DH 4 - Hati yang Rumit & Perasaan yang Tersembunyi

34 6 2
                                        

"Sometimes, the heart speaks louder than words...
And the smallest moments reveal the deepest secrets"."

***

Keesokan harinya, Raisa dikejutkan oleh suara Milea yang berteriak seolah sedang beradu mulut dengan seseorang. Suaranya terdengar sampai luar, membuat Raisa yang berjalan menuju kelasnya setengah berlari panik.

"Eh maaf ya, Kak! Gue nggak ngegodain Kak Nichole kok, dia aja yang deketin gue!" bentak Milea pada seseorang.

"Lo itu emang bitch, tau nggak! Bitch mana mau ngakuu sih? Gausah so cantik deh lo! Nichole itu punya gue dan lo--" ucapnya setengah menggantung.

"--Cuman mainannya doang!" lanjutnya, sebelum pergi meninggalkan Milea yang masih berdiri kaku.

"F*ck! Lo yang bitch, Valeri," geram Milea.

Raisa terkejut. Milea yang dikenal pemalu ternyata berani menentang kakak kelasnya. Naomi terus mencoba menenangkan Milea. Raisa pun ikut menenangkan sahabatnya dan perlahan menanyakan apa yang terjadi. Milea akhirnya membuka mulut. Ternyata, Milea dan Kak Valeri sedang memperebutkan Nichole.

Valeri adalah wanita hits di sekolah: cantik, tinggi, ramping, dengan pakaian yang ketat dan seksi, membuat popularitasnya semakin meningkat. Ia pernah dekat dengan Nichole, tapi mereka kehilangan kontak sehingga tidak bisa lagi dekat seperti dulu. Makanya ia marah saat tahu ada yang dekat dengan Nichole sekarang.

"Udahlah Mil, nggak usah dipikirin, nggak guna," ujar Raisa tegas.
"Iya tau nih, Kak. Nichole juga sama aja, nggak ngasih kepastian mulu. Gantung mulu!" cibir Naomi.
Milea hanya tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya.

Sementara itu, Reyhan sibuk dengan tanggung jawabnya sebagai Ketua OSIS, mengurus data dan administrasi.

"Hai, Rey. Lagi sibuk banget ya?" tanya Raisa setengah masuk ke ruang OSIS.

Reyhan menatapnya cepat karena suaranya tidak asing lagi.
"Eh, Sa... Emm... gue... ya gitulah hehe," jawab Reyhan setengah gugup.

"Gue ganggu? Kalo gitu gue pergi aja ya, sorry," ujar Raisa sambil berbalik.

Reyhan segera berdiri dan menarik tangan Raisa.
"Jangan, Sa. Lo nggak ganggu kok. Lagian siapa suruh lo pergi sih?" jawabnya sinis.

Seluruh anggota OSIS melirik mereka sebentar, kemudian kembali ke aktivitas masing-masing.
"Ah apaan sih lo. Lagian lo juga lagi sibuk. Ya udah, ma'lum lah Ketua OSIS. Urusin dulu aja," kata Raisa sambil tersenyum.
"Oke, sepulang sekolah kita ketemu di gerbang," sahut Reyhan. Raisa hanya mengangguk.


[Scene: Sekolah Tirta]

Tirta sedang duduk di bangku kelas, menatap papan tulis sambil setengah mencatat. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ia mengangkatnya dan melihat layar penuh notifikasi dari Milea.

Milea Andhira Z:
Tirtaaaa
P
P
P... (spam)

Tirta mengernyit, matanya menatap layar. Ngapain ni anak ngespam gue? Aneh! batinnya.

Dengan cepat, ia mengetik balasan singkat, tetap menunduk supaya guru tak melihat:

Tirta Alaska
Apaa?

Milea langsung membalas lagi:

Milea Andhira Z:
"Taa, gue mau story nih. Tanpa lo jawab gue bakal langsung cerita. Gue tadi di-labrak sama kakak kelas, taa :(( Masa iya gue dibilang bitch? Emang tampang gue kaya bitch ya, Ta?"

Tirta membulatkan matanya, sedikit terganggu tapi juga merasa iba. Padahal ia jarang mendengarkan curhat orang lain, tapi Milea terlihat benar-benar membutuhkan teman.

Tirta masih menatap layar handphonenya, membalas chat Milea dengan cepat.
"Lo dimana? Gue jemput sekarang," ketiknya singkat.

Milea Andhira Z:
Gue masih di sekolah, Ta.

"Oke, tunggu gue kesana, ok?" balas Tirta, lalu buru-buru mengemasi buku-bukunya.


[Scene: Gerbang Sekolah Milea]

Milea berdiri menunggu, Naomi sudah pulang lebih dulu dijemput kakaknya. Raisa ikut menunggu, berdiri di samping Milea.

Tak lama, Tirta muncul dari gerbang sekolah, melangkah cepat menuju Milea. Raisa menatapnya terkejut.
What? Tirta? Sejak kapan Tirta sama Milea? batinnya.

"Yuk, Le, kita cabut," ajak Tirta dingin sambil menggandeng tangan Milea.

Raisa dan Reyhan masih terpaku di tempat.
"Sejak kapan lo sama Milea--" gumam Reyhan pelan.
"Dan sejak kapan lo juga ngegandeng tangan Raisa?" gumam Tirta dalam hati, setengah heran melihat situasi itu.


[Scene: Jalan Raya Bandung – Sepeda Motor Tirta]

Tirta mengendarai motornya dengan tenang, sementara Milea duduk di belakang, memeluk tasnya. Angin sore menerpa wajah mereka, tapi Milea masih terlihat gugup.

"Le... lo mau cerita sekarang aja atau nanti di tempat sepi?" tanya Tirta, matanya fokus ke jalan.

"Sekarang aja, Ta... gue pengen cerita sebelum gue terlalu mikir sendiri," jawab Milea pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara motor.

Tirta mengangguk, "Oke, gue siap dengerin."

Mereka melaju beberapa menit, melewati jalan yang lebih sepi, hingga akhirnya Tirta menepi di sebuah taman kecil di tepi jalan, tempat yang agak sepi dan nyaman untuk berbicara.

Lalu mereka turun dari motor. Tirta meletakkan helmnya di setang motor dan menatap Milea.
"Lo nyaman di sini?" tanyanya.

"Ya, cukup nyaman... lebih tenang dari sekolah," jawab Milea, menatap sekeliling.

Mereka duduk di bangku taman. Milea menarik napas panjang.
"Jadi... tadi di sekolah, Kak Valeri tiba-tiba teriak-teriak sama gue. Dia bilang gue 'bitch'. Gue... gue nggak ngerti kenapa dia begitu, Ta. Emang salah kalau gue deket sama Nichole? Lagipula cowoknya yang deketin, kenapa gue yang dikatain?"

Tirta menunduk, memberi Milea ruang untuk bercerita lebih lanjut.
"Gue ngerti, Le. Kadang orang yang nggak bisa terima situasi bisa bereaksi kayak gitu. Lo nggak salah kok," ucap Tirta dengan tenang.

Milea sedikit tersenyum, merasa lega.
"Thanks, Ta... gue cuma pengen ada yang ngerti gue, gitu."

Tirta menepuk bahu Milea ringan, "Yaudah, gue dengerin lo. Lo mau cerita semua, gue disini buat dengerin."

Milea mulai bercerita panjang lebar, tentang perasaan nggak nyaman yang ia rasain, tentang bagaimana ia ingin punya kepastian dari Nichole, dan kekesalannya pada Kak Valeri. Tirta tetap diam, sesekali memberi respon singkat tapi menenangkan, membuat Milea merasa lebih lega.





Thank you buat yang udah mau baca:)

Yeay! Jangan lupa Vomment ya? Hargain loh karya aku yg masih amatiran ini:(

Dari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang