"Maybe it wasn't just the wind that felt warm that afternoon — maybe it was us."
***
Raisa dan Reyhan masih berdiri di pinggir gerbang, menatap Tirta dan Milea yang pergi bersama. Lalu Raisa menaiki motor Reyhan dan duduk di belakang Reyhan, memeluk pinggangnya perlahan untuk keseimbangan. Motor menderu pelan di jalanan sore yang sepi. Lampu jalan menyala, memantul di helm mereka.
Raisa menepuk lengan Reyhan pelan, "Eh, Rey... liat tuh, Tirta sama Milea. Sejak kapan mereka deket banget ya?"
Reyhan menoleh sebentar ke belakang sambil tersenyum tipis, "Hmm... kayaknya baru-baru ini, Sa. Tapi gue penasaran juga, Milea kayaknya lagi ada masalah sama kak Valeri itu."
Raisa menunduk, menatap jalan di bawah motor, tersenyum tipis. "Gue heran aja... Milea yang biasanya pendiam, sekarang berani banget ngomong sama kak Valeri. Gue jadi mikir... kalo gue, bisa nggak ya sebegitu beraninya?"
Reyhan menatap ke depan, tapi suara motornya cukup pelan untuk percakapan mereka. "Lo? Lo selalu berani, Sa... cuma kadang lo nggak sadar aja."
Raisa tersipu di balik helmnya. "Ah... Rey, lo ini pinter banget bikin gue malu."
Mereka tertawa kecil, suara motor dan angin sore mengiringi percakapan mereka. Aroma tanah basah dan dedaunan menerpa wajah Raisa, membuatnya merasa hangat dan nyaman.
"By the way, Sa... gue seneng bisa pulang bareng lo kayak gini," Reyhan tiba-tiba berkata sambil menatap jalan di depan.
Raisa menoleh, sedikit terkejut, "Iya... gue juga. Rasanya... beda aja gitu. Nyaman."
Beberapa menit kemudian, mereka memasuki jalanan yang lebih sepi, pepohonan di sisi jalan memberi suasana teduh. Reyhan menurunkan kecepatan motornya.
"Lo mau berhenti sebentar, Sa? Gue liat ada taman kecil di sini. Bisa duduk bentar, ngobrol santai gitu," tanya Reyhan.
Raisa tersenyum, "Boleh... gue pengen juga istirahat sebentar."
Mereka memarkir motor di pinggir taman, turun, dan meletakkan helm di setang. Angin sore berhembus lembut, menenangkan suasana. Mereka duduk di bangku taman, bersebelahan tapi tetap santai.
"Lo inget nggak dulu kita pernah... ehm... main bareng waktu kecil?" tanya Reyhan sambil menatap Raisa.
Raisa tersenyum, mengingat masa kecilnya, "Iya... gue inget. Lo sama Fahri suka jahilin gue terus."
"Haha, iya... tapi gue rasa gue nggak bakal ngerjain lo lagi sekarang. Lo udah... beda," jawab Reyhan sambil tersenyum lembut.
Raisa menatapnya, merasa hangat di hati. "Dulu aja gue udah ngerasa nyaman sama lo, Rey... sekarang? Entah kenapa, rasanya lebih... aneh tapi enak."
Reyhan menoleh, menatap Raisa lembut. "Enak gitu ya... gue juga ngerasa sama, Sa. Kayak... pengen selalu bikin lo nyaman."
Mereka tertawa kecil, menikmati sore itu. Tidak ada gangguan, hanya dua orang yang duduk di bangku taman, berbagi momen sederhana tapi berarti sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Setelah duduk sebentar di taman, mereka kembali menaiki motor. Jalanan sepi, angin sore menerpa wajah Raisa. Suara motor yang pelan membuat percakapan mereka terdengar nyaman dan intim.
"Rey..." Raisa memecah keheningan, suaranya lembut. "Kadang gue mikir... gue nggak nyangka bisa senyaman ini pulang bareng lo."
Reyhan menatap jalan di depan tapi suaranya rendah, hampir berbisik, "Gue juga ngerasa sama, Sa... Lo bikin gue pengen lebih perhatian sama lo."
Raisa menunduk di belakangnya, memeluk pinggang Reyhan lebih erat. "Lo serius, Rey?"
"Serius. Gue nggak bilang ini ke orang lain, tapi... gue emang pengen lo nyaman sama gue, Sa. Beneran."
Hening sejenak, hanya suara motor dan angin yang terdengar. Raisa menatap jalan di bawah motor, hatinya berdebar. "Gue... gue nggak nyangka bakal ngerasain ini. Dulu kita cuma temen kecil, sekarang... rasanya beda."
Reyhan tersenyum lembut, menoleh sekilas ke belakang, "Beda... tapi enak, ya? Gue ngerasa kalo kita saling ngerti, walau nggak bilang apa-apa kadang cukup."
Raisa tersenyum tipis, wajahnya memerah di balik helm. "Iya... beda, tapi nyaman. Gue seneng kita bisa gini."
Mereka melintasi jembatan kecil, lampu jalan memantul di sungai di bawahnya. Reyhan menurunkan sedikit kecepatan. "Lo tau, Sa... gue nggak mau ini cuma momen singkat. Gue pengen lebih deket sama lo, pelan-pelan tapi pasti."
Raisa menatapnya dari belakang, hatinya hangat. "Gue juga, Rey... gue pengen pelan-pelan tapi sama-sama ngerti."
Mereka berdua tersenyum, menikmati momen yang sederhana tapi berarti itu. Tidak perlu kata-kata panjang, hanya kehangatan yang mengalir di antara mereka.
Motor kembali melaju, menuju rumah Raisa. Matahari mulai tenggelam, langit berwarna oranye lembut, seakan ikut merayakan momen manis itu.
Sesampainya di depan rumah Raisa, Reyhan menepi, menurunkan motor perlahan.
"Sampe, Sa..." ucapnya.
Raisa menoleh, tersenyum malu. "Makasih, Rey... buat hari ini."
Reyhan menatapnya lembut, "Nggak usah makasih. Gue seneng bisa bareng lo. Sampai besok, ya?"
Raisa mengangguk. "Sampai besok."
Mereka saling tersenyum satu sama lain sebelum Raisa turun dari motor, menutup pagar rumahnya, dan melambaikan tangan ke Reyhan.
Reyhan menyalakan motor kembali, menatap jalan di depan, tapi hatinya ringan. Hari itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih dari sekadar teman... sesuatu yang pelan tapi pasti mulai tumbuh di antara mereka.
Yeay akhirnya, thx buat yg udh mau baca cerita gaje ini!
Jgn lupa Vomment ya?tq!
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomanceAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
