"Sometimes the heart wants to speak, even when the mind resists."
***
[Scene: Sekolah – Sore Hari, Area Parkir]
Bel pulang sudah berbunyi, siswa-siswi mulai berhamburan keluar. Raisa menenteng tasnya, berjalan perlahan ke arah gerbang sekolah, masih larut dalam pikirannya tentang semalam.
Tiba-tiba, seseorang menyusul dari belakang. "Raisa..."
Ia menoleh, dan melihat Reyhan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya serius tapi ada ketidakpastian di matanya. Raisa menghela napas, mencoba menghindar, tapi langkahnya tak sempat.
"Sa... apa lo mau ngobrol sebentar?" suara Reyhan lembut tapi tegas.
Raisa menunduk sejenak, bibirnya mengeras. "Gue... nggak tau, Han..."
Reyhan menatapnya, napasnya tertahan sedikit. "Gue cuma pengen jelasin kemarin... waktu gue nelpon lo soal ketemu setelah camping. Gue nggak maksain, cuma pengen lo ngerti."
Raisa menatap lurus ke depan, jari-jarinya menggenggam tas. "Gue... masih bingung. Masih banyak yang harus gue pikirin."
Reyhan melangkah lebih dekat, menahan tangan Raisa yang hendak menutup tas. "Gue ngerti... tapi kalau lo mau, kita bisa ngobrol sekarang. Santai aja. Nggak usah buru-buru."
Raisa menatapnya beberapa detik, hatinya campur aduk. Akhirnya, ia menarik napas dalam dan berkata lirih, "Oke... tapi... gue nggak janji bakal ngerti semuanya, Han."
Reyhan tersenyum tipis, setengah lega. "Gue nggak minta itu. Gue cuma pengen lo tahu... gue di sini kalau lo mau dengerin."
Mereka mulai berjalan beriringan, langkah pelan tapi rasa canggung masih terasa. Sementara suara anak-anak sekolah dan sepeda motor mengisi udara sore, Raisa dan Reyhan memulai percakapan yang selama ini tertunda.
"Jadi... kemarin gue nanya soal ketemu setelah camping," Reyhan memulai, suara rendah tapi mantap. "Gue cuma pengen jelasin kenapa gue kayak... menjauh gitu."
Raisa menatap lurus ke depan, bibirnya tipis. "Iya... gue ngerasa bingung aja, Han. Lo tiba-tiba cuek, terus waktu jemput Naomi juga... gue ngerasa... apa salah gue?"
Reyhan menunduk sebentar, menyesuaikan langkah. "Gue nggak pernah maksud buat bikin lo ngerasa salah, Sa. Gue cuma... bingung sendiri. Gue takut salah gerak, bikin lo salah paham lagi."
Raisa menghela napas pelan. "Tapi gue nggak ngerti... kenapa lo harus menjauh? Bukannya lebih baik jujur aja sama gue?"
Reyhan menatapnya, pandangan tulus. "Itu juga yang gue pengen. Tapi gue takut... gue nggak mau semuanya jadi rumit. Gue pengen gue bisa mulai dari awal lagi, pelan-pelan, tanpa bikin lo merasa terpaksa."
Raisa menatapnya beberapa detik, hatinya bergejolak. "Gue... gue nggak tau harus gimana, Han. Gue masih campur aduk sama perasaan gue sendiri."
Reyhan tersenyum tipis, meletakkan tangannya di bahu Raisa sebentar, memberi sedikit kehangatan. "Yaudah, nggak apa-apa. Lo nggak harus langsung ngerti semuanya. Gue di sini aja dulu. Lo bisa santai, nggak usah dipaksa."
Raisa menunduk, menggigit bibirnya, dan akhirnya mengangguk pelan. "Oke... gue bakal coba ngerti. Tapi... gue masih takut salah langkah."
Reyhan menepuk bahunya lembut. "Santai aja, Sa. Kita pelan-pelan. Gue janji, gue nggak akan bikin lo salah paham lagi."
Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Hanya suara daun yang tertiup angin dan langkah kaki mereka di aspal. Raisa merasa sedikit lega, tapi hatinya masih bergetar. Reyhan, di sisi lain, merasa beban di dadanya perlahan berkurang, walau masih ada kekhawatiran kecil tentang bagaimana pertemuan-pertemuan selanjutnya akan berjalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomanceAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
