingin yang gak bisa dia jelaskan.

"Lo gak berubah, Le..." gumamnya pelan, nyaris gak terdengar.
Tapi hati kecilnya berbisik sesuatu yang lain.
Atau mungkin lo berubah, cuma gue yang gak nyadar.

Ia mengendarai motornya pelan. Langit di atas penuh dengan bintang.
Entah kenapa, malam ini rasanya sepi banget, padahal barusan mereka berdua udah baikan.

Ada sesuatu di tatapan Milea yang gak bisa dia baca.
Sesuatu yang kayak... disembunyikan.
Dan Nichole tahu, cepat atau lambat, kebenaran itu bakal muncul juga.

Dia menatap layar ponselnya, membuka chat Milea, lalu menulis:

"Lo udah tidur?"
Belum sempat dikirim, ia hapus lagi.

Nichole tersenyum tipis. "Ya udahlah... besok aja."

Dia melangkah lagi.
Tapi entah kenapa, langkahnya terasa berat.

***

Tirta sedang duduk di balkon apartemen, headset nyantol di leher, secangkir kopi hangat di meja kecil. Malam udah hampir jam sepuluh waktu Nichole datang, membuka pintu dengan wajah yang kelihatan capek tapi bukan karena ngantuk — lebih ke kebanyakan mikir.

"Lo belum tidur?" tanya Tirta begitu Nichole nongol di balkon.

"Gak bisa," jawab Nichole singkat, terus duduk di kursi sebelah. "Gue cuma... pengen ngobrol bentar."

Tirta menatapnya sekilas, lalu mengangguk pelan. "Tentang Milea?"

Nichole ngeluarin napas berat, lalu bersandar ke kursi. "Iya. Kayaknya dia lagi ada yang disembunyiin dari gue."

"Disembunyiin gimana maksudnya?"

"Gue gak tau, Ta. Cuma... Tadi pas gue ke rumahnya aja, dia keliatan aneh. Kayak... matanya gak bisa tenang. Ada sesuatu yang dia simpen."

Tirta gak langsung jawab. Dia cuma memutar cangkirnya pelan, dengerin aja.

Nichole melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Gue gak mau suudzon sih, tapi rasanya tuh... gak enak. Lo pernah gak sih, ngerasa kayak orang yang lo sayang nyembunyiin sesuatu, tapi lo gak punya hak buat maksa?"

Tirta menatap langit, lalu bilang pelan, "Pernah. Kadang malah lo udah tau jawabannya, tapi pura-pura gak tau karena lo takut kehilangan."

Nichole terdiam, bibirnya menegang sesaat. "Iya... mungkin itu gue sekarang."

Keheningan menggantung di antara mereka beberapa detik. Hanya suara angin dan lampu-lampu kota di bawah sana yang jadi saksi.

Tirta akhirnya menepuk bahu Nichole pelan. "Lo kasih dia waktu dulu. Kadang orang butuh waktu buat berani jujur, bahkan ke orang yang paling dia percaya."

Nichole cuma mengangguk, tapi matanya masih kosong.
Dalam hati, dia tahu — apa pun yang Milea sembunyikan, itu pasti bukan hal kecil.









Akhirnya Milea baikan ya sama Nichole, tapi kayaknya Nichole curiga ya sama Milea?
Terima kasih sudah membaca cerita ini
Semoga sukaa yaa
Enjoy! Jangan lupa vote dan komennya!<3


Dari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang