"Sometimes, laughter can heal the wounds words cannot reach...
And the simplest moments can mend the heaviest hearts."
Raisa baru saja memasuki rumahnya, tubuhnya masih terasa hangat setelah perjalanan pulang dengan Reyhan. Namun, begitu melangkah ke ruang tamu, ia kaget melihat sosok yang tidak ia sangka ada di sana.
"Fahri? Lo... ngapain di sini?" tanya Raisa setengah kaget, setengah tersenyum.
Fahri berdiri santai, senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Eh, gue cuma pengen ngobrol sama lo, Sa. Udah lama juga kita nggak benar-benar ngobrol."
Raisa menatap Fahri sejenak, lalu tersenyum.
"Oke, yuk ke kamar aja biar nggak diganggu," ujarnya sambil melangkah menuju tangga, Fahri mengikuti di belakang.
Di kamar, Raisa duduk di tepi ranjang, sedangkan Fahri duduk di kursi dekat meja belajar. Mereka mulai berbicara, awalnya canggung, tapi perlahan obrolan mereka mengalir seperti biasa.
"Aku... capek deh, Sa. Capek berantem terus, padahal biasanya kan kita cuma bercanda," ucap Fahri jujur.
Raisa tersenyum, sedikit menepuk tangannya.
"Ya, gue juga kadang capek sama gaya lo. Tapi gue tau, kita berantem itu cuma bercanda aja. Gue ngerti kok."
Fahri menatap Raisa, tatapannya lebih lembut.
"Makanya, gue pengen kita bener-bener temenan baik-baik lagi. No drama, no ribet."
Raisa tertawa kecil.
"Setuju. Temenan baik-baik aja. Tapi jangan sampe lo bikin gue kesal lagi ya."
"Siap, janji." jawab Fahri sambil tersenyum lebar.
Raisa tersenyum sambil mengangguk, hatinya terasa hangat.
"Janji, Fahri. Tapi... jangan lupa, kalo lo bikin gue kesel lagi, gue bakal balas dendam, ya."
Fahri tertawa, mengangkat kedua tangan seolah menyerah.
"Siap, siap... gue bakal hati-hati. Peace treaty, ya?"
Raisa tertawa kecil, menepuk tangan Fahri.
"Peace treaty."
Mereka pun bercanda ringan, tertawa bersama, seolah semua rasa canggung dan salah paham sebelumnya menghilang.
Lalu, Raisa mengambil gitarnya dan mulai memetik chord ringan, sambil bernyanyi pelan. Fahri ikut mendekat, duduk di sampingnya, menatap senyum Raisa. Sesekali ia ikut menyanyi lembut, bahkan ikut menimpali dengan gerakan tangan seolah ikut memainkan gitar bersamanya.
"Aduh, lo nyanyi juga ya... enak banget suaranya," ucap Fahri sambil tersenyum.
Raisa sedikit tersipu, tapi tetap fokus pada gitarnya. "Iya... kadang main gitar sambil nyanyi bikin rileks, kan?"
Mereka terus bernyanyi dan bermain musik bersama. Suasana kamar jadi hangat dan nyaman, dengan tawa ringan sesekali terdengar. Fahri dan Raisa tampak akrab, menikmati momen sederhana tanpa beban.
Sementara itu, Reyhan masih menunggu di balkon rumahnya sendiri, menatap kosong ke arah rumah Raisa. Ia menyadari Raisa tidak ada di balkon seperti biasanya. Perasaan aneh muncul, sedikit cemas.
Pelan-pelan, ia mengintip ke balkon Raisa. Dari jendela kamar yang sedikit terbuka, ia samar-samar melihat Raisa sedang tertawa lepas dengan seseorang... dan orang itu ternyata Fahri.
Hati Reyhan terasa panas. Ia menahan perasaan cemburu yang tiba-tiba menyeruak.
"Kenapa dia bisa ada disana sama Raisa?" gumam Reyhan dalam hati.
"Mereka ngapain berduaan dikamar? Gak beres ini."
Reyhan masih berdiri di balkon rumahnya sendiri, menatap ke arah kamar Raisa dengan hati yang panas. Ia mengamati Raisa dan Fahri yang terlihat begitu dekat, tertawa lepas bersama.
"Kenapa... kenapa gue ngerasa... nggak nyaman liat ini?" gumam Reyhan dalam hati, menahan perasaan cemburu.
Reyhan menarik napas panjang, menenangkan diri. Tanpa membuat keributan, ia memilih berpaling dan pergi, meninggalkan balkon dengan hati yang campur aduk.
Di kamar, tawa Raisa dan Fahri mulai mereda, berganti dengan senyum kecil dan obrolan ringan. Mereka bercerita tentang hal-hal sepele, kenangan masa kecil, hingga mimpi-mimpi kecil yang dulu sempat mereka bahas.
Fahri menatap Raisa dengan tulus.
"Lo tahu nggak, Sa... gue bersyukur kita bisa ngobrol lagi kayak gini."
Raisa tersenyum, hatinya terasa hangat.
"Gue juga, Fahri. Temenan baik-baik itu emang paling nyaman."
Keduanya pun duduk bersama, menikmati momen sederhana itu, tanpa terganggu siapa pun...
Thx buat kalian yg mau baca ceritaku ini, i hope u like it.
Jangan jadi invisible readers ya
Vommentnya ya, tq
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
Storie d'amoreAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
