DH 17 - Seutas Kenangan

21 3 0
                                        


"Sometimes, a single name can carry the weight of a thousand memories."

***

[Scene: Tenda – Pagi Hari, Camping]

Raisa terbangun dengan mata setengah terbuka. Cahaya matahari pagi menembus kain tenda, tapi pikirannya masih melayang pada mimpi semalam. Ia mengernyit, mencoba mengingat sesuatu yang samar.

"...Aska..." gumamnya pelan, seolah menyebut nama yang terdengar begitu familiar namun tak bisa ia letakkan wajahnya.

Tubuhnya menegang sedikit, hati berdebar. Siapa Aska? Mengapa namanya terasa begitu hangat dan dekat di hati?

Raisa menatap langit-langit tenda, mencoba merangkai kepingan memori yang samar-samar menempel di pikirannya. Tapi semuanya masih kabur.

Di luar tenda, suara sahabatnya mulai bersiap untuk aktivitas pagi, tapi Raisa tetap diam, membiarkan namanya sendiri bergema di pikirannya — Aska.

Raisa keluar dari tendanya, mata masih setengah mengantuk. Angin pagi menyentuh wajahnya, tapi pikirannya masih melayang pada nama yang terngiang di mimpinya.

Ia menatap sekeliling, melihat teman-temannya mulai beraktivitas: Milea dan Nichole sedang menyiapkan sarapan sederhana, Naomi tertawa bersama Fahri, sementara Reyhan dan Olivia tampak sibuk menata peralatan camping.

Raisa menggenggam pergelangan tangannya sendiri, mencoba menenangkan diri. "Aska... siapa ya Aska?" gumamnya pelan. Ia merasa ada kehangatan yang familiar, tapi wajah atau sosoknya tetap kabur.

Tirta yang sedang menata kursi di dekat api unggun memperhatikan Raisa dari jauh, tapi ia memilih diam, membiarkan Raisa berproses sendiri.

Tak lama, Fahri menghampiri Raisa sambil tersenyum ringan.
"Hei, Raisa... lo kenapa pagi-pagi udah melamun aja? Ngapain termenung sendirian?" tanyanya.

Raisa tersenyum samar, menatap sahabatnya. "Ah... nggak apa-apa, Ri. Cuma inget sesuatu aja."

Fahri mengerutkan dahi, tapi tak memaksa bertanya lebih jauh. Ia hanya menepuk bahu Raisa.
"Kalau lo butuh teman cerita, gue ada di sini, ya. Tapi kalau mau sendiri juga nggak papa."

Raisa mengangguk, merasa sedikit lega. Namun dalam hatinya, satu nama itu terus berulang: Aska.

Di kejauhan, Tirta mengamati suasana sekitar, tetap fokus dengan aktivitasnya sendiri. Ia tidak tahu apa yang sedang terngiang di kepala Raisa, dan membiarkan sahabatnya itu merenung dengan tenang.


[Scene: Area Camping – Sore Hari]

Reyhan berjalan mendekati Raisa yang sedang membereskan tenda, napasnya sedikit berat karena berjalan cepat. Ia menatap Raisa dengan tatapan campur bingung dan khawatir.

"Raisa..." suara Reyhan lembut tapi tegas.

Raisa menoleh sebentar, wajahnya kaku, lalu buru-buru menunduk kembali, fokus ke tali-tali tenda. "Hm?" jawabnya singkat, suaranya kikuk.

Reyhan menghela napas, lalu menahan tangan Raisa yang hendak melanjutkan pekerjaannya. "Lo... selesai camping nanti, kita ketemu, ya? Gue pengen ngomong baik-baik."

Raisa menatapnya singkat, wajahnya datar. "Iya... nanti," jawabnya singkat, nada dingin tapi jelas terlihat kebingungan di matanya.

Reyhan melepaskan tangannya, menatap Raisa yang kembali sibuk membereskan tenda. Hatinya sedikit berat, tapi ia mencoba sabar. Ia tahu Raisa butuh waktu, dan ia harus menghormati itu.

Reyhan berdiri beberapa langkah menjauh, menatap Raisa yang masih sibuk membereskan tenda. Angin sore menyapu rambutnya, tapi matanya tetap fokus pada Raisa. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan perasaan sendiri.

Di dekat tenda lain, Fahri dan Tirta sedang menata perlengkapan. Fahri menoleh sebentar ke arah Reyhan, menyadari tatapan serius sahabatnya.

"Rey... santai aja, bro. Lo nggak bisa maksa dia langsung mau ngobrol, kan?" ujar Fahri sambil tersenyum tipis.

Reyhan mengangguk, tapi wajahnya tetap serius. "Iya... gue ngerti, tapi rasanya berat aja lihat dia kayak gitu. Gue cuma pengen semuanya jelas, normal lagi kayak dulu."

Tirta yang sedang menata peralatan di dekat mereka menatap Reyhan sekilas. "Kadang orang yang kaku atau dingin, sebenernya cuma lagi bingung cara nunjukin perhatian. Lo sabar aja, Han."

Reyhan menatap Tirta, mencoba menerima nasihat itu. "Ya... gue sabar. Tapi... gue juga nggak mau bikin dia salah paham."

Sementara itu, Raisa selesai membereskan tenda, menatap sekeliling dengan wajah lelah dan sedikit bingung. Ia menaruh perlengkapan terakhirnya ke dalam tas, bersiap pulang setelah acara camping selesai.

Raisa menatap tenda-tenda yang sudah rapi, kemudian menunduk, menahan perasaan campur aduk yang tiba-tiba muncul. Ia masih bingung dengan semua yang terjadi—dengan Reyhan, dengan perasaannya sendiri, dan semuanya yang belum jelas.

Dari kejauhan, Reyhan masih menatapnya, lalu perlahan menurunkan pandangannya, mencoba menahan perasaan campur aduk yang muncul.

Reyhan akhirnya menarik napas pelan, menyadari bahwa Raisa butuh waktu sendiri. Ia tidak mendekat, hanya menatap sejenak sebelum berjalan pergi, meninggalkan Raisa dengan pikirannya sendiri.

Raisa tetap diam, menatap ke arah Reyhan yang menjauh, lalu menatap perlengkapan camping di tangannya. Hatinya campur aduk, dan ia merasa bingung harus memulai dari mana ketika semua selesai nanti.





Raisa bingung nih, kira2 apa ya yang mau diobrolin sama Reyhan?
Kira2 kelanjutannya gimana yaa?
Jangn lupa Vote dan comment,
Terimakasih bagi kaliann yang sudah mau membaca ini.
See u next part yaaa!!

Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang